Keyla's POV
Aku melihat nya lagi. Perempuan yang dulu penah berselisih paham denganku. Vanya. Mantan pacar kakak nya sahabatku, Gio.
Selama tiga hari terakhir aku tidak melihatnya setelah pertemuan di taman rumah sakit waktu itu, dan sekarang aku melihatnya lagi. Dia sedang terduduk sendirian di ruangan—entah aku tidak tau. Ada banyak lansia dan orang sakit yang tengah diajari jalan, atau dipapah dengan besi dan saling memberi semangat satu sama lain.
Matanya memang mengarah pada anak remaja yang mungkin baru sadar dari koma hingga diberikan pelatihan otot kaki untuk berjalan, tapi kedua bola mataku ini tak bisa dibohongi, dia sedang melamun. Pikiran nya sedang mengembara dan aku tidak tau kemana pikiran itu membawa nya pergi dari kenyataan.
Pakaian yang dikenakan nya masih sama, biru langit seperti seragam yang kupakai sekarang. Dan katanya saat itu dia sakit perut, tentu nya dia hanya membual.
Tanpa basa-basi, aku meminta perawat Emi untuk tidak mengikuti masuk kedalam mendekati Vanya bersama ku, aku mau mendatanginya sendiri. Setelah perawat Emi menyanggupi, aku tidak berkomentar saat perawat itu memilih menunggu di dekat pintu dengan aku yang menggerakkan kuris roda yang kududuki, mendekat pada Vanya tanpa suara.
Sebenarnya aku tidak berencana mengagetinya, hanya saja aku tidak tau saat perempuan itu menoleh—Vanya langsung membolakan matanya terkejut dan hampir saja jatuh pingsan karena aku melihat semburat wajah pucat nya bertambah pucat begitu aku mendapatinya disini.
"Elo..!" Dia menunjukku terperangah.
Aku memasang senyum polos dan nyengir kearahnya, tidak enak juga telah mengagetkan nya sampai sebegitunya. Tampang nya saat ini seperti seseorang yang sedang menahan BAB. Oh lebih dari itu, seperti seseorang yang tertangkap basah sedang mencuri.
"Sorry." Aku merintih meminta maaf. Atensiku kembali menatapnya. "Lo kenapa ada di sini Kak?"
Vanya mendengus, tidak suka menatapku. "Menurut lo?"
Aku mencebikkan bibirku, ikut tidak suka dengan sinisnya ucapan yang di suarakan nya. Padahal aku datang menghampirinya karena peduli, kenapa dia terganggu seperti itu sih? "Gue gak tau, makanya nanya."
Dia melirikku, mungkin heran karena aku berubah ketus. Setidaknya aku tidak terlalu lemah dimatanya. Aku masih sama seperti Keyla saat sehat dulu. Bisa bersikap dingin dan datar pada orang yang bagiku tak sama sekali pantas masuk ke dalam keseharian ku.
Salah satu contohnya, dokter Anna. Dia tidak sama dengan Ilham. Makanya jangan heran bila aku hanya berkata sedikit yang menurutku penting saja, setelah itu aku tidak mau basa-basi lagi. Dia itu hanya orang asing. Contoh kedua, perawat-perawat yang menjagaku, semisal perawat Emi tadi. Contoh ketiga, geeh aku lupa nama, yang jelas dia pernah menyadarkan ku tentang satu hal akan perasaan Anggi pada Elang di Cafe dulu dekat kampus. Kalau tidak salah namanya Alex? Masih ada tidak ya di memori pesan sms dalam ponsel ku? Aku mau tau, apa benar namanya Alex?
"Lo ngapain kemari?" Pertanyaan nya membuatku sadar.
"Nyamperin Kak Vanya disini. Perut nya masih sakit Kak?" Walau sebelumnya aku ketus, aku masih memiliki rasa simpati pada perempuan ini. Setidaknya dia ini teman sahabatku—Anggi. Aku perlu memberikan sedikit perhatian padanya, dia kan termasuk hal terpenting dihidup Anggi dan kakaknya. Aku tidak mau dianggap seseorang yang sombong atau apa.
"Keliatan nya gimana?" Dia masih risih menatapiku. Apa aku ini kotoran ya? Badanku bau?
Aku jadi dibuat kesal. Dia ini menyebalkan sekali, sia-sia deh aku mendatangi nya dan mengulurkan sesuatu yang dulu sangat tidak mungkin aku lakukan. Pertemanan. Dan Vanya adalah satu-satunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
When there [is] Hope (COMPLETE)
Storie d'AmoreCOMPLETE// - Keyla's Story ::::::::::::: Sekarang tujuan Keyla hanya satu... Membahagiakan orang yang telah peduli kepadanya dengan melepaskan nya. ::::::::: Ada beberapa part yang mengandung unsur dewasa , tanggapi dengan bijak. Terima kasih. _____...
![When there [is] Hope (COMPLETE)](https://img.wattpad.com/cover/81675451-64-k485074.jpg)