44- Never End

15.8K 419 0
                                        

Keyla's POV

Hampir saja aku melemparkan ponsel dari tangan ku ketika suara bukaan kencang pintu ruang rawatku mendadak menginterupsi. Kening ku mengernyit saat melihat wajah keruh Gio.

Bukan kah tadi dia sudah kembali dari ruangan ku ini, mengapa kembali lagi kemari?

"Gue liat.." Dia mengatur nafas nya yang memburu. Itu makin membuat ku bingung.

"Liat apa?" Aku mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, hal apa yang membuat seorang Algio Hermawan sampai sesak nafas segala? Selain tembok putih menyebalkan, sofa putih dan pintu juga kamar mandi, meja dan ranjang ku ini, tidak ada hal yang mengherankan.

Kursi roda? Err.. itu tidak mungkin.

"Lo bilang dia cuman sakit perut biasa dan udah keluar dari rumah sakit. Barusan gue liat dia mau chek up. Maksud nya apa?" Gio bicara dalam satu tarikkan nafas, menatapku menuduh dan itu membuat ku sadar oleh sesuatu hal yang sangat sensitif baginya.

"Kak Vanya?" Tebakku seratus persen benar.

Gio mendekat dan mengamati ku lamat-lamat, aku jadi agak risih diperhatikan secermat itu olehnya. "Apa?" Aku bertanya tak mengerti.

"Apa yang lo tau dari dia? Ceritain semua ke gue."

"Cerita sama lo?" Aku jadi ingin tertawa. Apa Gio hendak melawak atau apa? "Lo kan gak ada urusan sama Kak Vanya, kenapa pengen banget tau segala urusan tentang dia?"

Gio semula kesal, tapi dia mungkin sadar karena konteks yang diperlihatkan nya padaku selama ini adalah sisi dimana dia sangat membenci Vanya. Bukannya tidak mau melibatkan diri, tapi dia berusaha menghindar berurusan dengan perempuan itu.

Aku bisa membaca semua, karena raut wajahnya mendikte segala yang dia pikirkan saat ini.

"Gue... hanya pengen tau," suara nya melirih ketika dia bicara. Aku jadi kasihan padanya. Perlu kah kuceritakan semuanya? Vanya pasti tidak akan suka ini.

"Apa lo sebenarnya masih sayang sama Kak Vanya?" Tanyaku langsung, "lo peduli sama dia?"

Gio melotot kan matanya, hendak membantah. Tapi ketika mulutnya terbuka, tidak ada pembelaan egois apa pun yang selama ini selalu saja keluar, terbanding terbalik dengan apa yang kata hati katakan. Melainkan tatapan yang semakin lama, semakin melayu.

Merasa bersalah oleh sesuatu hal, dan itu membuat ku menghela nafas panjang balik menatapinya lama. "Gue bakal cerita semua, tapi tolong, jangan pernah lagi ngehindar atau nyakitin perasaan Kak Vanya lagi,"

"Gue--" Gio sedikit berang. "Dia yang selama ini nyakitin perasaan gue! Apa salah kalau gue balas dendam sama dia?!"

Balas dendam?

Aku tersenyum kecut mendengar nya. Yeah, tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi, secara jelas, hal yang diawali dengan pembalasan dendam, selalu berujung di ending yang tidak baik. Apakah kita sebagai manusia perlu melakukan balas dendam? Di lain sisi ada karma yang akan menanti, mengapa kita harus repot-repot melakukan nya?

Beginilah yang tidak ku mengerti dari watak keras beberapa orang ketika menjalani hidup. Mempelajari ilmu psikolog membuat ku tersadar, kita di tuntut untuk berbuat baik--untuk menemukan ending yang baik pula. Tapi pada dasarnya semua manusia melakukan kesalahan, dan kesalahan itu berakibat menyakiti perasaan orang lain hingga sampai kehilangan orang lain.

Pada saat hal itu di gunjingkan, banyak orang mengajukan pendapat berbeda menyangkut konteks macam ini. Selain dengan mengambil keuntungan atau kesenangan, balas dendam karena kesalahan orang lain ke diri kita itu dianggap salah!

When there [is] Hope (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang