26- If Only I Could

18.6K 506 0
                                        

"Jadi ...bisa jelasin ke gue sekarang little sist." Gio mengangkat dagunya , memandang adik yang selalu bisa membalasi setiap perkataan menyebalkan nya yang berakhir Gio yang jadi gemas sendiri. "Dari mana aja lo seminggu ini? Kenapa jarang pulang ke rumah?"

Anggi sejenak menggigit bibirnya dan menggeleng—menguatkan mentalnya sendiri untuk menghadapi Kakak tengilnya ini. Udah sok, kepo pula. Algio banget.

"Apa peduli lo? Gak usah ikut campur urusan orang deh," Anggi memutuskan melewati sang kakak hendak menaiki tangga menuju kamarnya, kebetulan Gio sedang mampir ke rumah. Menginap sementara di sana karena renovasi apartemen yang ditempatinya sedang berlangsung dan akan selesai dua sampai tiga minggu lagi.

"Anggi ..gue belom selesei ngomong—"

"Ngomong sama tembok aja. Biasanya juga gitu kan?"

Gio menggertakkan giginya sebal. "Songong banget sih lo jadi adek!"

Anggi membalikkan tubuhnya , memandang kakaknya dengan mata takjub. "Wahh! Kemajuan nih, sejak kapan abang tengil gue nganggep gue adeknya?"

Gio hanya mendengus , sedang perempuan itu kini tertawa. "Urusin tuh hidup lo, baru urusin gue Kak, kasian kak Vanya dianggurin. Padahal tinggal tarik aja langsung ke pelaminan. Sok jual mahal lo!"

"Heh! Lo gak berhak ya nyampurin urusan pribadi gue."

"Tuh liat!" Anggi menunjuk Gio menyebalkan. "Kak Gio bilang sendiri urusan pribadi kan? Udah jelas tadi lo nanya urusan pribadi gue tadi, yang pelanggaran siapa pula?"

"Lo kok ngeselin banget ya," Gio menggeram keki menatap adiknya.

Anggi hanya terkekeh garing. "Dari lahir kak,"

Gio mendengus , berdecak sebal saat setelah adiknya itu berjalan masuk ke kamar dengan masih terkekeh tak memperdulikan kegondokkan nya sama sekali.

Kenapa Anggi jadi ngeselin tingkat antariksa gini?

:::::::::::::::

Keyla's POV

Sudah berapa hari aku ada di tempat memuakkan ini???

Aku menatap langit-langit ruangan jenuh. Kepalaku mulai menoleh kesamping , tembok itu ...kembali aku menatap kesamping sebelahnya , astaga ...bahkan pintu itu...

Kenapa semuanya serba putih sih?

Aku jadi mengingat kejadian pahit yang selama ini sedang ku usahakan agar terlupa. Bahkan sudah lebih dari tiga tahun lamanya , kenapa aku kembali ke tempat ini?

Kenangan pahit yang dengan arogannya mulai menampakkan diri didalam pikiranku. Membuat aku kembali dilanda kesakittan dikepala juga kedadaku.

Aku sesak , sangat sesak.

Dengan gerakkan lambat-lambat aku meraih alat bantu pernapasan yang terletak disebelah kiriku, agak dekat dengan jendela , memakai nya sejenak hanya untuk menetralkan nafasku yang tersendat.

Aku bingung, aku sebenarnya sakit leukimia atau jantung sih? Mengingat kenangan pahit saja membuatku sesak nafas begini.

Melihat kesekeliling , aku menghela nafas lega. Tidak ada siapa pun. Aku menutupi kegembiraanku saat sebuah ide menyeruak.

Aku melepas pembantu nafas itu dan bangun dari posisi tidurku. Sedikit berat dari sebelumnya memang, tapi ini tak menggetarkan niatku. Aku menggapai tiang infus untuk ku seret—kebetulan tiang nya memakai roda dibawahnya jadi gampang di bawanya.

Kata Kak Ilham aku dilarang melepas infusnya , entah apa yang dia maksud. Dia hanya ingin aku tidak kehabisan zat nutrisi dalam tubuh takut aku pingsan dan penyakitku tambah parah.

When there [is] Hope (COMPLETE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang