Keyla's POV
Terkadang hidup memang tidak adil.
Garis takdir tatkala tergambar di nasib tangan kita sendiri.
Kita hanya perlu menentukan bagaimana langkah kedepan nya, ingin melakukan apa... atau bagaimana... itu semua di mulai dari gerakkan kita sendiri.
Dan seperti yang tengah ku ambil dari garis nasib pada kedua tanganku ini, aku memutuskan untuk menyudahi semuanya.
Menyudahi segala kesalahpahaman ini dan menyudahi semua penderitaan orang-orang yang ku sayangi.
Seperti halnya, kedua orang tua ku. Atau bahkan mereka... yang diam-diam memperdulikan..
"Kenapa kamu rela melakukan ini... Bukan kah dia itu milikmu?" Hellen benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia terima.. bukan, tetapi apa yang akan anak tirinya terima nanti.
"15 persen." Aku tersenyum padanya. "Dan Kak Vanya memiliki 85 persen nya."
"..."
Aku sudah lama ingin mengakhiri segalanya. Bahkan Ayahku pun, tidak pernah sekali ingin melarang apa yang kuinginkan. Mama ku tentu saja marah, lagi-lagi aku membangkang.
Kalau saja dia lebih cepat datang...
"Kamu akan menyesal.. Keyla," Ayah ku bicara saat itu. Menatap ku tak habis pikir. Dia sudah lelah dalam segala hal. Menjaga kedua wanita yang disayanginya pasti sungguh sulit untuk beliau lalui. Apalagi dua wanita nya memiliki watak keras kepala.
Aku dan Mama ku.
Di satu sisi, Mama temperamental, dan disisi lain aku yang lebih suka diam.
"Maaf.." Aku tersenyum berujar. "Tapi aku senang melakukan nya."
Ayahku tak lagi bicara. Dia sudah frustasi. Matanya sering kali memerah sebelum atau sesudah menjengukku.
Hal yang paling di bencinya adalah menangis. Dan beliau terlalu tegar untuk ukuran seorang Ayah yang akan kehilangan putrinya.
"Kami akan merindukan mu..." Dia berkata, dengan nada bergetar–akibat menahan gejolak emosi.
"Yeah.." Aku memandang atap putih diatas ku, berbaring dengan posisi terlentang seperti ini membuatku harus mengakui. Betapa bersih warna putih di atas sana.
Ku cabut tentang aku yang membenci warna putih. Di mataku, warna itu begitu terlihat mengagumkan.
"..aku yang akan merindukan kalian," suaraku terdengar bagai bisikkan, melanjutkan apa yang ku bicarakan sebelumnya.
Karena sepertinya beliau sudah tak lagi bisa bertahan lebih lama disisiku–mengingat bahwa setiap detik nya bisa saja menjadi akhir dari kehidupanku, Ayah memutuskan untuk menyendiri, menguatkan hatinya sebelum kembali menghadapi anaknya yang tengah sekarat ini.
Meninggalkan aku sendirian dengan hanya di temani beberapa alat yang terpasang pada punggung tangan, dan juga hidungku.
Aku merasakan dadaku di aliri perasaan sesak ketika mataku tanpa sengaja melihat jari manis kanan ku–sudah tak ada lagi cincin tersemat di sana.
Kurva kesedihan terbentuk di bibirku. Entah dari mana asalnya, panas di kedua mataku berefek pada nafasku yang tersengal kemudian. Tangan ku bergetar, sesaat seperti sedang mengalami tremor.
Harus ku akui, aku menyesal telah melepaskan Elang. Tapi di sudut hatiku yang terdalam, aku bahagia karena berhasil menahan gejolak perasaan yang meluap ini.
Teori yang mengatakan 'Cinta tak harus memiliki' memang seperti apa yang tengah ku alami sekarang ini.
"Menurut orang, cinta itu butuh pengorbanan, kalo gue pengen ngeliat orang yang gue sayangi bahagia. Gue harus rela melepas dia buat orang lain..."
KAMU SEDANG MEMBACA
When there [is] Hope (COMPLETE)
RomanceCOMPLETE// - Keyla's Story ::::::::::::: Sekarang tujuan Keyla hanya satu... Membahagiakan orang yang telah peduli kepadanya dengan melepaskan nya. ::::::::: Ada beberapa part yang mengandung unsur dewasa , tanggapi dengan bijak. Terima kasih. _____...
![When there [is] Hope (COMPLETE)](https://img.wattpad.com/cover/81675451-64-k485074.jpg)