Keyla's POV
Aku yang masih setengah kaget , memilih bungkam begitu temanku—Anggi kembali mengobrol akrab dengan si perempuan cantik bernama Vanya.
Iya. Dia cantik. Sangat cantik. Tidak heran dulu Gio bisa berpacaran dengan perempuan ini. Tapi sayangnya perempuan itu terlalu agresif , mengingat kejadian akting-aktingan dulu di supermarket , awal mula kami bertemu.
Ketika melihat tawa renyah perempuan itu , entah kenapa naluri seorang psikologis ku tertarik. Ekspresi wajah yang penuh drama dan sandiwara. Juga sekelebat aura muram dikebeningan matanya yang kini menyipit akibat tawa. Mengernyitkan keningku dalam.
Biasanya ketika aku ingin , aku bisa berubah menjadi seseorang yang jeli. Dan aku lihat itu ....mendadak aku tertegun. Menatapi dia lama , hingga mata yang berpancar kenistaan itu menatapku dengan tatapan bingung.
"Key? Lo kenapa?"
Aku masih memantung begitu ku rasakan pergerakkan yang ada disebelahku , ku lihat wajah Anggi menatapku dengan ekspresi wajah khawatir. "Key? you daydream. Are you alright?"
Aku tersadar , dan membalas tatapan kecemasan Anggi. Sejenak aku merasakan entah dibagian mana ada terasa sakit , tersayat bagai untaian bulu merak setipis kapas menyentuh sesuatu didalam tubuhku.
Melihat ekspresi itu , aku entah kenapa merasa tidak nyaman. "I'm fine really."
"Beneran? Lo kok sedari tadi diam aja?" Anggi masih belum percaya begitu kurespon apa ucapan sebelumnya.
"Beneran." Aku mengangkat jari telunjuk dan jari tengah padanya meyakinkan. "Gue cuman kurang fokus karena laper."
Anggi dan Vanya kini mendadak diam memperhatikanku seperti baru saja melihat kepalaku terbelah menjadi dua.
Aku tidak tau , dimana bagian yang lucu dari ucapanku ketika ku dengar Vanya terbahak menertawakan ku. Apa dia gila?
Anggi kini malah terkekeh , menarikku berdiri dari dudukku diam. "Gue jalan dulu deh kak ," katanya pada Vanya yang dibalas perempuan itu dengan senyuman.
"Oke. Makan yang banyak ya. Buncittin sekalian."
"Sip." Anggi terkekeh lagi dan membawaku pergi setelah Vanya mengucapkan 'sampai jumpa' padaku yang kubalas hanya dengan anggukan dan sedikit senyum kikuk.
Seorang Vanya yang sebelumnya memiliki sirat mata penuh intimidasi berubah bersorot lembut ketika berhadapan dengan seorang Anggi? Mengingat hubungan Kakaknya dan perempuan itu , tidak heran juga sih jikalau Vanya hendak mendekatkan diri pada adiknya lebih dulu sebelum pada kakaknya.
Rencana yang pas.
"Lo mau makan apa Key?" Anggi menarikku menuju Cafè dekat rumah sakit.
"Apa aja yang bikin kenyang." Jawab ku asal yang dibalas dengan senyuman lebar Anggi. Perempuan itu dengan semangat memesan pada sang waitters makanan yang dia pilih setelah mengambil kursi didekat jendela kaca yang menghadap keluar. Ketika waitters itu pergi , tatapan nya jatuh menubruk kearahku.
"Lo kenal kak Vanya , tapi kenapa gak bilang sama gue Key?" Pertanyaan penasaran yang dulu sempat membuatku kewalahan kembali menguar ketika seorang Vanya muncul. "Lo tau? Kak Vanya itu mantan pacar abang gue sekitar 3 tahun lalu. Dan juga temen kuliah Elang. Sumpah! Dunia sempit banget."
Aku meringis begitu melihat Anggi nampak antusias. Mood nya yang nampak jelas membuatku agak khawatir , Anggi selalu saja seperti ini ketika aku kenal dengan seseorang yang dikenal nya atau orang asing. Dia akan bertanya-tanya tanpa henti dan begitu amat serius ketika aku menceritakan awal mula pertemuan.
KAMU SEDANG MEMBACA
When there [is] Hope (COMPLETE)
RomanceCOMPLETE// - Keyla's Story ::::::::::::: Sekarang tujuan Keyla hanya satu... Membahagiakan orang yang telah peduli kepadanya dengan melepaskan nya. ::::::::: Ada beberapa part yang mengandung unsur dewasa , tanggapi dengan bijak. Terima kasih. _____...
![When there [is] Hope (COMPLETE)](https://img.wattpad.com/cover/81675451-64-k485074.jpg)