38- Thrēety Ëight

14.4K 422 10
                                        

Keyla's POV

Ini sudah minggu kesepuluh aku dirawat. Tidak ada tanda-tanda bahwa aku akan segera di operasi karena memang itu jalan satu-satunya yang ada agar aku kembali sehat lagi.

Aku telah mendengar isi semua pembicaraan yang dilakukan Dokter Anna pada Ayah dan Ibuku. Kanker ku sudah stadium 4 dan hanya ada waktu sekitar dua bulan lagi aku hidup.

Well itu hanya perkiraan karena belum pasti vonis yang ditujukan Dokter Anna itu akurat.

Aku takut?

Tentu saja.

Siapa yang tidak takut mati? Bahkan aku yang sering mengalami semua itu masih sama takutnya dari saat awal aku di vonis memiliki penyakit mengerikan ini.

Tepatnya saat 10 tahun yang lalu pada semester akhir ku di sekolah dasar. Aku jatuh sakit dan koma seminggu karena masalah sepele. Jatuh dari sepeda. Kening dan kedua lututku mengeluarkan darah. Bekas memerah di kedua tangan pun masih jelas teringat waktu itu.

Aku tidak tau kekebalan tubuhku sampai mana karena yang ku tahu, aku kadang suka mimisan saat memasuki awal semester 1 di kelas 5 SD. Guru-guru ku berpesan untuk segera mengecekku ke dokter, tapi sekalipun aku tak mau membicarakan hal ini pada kedua orang tuaku.

Aku bandel? Iya. Sangat. Aku tidak suka hidupku di atur. Secara hakekatnya, aku tidak suka orang lain mengambil waktu luangku yang sangat berharga untuk mengikuti semua yang dikatakan nya.

Katakan sajalah aku ini munafik. Memang. Di depan orang yang tak ku kenal, aku bersifat dingin dan datar, namun di dekat orang terdekat—kadang aku bisa menjadi sangat manja. Dan urusan kenapa aku sering kali gugup dan tak bisa menentang keputusan juga menjadi pendiam mendadak—itu karena keberadaan Elang. Salah satu pria yang untuk pertama kalinya membuatku merasakan yang namanya jatuh cinta.

Tiap kali di depannya aku bingung harus melakukan apa. Terlebih aku takut mengecewakan nya. Maka lebih baik aku bersikap pemalu lebih baik dari pada sifat manja dan keras kepala yang sering kali keluar di depan orang tuaku atau pun Ilham.

Jika kalian bertanya kenapa aku bersikap pendiam di dekat Anggi.. Iya, hanya satu yang membuatku begitu. Sebuah perasaan yang membuat kami—nampak terlihat dekat tapi nampak  jauh secara kasat mata.

Kalian boleh menganggap aku ini lebay atau semacam nya. Tapi serius, mengetahui sahabat mu satu-satunya memiliki perasaan yang sama pada pacarmu sendiri, apa yang akan kalian rasakan? Terlebih dengan kenyataan bahwa dari dulu sahabatmu memendam perasaan nya saat sebelum kalian berdua di pertemukan.

Merasa bersalah? Tentu. Aku merasakan nya setiap kali ku tangkap wajah sendu Anggi saat tanpa sadar gadis itu melamun diam didekatku.

Bodoh kalau aku tidak tau,

"Nona, silahkan lewat sini." Suara dari arah luar kamarku membuat ku menoleh. Kali ini aku tidak keluar dari kamar, hanya memandang pemandangan taman dari jendela. Begitu ku tahu Nona yang disebutkan perawat tersebut, aku segera menggerakkan kursi roda ku.

Mendorong pintu kamar rawatku dan menoleh ke samping, tempat dirinya belum jauh melangkah dengan tiang infus yang diseretnya di bantu dengan seorang perawat.

"Gue pikir lo bakal ngurung diri." Aku mencoba bersikap seperti biasa. Tapi sepertinya suaraku terdengar sedang meledeknya. Astaga. Aku tidak bermaksud.

"Apa mau lo?" Dia berhenti melangkah, bertanya dan menunggu.

"Enggak. Nyapa doang, mau chek up ya?"

"Bukan urusan lo."

Aku mendengus. "Hari ini Elang dateng. Anggi sama Kak Gio juga, lo gak niatan nyembunyiin diri?"

When there [is] Hope (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang