19- Forget

22.3K 574 1
                                        

Dia menghempaskan tubuh dalam sandaran kursi restoran dan mulai melempar pandangan dingin.

"Kenapa?"

Vanya tergugu diam ditempatnya duduk. Dia bingung harus menjelaskan nya dari mana.

"Mau ngomong apaan sih? Cepetan. Gue gak punya waktu banyak." Ditempat duduknya Gio bergerak tak sabar.

Gadis itu menatap nya seraya meringis. Seriously ...dalam waktu kurun 3 tahun. Pribadi seorang Algio Hermawan tak pernah berubah. Masih pemaksa dan keras kepala. Terkadang Vanya merasa lucu , kenapa dia bisa mencintai pria ini sepenuh hatinya sampai sekarang huh?

"Gue cuman mau makan siang sama lo kok." Vanya menyampirkan senyum termanis nya yang langsung terkena dengusan sebal Gio didepannya.

"you have no work ..yah?" Dia mencibir. "Bisa nya mengganggu orang aja."

Vanya makin melebarkan senyumnya tak peduli. Awalnya ia memang berniat berbicara serius empat mata dengan Gio perihal kepergian nya yang tiba-tiba menghilang dan harus memaksa dirinya untuk memutuskan hubungan pacaran dengan pria ini.

Tapi dia takut...lebih karena dia pengecut dan tak mau melihat kemarahan yang tak seharusnya ada di wajah Gio untuk sesuatu yang bukan urusannya sekalipun.

Vanya sudah terlalu mengenal Gio. Dan dia tidak mau Gio malah melukai dan membenci dirinya sendiri. Tidak, tidak. Dia takkan memberitahu kan hal yang sebenarnya kapan pun. Biar saja Gio membencinya Vanya tidak ingin Gio membenci orang lain lagi.

"Berada disini lebih lama sama lo , bisa-bisa migran gue kambuh mendadak jadi kritis!" Gio mencibir hendak bangkit dari kursi dan pergi.

Cekalan ditangan Vanya menuntutnya untuk berbalik dan melotot.

"Sekali-kali lah Al , temenin gue makan. Lo tau kan , gue gak pernah sekalipun ngusik kehidupan kencan lo bareng kekasih-kekasih lo itu. Gue cuman pengen lo nemenin gue makan doang."

"Al udah mati! Berapa kali gue bilang sama lo. Jangan panggil gue dengan sebutan yang satu itu!"

Vanya cemberut. Kelakuan Gio yang berubah menjadi playboy adalah bukti dirinya amat begitu salah atas tindakan nya dimasa lalu karena telah meninggalkan nya.

"Iya. Iya. Gio. Tuh, Gi-o." Vanya mengeja. "Gio jangan pergi yah?" Bujuk nya dengan wajah memelas andalannya.

Gio makin melotot. "Apa peduli lo? Lepas!"

"Gak mau!"

"Lepas gak??"

"Gak mau Gio.."

Gio menghela nafas jengah. Mencoba menarik tangan nya lepas dari cengkraman perempuan itu. Tapi yang terjadi selanjutnya adalah pekikan berlebihan Vanya yang tiba-tiba memegang perutnya sambil meringis dibuat-buat.

"Aduuuhh...perut ku , perut kuuu.."

Beberapa pengunjung resto menoleh dan mulai menatap kaget kearah Vanya. Gio yang menjadi bahan perhatian langsung dilayangkan pandangan mata penuh tuntutan dan ketidaksukaan para pengunjung.

Menyadari dirinya akan lebih terhina jika sampai menelantarkan Vanya yang masih memegangi perutnya dan meringis berlebihan. Gio mengambil kesimpulan bila Vanya hanya berakting.

Maka dari itu , Gio akan dengan senang hati menjadi lawan mainnya. Sesekali dia harus membuat perempuan ini jera karena sudah mengganggu aktivitas nya kemarin-kemarin sebab muncul nya dia dimana-mana seperti penguntit!

"Sayang kamu kenapa?"

Mendengar pertanyaan dan nada suara itu , Vanya langsung kaget dan mengangkat wajahnya. Terpampang kekhawatiran Gio disana. Entah kenapa hatinya kembali terenyuh , perasaan rindu kembali menyergap dan dia suka dengan ekspresi Gio saat ini.

When there [is] Hope (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang