Sequel of Fallin' All In: AFTER FALLIN'
"After fallin', my time stops, my sun doesn't rises & sets, and my season stops changing."
---
Tak butuh ujung belati atau moncong pistol tertuding baik didepan jantung maupun pelipis untuk membuat seseorang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak ada yang benar-benar tidur malam itu. Api yang membakar Purple Hollow baru berhasil dikendalikan menjelang pagi, menyisakkan abu, asap, dan bau hangus yang menempel di seluruh penjuru Lembah Utara. Sementara dari jendela kamar, Hemi menyaksikan matahari terbit di atas ladang yang kini berubah hitam. Bukti tidak ada lagi hamparan racun yang indah itu sebagai simbol kejayaan keluarga Berlvara. Kini yang tersisa hanyalah kehancuran.
Kendati setelah apa yang sudah terjadi sesuai rencana, Hemi sama sekali tidak merasakan kemenangan. Yang ada hanya lelah. Apalagi melihat kekacauan setelahnya. Belum sempat para pekerja membersihkan puing-puing kebakaran, puluhan mobil hitam sudah memasuki gerbang utama kastel menyambut pagi yang sunyi.
Harry terlihat baru turun dari kamarnya berada, lalu membeku melihat keadaan di luar halaman. Di sana, deretan kendaraan resmi berhenti berurutan. Para petugas federal turun lebih dulu disusul kendaraan kepolisian lalu mobil lain yang membawa penyidik keuangan, pengacara dan orang-orang yang selama bertahun-tahun tidak pernah berhasil menyentuh keluarga Berlvara kini mereka datang bersama surat izin penggeledahan.
Sementara di seluruh dunia, berita tentang Berlvara meledak bagaikan bom. Kebakaran Purple Hollow menjadi pemicu terakhir. Media mulai menggali lebih dalam. Dokumen demi dokumen yang bocor selama beberapa minggu terakhir mulai disusun menjadi satu gambaran besar yang mengerikan. Headline demi headline memenuhi layar.
"BERLVARA HOLDINGS DISELIDIKI FEDERAL DUGAAN PENCUCIAN UANG LINTAS NEGARA."
"JARINGAN DISTRIBUSI ILEGAL TERKAIT PERUSAHAAN CANGKANG."
"INVESTOR BESAR MENARIK SELURUH SAHAM."
"BERLVARA HOLDINGS DIAM-DIAM MERUPAKAN KARTEL NARKOBA."
Di kantor pusat Berlvara Holdings, para direksi mulai mengundurkan diri. Beberapa investor menjual saham mereka dalam jumlah besar, sebab siapa pula yang ingin bertahan ditengah kekacauan. Apalagi nilai perusahaan anjlok untuk pertama kalinya. Telepon pun tidak berhenti berdering. Kali ini bukan orang-orang yang ingin bekerja sama, melainkan mereka yang ingin menyelamatkan diri.
Rumah kediaman Berlvara pun berubah seperti sarang yang sedang runtuh. Para pegawai angkat kaki, dokumen digeledah dan dipindahkan, pengacara sibuk hilir-mudik mencari solusi yang dirasa percuma. Tak lupa para wartawan sudah memenuhi gerbang luar bersama kamera yang siap merekam apa saja. Semuanya mengarah ke satu tempat.
Keluarga yang selama puluhan tahun dianggap tidak tersentuh, kini sedang jatuh di depan seluruh dunia. Namun di tengah kekacauan itu, Greg Berlvara tidak bergerak sama sekali. Pria paruh baya itu masih diam dalam ruang kerjanya. Tidak memberi perintah atau memanggil siapa pun.
Greg hanya duduk sendirian bersama foto lama di atas meja yang baru di perhatikannya. Foto dirinya bersama ketiga putranya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, tidak ada seorang pun yang menunggu perintahnya. Tidak ada yang meminta persetujuannya. Tidak ada yang takut kepadanya. Dan, yang tersisa hanya kesunyian.