"Saatnya chek-up," salah satu perawat datang kepadanya, tersenyum.
Vanya segera mengikutinya dengan dibantu olehnya. Keluar dari ruang rawat dan berjalan menuju tempat yang selama ini selalu menjadi tujuan nya selain dengan kamar rawat.
Yang belum diketahui Vanya adalah, dia tak bisa memprediksikan. Kapan orang itu muncul dan mengetahui keberadaan nya kali ini. Sosok pria yang selama ini selalu dihindari Vanya tengah memantung di hadapannya begitu kedua insan berbeda gender tersebut saling bertatapan satu sama lain, dengan perasaan kaget yang sama, dengan detak jantung yang sama--
Vanya memilih memalingkan wajah lebih dulu dan melanjutkan perjalanan. Tak disangka, pria itu hanya menatap Vanya ditempat, tak berpikir untuk mengejar apa lagi menahan laju perjalanan Vanya.
Di satu sisi, Vanya lega kalau pria itu tak merecokinya dengan pertanyaan macam-macam. Di sisi lain, ada sedikit hatinya yang merasa kecewa karena sikap acuh dari pria itu.
Kenapa Vanya sakit hati begitu menyadari bahwa lelaki yang dicintainya hingga sekarang tampak tak peduli dengan kondisi nya saat ini?
Apa pria itu tak lagi memiliki perasaan yang sama seperti dirinya?
:::::::::::::::::::::
1 jam yang lalu...
Gio memaksakan diri untuk mendatangi Keyla di pagi buta pada saat jam menunjukkan pukul 6.
Dia masih tidak terima dengan sikap Elang–Keyla, dua sejoli yang tak sekalipun malu bermesraan didepan Anggi–adiknya. Maka dari itu, dia memutuskan bertanya langsung pada Keyla--apa motif dia sebenarnya hingga melakukan hal seperti itu didepan Anggi, padahal dia tau bahwa Anggi menyimpan perasaan pada Elang.
"Gue butuh penjelasan." Ucapan Gio sejenak mengernyitkan kening Keyla.
Ayah dan Ibunya tengah menginap di hotel, sedang Elang menempati apartemen sementara di sana. Jadi Keyla hanya sendirian pagi ini mengingat waktu di jam seperti ini seharusnya dimanfaatkan untuk tidur hingga hari beranjak siang.
Di luar sedang hujan, walau tidak deras tapi cukup untuk menyejukkan pagi itu. Memberikan rasa nyaman dan juga damai.
"Jelasin apa?" Keyla balas bertanya, mengangkat alisnya sedikit.
Gio mendengus. "Jangan pura-pura gak tau deh, kenapa sih elo seneng banget buat Anggi cemburu? Lo tau kan, Anggi itu suka sama Elang."
Mungkin Gio kali ini sudah gila, mengomeli anak orang yang tengah terduduk sakit diatas ranjang pasien. Karena perasaan kesal yang tak lagi bisa ia bendung, Gio rela dianggap kejam karena memarahi orang sakit.
Keyla sejenak diam memperhatikan Gio. Untuk waktu cukup lama, pada akhirnya Keyla menghela nafasnya berat. Ia menunduk pada Gio yang membuat pria itu heran.
"Gue minta maaf kak, bukan itu maksud gue sebenarnya." Keyla mengangkat badannya, menatap Gio. "Gue gak ada maksud buat nyakitin Anggi. Beneran,"
Gio sebenarnya ingin sekali mencibir apa yang diucapkan Keyla. Tapi dia harus ingat, Keyla ini sedang sakit! Parah pula! Gak ada juga gunanya Gio marah. Dan kenapa Gio harus marah dengan orang sakit? Seumur-umur baru kali ini Gio hilang akal hingga sampai menghampiri orang sakit hanya kali ini ingin mengomelinya.
"Udah lah," Gio menyerah. Semua kata-kata sinissan ia telan bulat-bulat. Bukan tipe Gio sekali mengomeli orang yang sedang sakit. "Gue jadi pusing karena ini."
Gio memperhatikan Keyla yang masih diam menatapnya. Lagi-lagi Gio menghela nafas. "Gue cuman pengen, lo jangan terlalu ngumbar kemesraan didepan Anggi. Hargain perasaan dia, dia itu manusia bukan nya pajangan gak berarti dan penonton drama kolosal romance kalian. Gue gak rela kalau adek gue satu-satunya tambah sakit hati karena sikap kalian itu.."
KAMU SEDANG MEMBACA
When there [is] Hope (COMPLETE)
RomanceCOMPLETE// - Keyla's Story ::::::::::::: Sekarang tujuan Keyla hanya satu... Membahagiakan orang yang telah peduli kepadanya dengan melepaskan nya. ::::::::: Ada beberapa part yang mengandung unsur dewasa , tanggapi dengan bijak. Terima kasih. _____...
![When there [is] Hope (COMPLETE)](https://img.wattpad.com/cover/81675451-64-k485074.jpg)