"Apa lo butuh pendonor?"
Keyla mengernyit. "Kenapa memangnya?"
Vanya diam, tidak menjawab. Dia kini bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk bokong yang tadinya digunakan untuk menduduki lantai koridor yang kotor. Tanpa bicara, Keyla ikut bangkit. Sedikit kesusahan karena lemah fisiknya yang membuat dia harus merayap dan berpegangan pada dinding.
Vanya melihat itu, tapi dia berusaha untuk tidak peduli. Sungguh. Gadis yang ada dihadapan nya saat ini lebih dari menyedihkan dan membuatnya kasihan sendiri. Padahal seingatnya , Keyla masih biasa-biasa saja walau pucat wajahnya nampak dari awal mereka bertemu. Vanya malah berpikir memang warna kulit Keyla yang putih pucat.
Melihat beberapa bintik hitam disekujur tangan gadis itu dan helai-helai rambut tipis yang menyembul dari balik topi rajutan tangan—yang Vanya tau pasti bentuk rambutnya sudah tidak lagi cantik seperti dulu—serta tirus wajahnya yang nampak membentuk kekurusan berlebih dari sebelum Vanya jumpai dua minggu lalu kemudian ekspresi wajahnya yang nampak lelah dan ada sedikit kejenuhan disana membuat Vanya yakin jika dia kasihan melihat keadaan Keyla sekarang.
Ya. Hanya sekedar kasihan. Tidak lebih.
"Gak papa. Nanya doang." Vanya memutuskan berpamitan pergi dari hadapan Keyla—perempuan itu terlihat kebingungan.
Bahkan karena sikap kecengoan yang masih belum sembuh setelah perjalanan Vanya diambang koridor hendak berbelok. Perempuan cantik itu dapat mendengar histeria Keyla yang menjerit kesakittan karena ketahuan keluar kamar rawat yang akibatnya mendapat jeweran ditelinga oleh tangan besar dokter khususnya—siapa lagi kalau bukan Ilham.
Sedikit Vanya tersenyum geli dan melanjutkan langkah berbelok ke koridor menuju keluar gedung rumah sakit.
::::::::::::::
Gio memantik api—menyalakan rokoknya. Getaran dan dering ponsel disaku celananya membuat pria itu merogoh.
Memandang sejenak siapa yang menelpon ia setengah malas mereject panggilan. Hari ini dia benar-benar tak sedang ingin diganggu. Kebiasaan nya yang sedang banyak pikiran adalah merokok atau minum di club dan bersenang-senang.
Tapi hari ini, entah kenapa dia enggan sekali hanya untuk sekedar bersenang-senang dengan mereka. Pikiran nya terfokus pada sosok yang dulu pernah mengangkatnya tinggi-tinggi dan dijatuhkan dengan amat tidak berperasaan setelahnya.
Entahlah , melihat sosok itu membuat kernyitan dahinya makin dalam. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Tapi dia tidak tau apa.
Seharusnya Gio bisa saja melupakan nya jika berusaha. Tapi Gio terlalu malas dan lebih suka mencari pelampiasan dengan mengencani para perempuan. Bahkan memacari mereka dan meninggalkan nya dengan tak berperasaan. Persis seperti yang dilakukan orang itu padanya.
Menjatuhkan nya dalam-kedalaman yang namanya kehancuran. Tapi setidaknya Gio tak sejahat itu, karena selamanya tidak mungkin dia bisa melukai para perempuan itu terus-menerus. Jadi jangan salahkan bila banyak perempuan dari mereka melunjak dan membuat Gio kesal sendiri.
Seperti sekarang. Ada yang mengirimi pesan dengan kalimat-kalimat vulgar. Tentu saja sebagai seseorang yang good sex , mereka menginginkan Gio untuk memuaskan hasratnya.
Tapi kali ini Gio tidak mau kembali terpuruk didalam dunia penuh kenistaan itu. Dia ingin membenarkan hidup. Mungkin dengan meninggalkan perlahan kebiasaan minum-minumnya?
Suara dering ponsel kembali terdengar , Gio menghembuskan kepulan asap itu keluar jendela kamar pribadinya dan mulai menatap layar id. Menerima nya, Gio membuang rokok yang sudah habis setengahnya ke asbak dan mematikkan nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
When there [is] Hope (COMPLETE)
RomanceCOMPLETE// - Keyla's Story ::::::::::::: Sekarang tujuan Keyla hanya satu... Membahagiakan orang yang telah peduli kepadanya dengan melepaskan nya. ::::::::: Ada beberapa part yang mengandung unsur dewasa , tanggapi dengan bijak. Terima kasih. _____...
![When there [is] Hope (COMPLETE)](https://img.wattpad.com/cover/81675451-64-k485074.jpg)