Gio nya lagi libur syuting dulu :'3
***
Langit-langit putih kini mulai menerjang mataku saat semula gelap kini kembali bercahaya.
Aku dimana?
Itu adalah pertanyaan paling umum yang setiap kali mereka lontarkan saat mata yang semula terpejam kini mengerjap. Itu pun terjadi pada diriku juga.
Sejenak aku membiasakan pandanganku dan mulai mengedar---ini di rumah sakit. Apartemen ku tidak mungkin bertembok dan berpintu putih. Karena entah sejak kapan, aku benci warna putih.
"Kamu sadar?" Suara itu sesaat menolehkan kepalaku, di sana sosok tampan Elang tengah memandangku lega. "Syukurlah..."
Aku lantas tersentak ingin bangkit dan saat itu juga, rasa pusing itu melanda dengan hebat, sedikit aku mengerang merasakan sakit itu yang langsung segera dipapah Elang panik.
"Jangan bangun dulu Elf, fisik mu masih belum-belum pulih..."
Aku memaksa setengah duduk diatas ranjang pasien yang dibantu oleh Elang merapikan posisi bantal untuk menyangga tubuhku. "Memang nya aku kenapa?" Aku menatap Elang, sedikit merasa bingung bertanya setelah rasa sakit dan pusing itu mereda.
Mungkin itu pertanyaan paling bodoh yang bisa kukeluarkan begitu melihat ekspresi kusut Elang yang kini mulai menatapku sedikit kesal.
"Kamu terluka. Dan hampir saja kehabisan darah, untung aja si curut Ilham langsung bawa kamu kesini."
Sedikit bingung juga, tapi samar-samar aku ingat bagaimana paku itu menancap di bootku dan ujung nya yang runcing mengenai telapak kaki kananku.
Hmm... Luka kecil yang menyebalkan.
"Kamu kok wajahnya begitu?" Aku bertanya menepis topik sebelumnya. Ekspresi kesal Elang lebih menarik dari apapun.
Elang tak menjawab, dia menggenggam erat tangan kanan ku yang terbebas dari selang infus. Aku baru sadar, sedari tadi kekasihku ini ternyata terus menggenggam tangan ku.
Hal itu tak menutup kemungkinan membuat darahku sedikit berdesir. Rona wajah dan gugupku entah kenapa mendominasi sekarang.
"Kamu mau tau kenapa aku begini?" Elang menatapi ku lurus-lurus tanpa berkedip, membuatku semakin dibuatnya gugup.
Aku mengangguk kaku sebagai jawaban.
Dia mendekat dan mulai mempersempit jarak tubuh kami, wajahnya kini mendekat---dan menjadi dekat. Apa dia mau melakukan itu....?
Tanpa sadar mataku menutup. Kurasakan hembusan nafasnya kini menerpa tengkuk ku, dengan suara serak yang sensualnya, Elang mulai berbisik tepat ditelinga kiriku.
"Because of you..."
Mendadak mataku terbuka , mengerjap-ngerjap bingung. "Aku?"
Elang mengiyakan , menjauh kembali pada posisi awalnya yang duduk di kursi sebelah ranjang pasien dan mulai tersenyum geli begitu melihat raut ekspresi bertanya yang kuperlihatkan padanya.
"Kemarin, pas kamu mendapat musibah begini yang kamu hubungi duluan itu si curut Ilham duluan , bukan aku."
Aku mengernyit mendengar ucapannya itu, menatapnya tak paham. "Kamu itu bukan dokter Lang. Dokterku itu kak Ilham , makanya aku telfon dia.."
"Tapi kan aku ini pacarmu." Elang menyahut keras kepala begitu mendengar alasanku. "Aku kekasihmu. Dan Ilham itu cuman dokter Elf. Cuman..."
Ada apa dengan nya?
"Kamu ini kan direktur. Aku gak mau ganggu pekerjaan mu Elang.."
Elang menggeleng tegas. "No sense. Bukan kah aku sudah bilang, kamu ini tanggung jawabku Elf. Kamu boleh menelponku kapan saja , tak usah merasa tak enak begitu."
KAMU SEDANG MEMBACA
When there [is] Hope (COMPLETE)
RomansaCOMPLETE// - Keyla's Story ::::::::::::: Sekarang tujuan Keyla hanya satu... Membahagiakan orang yang telah peduli kepadanya dengan melepaskan nya. ::::::::: Ada beberapa part yang mengandung unsur dewasa , tanggapi dengan bijak. Terima kasih. _____...
![When there [is] Hope (COMPLETE)](https://img.wattpad.com/cover/81675451-64-k485074.jpg)