Sequel of Fallin' All In: AFTER FALLIN'
"After fallin', my time stops, my sun doesn't rises & sets, and my season stops changing."
---
Tak butuh ujung belati atau moncong pistol tertuding baik didepan jantung maupun pelipis untuk membuat seseorang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi datang terlalu cepat bagi Jungkook. Hal pertama yang ia rasakan ketika sadar bukan sakit di kepala, melainkan sesak yang begitu berat dalam dadanya. Seolah ada seseorang yang menindih seluruh napasnya semalaman penuh. Aroma khas rumah sakit memenuhi indra penciuman. Bunyi detak monitor terdengar samar di telinga. Lalu ingatan itu datang lagi.
Bukan berupa potongan-potongan kabur, melainkan memorinya yang utuh. Jungkook memejamkan mata kuat-kuat ketika seluruh memori menghantam kepalanya tanpa ampun. Senyum seorang gadis saat makan kue di kafe kampus. Suara sarung tinju saling beradu. Hemi yang berteriak membencinya. Hemi yang datang menangis ke apartemennya. Hemi yang berdiri di altar dengan gaun putih sambil menahan amarah.
Napas Jungkook tercekat. Air matanya langsung jatuh lagi sebelum sempat ia tahan. Ia mengingat semuanya. Tentang bagaimana dirinya jatuh cinta kepada Jung Hemi dengan pernuh kesabaran. Tentang bagaimana wanita itu selalu berpura-pura kuat padahal hancur di dalam. Tentang cincin dan janji. Tentang alasan ia terus merasa kehilangan meski bahkan tak tahu siapa yang hilang.
"Hemi...."
Suara Jungkook pecah begitu saja. Tangannya gemetar menutupi wajah sendiri. Bahunya naik turun menahan tangis yang akhirnya pecah tanpa bisa dikendalikan. Kini, Jungkook ingat semuanya. Setiap detail momen itu. Hingga pintu kamar terbuka perlahan dan Jungwoo yang baru kembali dari membeli kopi langsung membeku melihat adiknya menangis sendirian di atas ranjang.
"Jungkook?"Jungkook mendongak perlahan. Sorot matanya berbeda, tidak kosong lagi seperti seseorang yang tengah pencarian panjang. Hal itu membuat Jungwoo langsung menyadari sesuatu. "Kau...."
"Aku ingat dia." Kalimat itu membuat Jungwoo membisu. Suara Jungkook terdengar lirih. "Aku ingat semuanya, Kak."
Napas Jungwoo tertahan. Beberapa detik kamar itu hanya dipenuhi suara tangis tertahan Jungkook sebelum lelaki itu kembali bicara dengan suara gemetar.
"Dia sendirian selama ini...." Kalimat itu terdengar seperti pisau yang mengiris dirinya sendiri. Jungkook menunduk sambil terkekeh kecil penuh putus asa. "Aku bilang akan melindunginya. Tapi nyatanya aku malah melupakannya."
"Jungkook—"
"Aku membuat Hemi menanggung semuanya sendiri."
Kedua tangan Jungkook mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Dadanya terasa sakit ketika mengingat bagaimana Hemi berdiri semalam dengan wajah pucat sambil meminta maaf kepadanya. Padahal seharusnya bukan Hemi yang meminta maaf melainkan dirinya. Jungkook langsung melepaskan kabel monitor di tubuhnya.