31- Sisi yang tak terlihat

17.1K 433 2
                                        

Anggi datang siang harinya.

Kebetulan Keyla sedang beristirahat. Begitu kakinya melangkah memasuki ruang rawat inap perempuan itu. Tatapan nya tertumbuk pada salah satu pria yang tengah tertidur disamping Keyla.

Dalam posisi duduk seperti itu , Anggi yakin betul badan pria tersebut akan pegal begitu terbangun nanti.

Anggi perlahan mendekat , memperhatikan raut wajah pucat sahabatnya. Rambut perempuan itu sudah hampir habis, ditutupi topi rajutan yang hari ini berwarna biru tua.

Tatapan nya beralih ke arah pria disebelahnya. Wajah lelah pria itu tertangkap di kecoklatan kedua manik mata. Ada sedikit perasaan sakit begitu melihat genggaman tangan keduanya terpaut amat intens.

Mereka berdua saling menyematkan jari mereka masing-masing hingga kilauan cincin emas perak dengan salah satu diantaranya berkristal kecil menjadi begitu menyilaukan mata.

Anggi perlahan menyadari satu hal, dia tidak seharusnya ada di sini. Dia seharusnya menunggu diluar saja dan membiarkan kedua sejoli ini beristirahat dengan tenang.

Keinginan untuk menyentuh kulit wajah pria itu ia urungkan, sedikit Anggi mengendap sejenak ingin pergi namun kaget begitu tangan dingin seseorang mencekal pergelangan tangan kirinya.

"Nggi.."

Anggi menoleh dan jatuh membulatkan matanya begitu Keyla kini menggeliat diposisi tidurnya. Berusaha tidak membuat gerakkan tiba-tiba yang akan berimbas membangunkan tunangan nya itu.

Tatapan sayunya menatap Anggi, tersenyum. "Tumben lo dateng siangan gini , biasanya pagi-pagi udah stand by lo," Keyla berniat bercanda tapi Anggi membalasnya dengan tatapan khawatir.

"Lo kok bangun sih Key? Tidur lagi dong, lo kudu istirahat yang cukup."

Keyla tak menanggapi, dia hanya terkekeh dan dengan gerakkan pelan-pelan dia melepas tautan jemarinya dengan jemari pria itu membuat Anggi yang memandang nya jatuh meringis. "Gue mau jalan-jalan,"

"Lo kudu istirahat Key," Anggi menyahut tak setuju. "Entar lo kambuh lagi,"

"Ambilin kursi roda dong," pinta Keyla lirih, tak ingin membuat pria itu bangun karena perbincangan mereka berdua.

"Enggak. Tidur lagi Key, gue serius. Lo kudu istirahat—"

"Anggi.." Keyla memasang wajah memelasnya yang membuat Anggi sedikit goyah. "Gue dari tadi di sini mulu gak jalan-jalan. Gegara lo gak ada, gue di suruh gak kemana-mana. Gue bosen,"

"Lo kan lagi sakit. Udah seharusnya emang tetep bebaring dikamar," Anggi masih keukeuh.

Tetapi sepertinya Keyla tak ingin menyerah begitu saja. Dia hendak nekat turun dari ranjang sendiri dan mau tak mau Anggi segera mendekati nya dan membantu perempuan itu walau enggan.

Ajaibnya. Pria yang tidur disebelah nya tidak terbangun dari alam mimpi , dia masih terjaga dalam tidurnya membuat Keyla yang sudah terduduk dikursi roda meringis.

"Dia pasti kelelahan."

Walau sangat lirih, ucapan Keyla masih di dengar dikuping Anggi. Perempuan itu bingung harus merespon apa, pada akhirnya diam menjadi pilihan terbaik sekarang.

"Nggi, tolong selimutin Elang pliss," permintaan lirih Keyla , diangguki pelan Anggi. Pun menyelimuti Elang dengan selimut yang sebelumnya dikenakan Keyla tadi. Setelahnya perempuan itu berbalik menatap Keyla yang kini menatap balik ke arahnya.

Bibir pucat itu melengkung senyum , menyorot sosok Anggi dari balik manik hitam kelamnya. "Gue mau ngomong sesuatu sama lo Nggi, tapi enggak disini,"

When there [is] Hope (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang