41. Epilog

7 1 0
                                        

Silakan baca chapter terakhir ini dengan hati, ya?

Kahfi pamit. 🦋✨

****

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Cahaya tetap berusaha menutup kain tersebut. Membiarkan wajah damai Kahfi tak lagi bisa ia pandangi dengan begitu jelas. Ada sesak yang tak bisa ia gambarkan, tapi terasa nyata. Air matanya beberapa kali menitik dengan tatapan yang belum beralih dari wajah itu.

Tubuhnya mulai berbalik, saat mendengar suara Tiara yang sepertinya juga histeris di luar sana. Tatapannya beralih pada pintu yang masih tertutup. Langkahnya terasa begitu berat meninggalkan seseorang di dalam sana.

"Fi, aku kira kita diberi waktu yang lebih lama untuk sama-sama. Aku pikir, meskipun perasaanku nggak berbalas, semua akan baik-baik aja. Kita akan tetap bisa saling menatap meskipun berjauhan."

Sampai di ambang pintu. Tangannya menyentuh knop panjang pintu di depannya. "Tapi sekarang bahagia kita sudah berbeda. Ternyata, Tuhan kasih aku cara melepaskan kamu, sebagai bukti aku mencintai kamu, Fi. Selamat menjemput kebahagiaan itu, Fi."

"Mana anak saya?! Nggak! Saya tau dia belum meninggal! Dia bilang dia mau saya peluk! MANA ANAK SAYA?!"

"Ma, Mama tenang dulu, Ma!"

Cahaya memejamkan netranya sesaat, dengan air mata yang perlahan berjatuhan. Lagi. Harusnya saat ini, Kahfi di sini. Melihat Ibunya begitu sukarela ingin memeluknya.

"NGGAKK! Kahfi maafin Mama, Nak! Maafin Mama."

"Ma, tenang, Ma! Istighfar," Dafi merengkuh tubuh Tiara yang terasa begitu lunglai ke dalam pelukannya.

"Maafin Mama, Nak. Maafin Mama! Jangan tinggalin Mama Kahfi, tolong!" lirihnya tergugu di pelukan Dafi.

Air mata Dafi ikut menitik. Tuhan ternyata tak memberinya waktu lebih lama untuk bersama adik yang belum lama ia ketahui keberadaannya.

"Mama sayang sama kamu, Kahfi."

"Sayang?"

Pertanyaan bernada sarkas itu keluar dari bibir Dean. Cowok itu menatap sinis Tiara yang masih berada di pelukan Dafi.

"Sayang macam apa yang Anda maksud?! Sayang macam apa?!" teriak Dean. Netranya memerah menahan gejolak di dalam dadanya. "Baru sekarang Anda bilang Anda sayang sama Kahfi?! Kemana aja Anda selama ini?! Dia berjuang dia sendirian antara hidup dan mati! ANDA KEMANA?!"

"Cukup Dean!"

Dafi sedikit mendorong Dean agar cowok itu tak berteriak di depan Ibunya yang juga terpukul. "Kenapa? Kenapa baru sekarang? Kenapa saat anak Anda sudah tidak lagi bernafas dan Anda baru mau mengakui dia? Kenapa?" ucapnya lebih pelan.

"Kahfi sakit. Dia sakit, tapi dia bahkan masih begitu memikirkan Anda. Dia tetap berusaha baik-baik saja, disaat seharusnya dia—"

"Dean, tenang." ucap Pak Hidayat.

Dean menggelengkan kepalanya cepat. "Saya nggak bisa tenang, Pak! Dia bilang sama saya untuk nggak lupa bawa bucket buat Ibunya! Dia bilang dia mau sembuh tapi sekarang? Kenapa malah kabar kalau dia—"

Air mata Cahaya kembali jatuh mendengar fakta yang baru ia ketahui dari Dean. "Dean,"

"Gue harus cari orangnya!"

Dean melangkah cepat meninggalkan mereka semua. Sementara Cahaya yang masih merasa butuh jawaban itu, mengejar Dean segera.

"Dean! Dean!"

Dean masih tetap berjalan tanpa sedikitpun mempedulikan teriakan Cahaya di belakang. "Dean! Dean gue mau ngomong! Dean!"

"Dean, tolong! Gue mohon!"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 01 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

RAKITCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang