Gadis dengan tubuh mungil dan wajah pucat itu tengah mengendap-ngendap bersembunyi keluar dari dalam ruang perawatan.
Setelah yakin tidak ada orang yang melihatnya , dia segera berlari menuju kamar mandi setelah menyambar tas nya yang tergeletak diatas meja.
Mengeluarkan pakaian nya , gadis itu membuka seragam biru langit—rumah sakit dan berganti memakai pakaian yang sebelumnya dipakai tadi. Kaos dan celana jeans.
Setelah selesai berganti pakaian , dia meletakkan asal seragam rumah sakit itu diatas tempat duduk yang dia temui ditengah jalan dan kemudian berlari kecil keluar dari dalam gedung rumah sakit.
Memberhentikkan taksi dan naik ke sana. Menuju tempat yang diinginkan nya , yaitu taman hiburan.
::::::::::::::
"Elaaaang ...temeniiiinnn ,"
Pria dewasa di depannya kini mulai mendengus kesal karena perihal diganduli oleh salah seorang ramaja tanggung yang tak pernah sekalipun ingin menyerah sebelum si pria mengatakan 'ya'.
"Elaaaang iih!"
"Apa sih?!" Pria itu kesal. "Sama abang lo aja."
"Iih! Ogah banget deh sama si zombie yang udah berubah jadi penjahat kelamin sekarang." Gadis itu bergidik. "Mending gue sama orang gila."
"Ya udah. Sama orang gila sana."
"Elang!!!"
Elang tidak menjawab , dia lebih memilih menekuni lembar-lembar pekerjaan nya. Mengabaikan hal nyata yang sedari dua jam yang lalu sudah mencak-mencak tak jelas.
Gadis yang kesal tidak ditanggapi pun pada akhirnya menendang keras tulang kering Elang dan dengan tidak berprikemanusiaan nya , dia mengambil salah satu tumpukkan kertas yang sudah di print siap ditanda tangani dan diberikan pada investor—menunjukkan nya di depan hidung Elang berlagak menarik nya dengan cara kasar.
"Menolak, kertas ini robek."
Elang melebarkan matanya , mengabaikan rasa sakit ditulang kering nya dan secara harfiah dia hendak menggapai kertas ditangan gadis itu. Dengan gerakkan cepat gadis itu berlari menjauh dan dengan santai menggantungkan kertas itu diatas bak pencuci piring yang terisi sebagian air.
"Merebut , kertas ini basah."
Elang menggeram kesal , mengusap wajahnya kasar seperti duda yang bingung bagaimana dengan makanan untuk anaknya besok.
"Ya udah! Siniin kertas nya!" Elang melotot saat melihat seringai muncul di bibir gadis itu.
"Sekarang."
Ucapan gadis itu membuatnya dongkol , "apanya?!"
"Perginya." Gadis itu menatap Elang manja. "Perginya sekarang."
"Lo pikir gue pengangguran?!" Elang hendak merebut kertas itu dan dengan cepat gerakkan gadis itu membuatnya melebarkan mata karena perihal kertas yang menipis lagi masuk kedalam air.
"Anggiiiiii!!!"
"Makanya sekarang! Gue mau nya sekarang!" Gadis bernama Anggi itu tidak peduli dan terus merajuk.
Elang tidak lagi punya pilihan lain , mengingat tumpukkan kertas yang di print dan di streples itu dikerjakan nya sedari tadi malam begadang jam 10 sampai subuh. Mau tidak mau , Elang menyerah dan mengikuti apa yang diminta Anggi.
Melihat wajah lelah dan tak berdaya tanpa semangat Elang yang mengiyakan ajakan nya tak menutup kesenangan Anggi.
"Yeaahhh!!!" Serunya teramat gembira , membuat Elang mendengus sebal.
KAMU SEDANG MEMBACA
When there [is] Hope (COMPLETE)
RomanceCOMPLETE// - Keyla's Story ::::::::::::: Sekarang tujuan Keyla hanya satu... Membahagiakan orang yang telah peduli kepadanya dengan melepaskan nya. ::::::::: Ada beberapa part yang mengandung unsur dewasa , tanggapi dengan bijak. Terima kasih. _____...
![When there [is] Hope (COMPLETE)](https://img.wattpad.com/cover/81675451-64-k485074.jpg)