PAGI berikutnya, di jam pelajaran pertama adalah olahraga. Seperti biasa pemanasan dilakukan dengan keliling lapangan utama sebanyak tiga kali. Tidak hanya kelas di mana Aluna berada, ada kelas lain yang melaksanakan jam olahraga yang sama dengan materi sama pula.
"Lo serius, Na, udah liat? Beneran dia atau bukan?" Sarah sedari tadi mendesak Aluna di sela-sela pemanasan. Setelah teman sebangkunya itu bercerita sedikit mengenai kejadian yang dialami kemarin, Sarah mulai heboh sendiri.
"Nggak yakin sebenernya. Karena gue cuma merasa cara bicaranya aja yang sama kayak yang waktu itu."
"Tapi menurut lo, sama nggak kayak yang waktu lo ditelpon? Soalnya 'kan suara di telpon sama yang asli suka beda kalo lo nggak begitu perhatiin."
Aluna mengedikkan bahu, dalam hati membenarkan ucapan Sarah. Aluna hanya mengingat suara berat itu dari telepon, sedangkan orang yang kemarin, tidak terlalu meyakinkan karena terlalu pelan. Apalagi, melihat tampangnya yang masih Aluna ingat seperti apa, membuat akurasi keyakinannya menurun.
"Rasanya mustahil kalo dia orangnya, Sa," gumam Aluna skeptis. Tangannya mengusap kening berponinya yang mulai memroduksi bulir-bulir peluh, pun disertai lari kecilnya yang melambat, membiarkan teman-teman yang lain mendahuluinya.
"Tapi kalo dia beneran gimana?" Sarah mendesak lagi, mata bulatnya berbinar tiba-tiba. "Kalo emang dia, lo mau terima, nggak?"
Aluna terkekeh, merasa geli dengan pertanyaan Sarah. "Nggak usah berandai-andai, ah. Gue sadar diri kalo orang kayak dia nggak mungkin ngelirik cewek."
Sarah berdecak, mencibir tanpa suara di belakang Aluna yang sudah mendahului. Matanya melirik ke arah lain, arah di mana murid-murid dari kelas lain mulai melakukan materi olahraga yang dipandu oleh Pak Tora, guru yang akan memandu kelasnya juga.
Itu terjadi begitu cepat di mata Sarah, ketika bola voli yang dimainkan oleh kelompok kelas lain lepas kontrol dan melayang keluar jalur hingga membentur telak kepala teman sebangkunya yang seketika membuat panik dirinya. Memanggil namanya dengan pekikan nyaring seraya berlari menghampiri yang untungnya sudah ada teman lain yang membantu si gadis untuk tetap berdiri.
"Na, lo nggak apa-apa?" Sarah ikut memegangi kepala Aluna, ikut meringis pula melihat temannya nampak kesakitan di sela-sela gelengannya. "Heh! Kalo main yang bener, kek! Dikira pala ditimpuk bola voli itu enteng?!" amarahnya mencuat begitu saja, tepat di saat beberapa siswa dari kelas lain berlari menghampiri demi mengambil bola voli yang ternyata sudah berada di tangan Dilan.
"Sorry, kita nggak sengaja," salah seorang siswa berucap seraya memeriksa keadaan Aluna yang masih tertunduk. "Nggak apa-apa?"
"I-iya, nggak apa-apa. Nanti juga ilang, kok." Aluna mendongak sekilas, agak kaget mendapati dirinya sudah dikelilingi banyak murid.
"Nggak apa-apa gimana? Tadi itu kenceng, Na!"
Aluna mendesis pada Sarah, mengisyaratkan agar temannya berhenti memperpanjang masalah kecil ini.
"Aduh, sori ya, tangan gue kepleset kayaknya tadi. Nggak bermaksud, beneran," satu siswa yang membawa kembali bola voli ikut menghampiri. Kemudian merintih keras ketika ada yang memukul belakang kepalanya. "Sakit, Ken!"
"Minta maaf yang bener."
"Iya, iya!" siswa yang memegang bola tersebut menunduk dalam. "Maaf, ya. Nggak ngulangin lagi."
"Udah gih, sana!" Sarah mengusir keduanya ketika di sisi lain Pak Tora mulai memanggil. Terlihat siswa itu menarik paksa temannya yang membawa bola voli untuk kembali.
"Sakit banget kayaknya, ya. Anter Alun aja ke UKS, Sar," celetuk Samuel.
"Nggak usah. Sakitnya mulai ilang kok," Aluna berusaha menebar senyum. Sedikit lega juga karena teman sekelasnya yang sempat mengelilinginya mulai kembali ke kegiatan awal.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Genius Secret Admirer
Teen Fiction[Sebagian cerita di-publish di Karyakarsa] Aluna tidak pernah berharap bahwa dirinya akan memiliki seorang penggemar rahasia. Kedatangannya yang tidak terduga ternyata mampu menarik perhatian Aluna untuk mencari wujud si pelaku, memicu debaran jantu...
