SARAPAN di hari itu terasa berbeda di meja makan kediaman Aluna. Teman-temannya ikut meramaikan dengan sahut-sahutan pembangkit semangat kedua orangtuanya. Tak pelak dirinya ikut terlarut hingga beberapa kali menyematkan tawa.
Sesekali, matanya akan bertamu sejenak pada lelaki yang duduk tepat di seberangnya, begitu nyaman diselingi obrolan hangat yang terjalin bersama Papa Farrell yang memang lebih banyak menumbuk perhatian padanya. Terlebih posisi duduk mereka yang juga dekat di mana sebenarnya Aluna lah yang biasa menempati.
Dehaman singkat keluar dari mulut Sarah. Gadis bermata bulat yang duduk tepat di sebelah Aluna itu merangsek mendekat demi berbisik di dekat telinga temannya.
"Kayaknya bokap lo udah ngasih lampu ijo buat Ken, ya. Tiati aja, Na. Mana tau entar tiba-tiba Ken ngasih seserahan aja."
Dengusan jengah menjadi jawaban Aluna. Ia menengok temannya yang sudah menaik-turunkan alis. "Masih pagi imajinasi lo udah ketinggian, ya."
"Halah, buktinya aja bokap lo nggak ada galak-galaknya begitu tau elo tidur bareng Ken tadi pagi. Malah ketawa-tawa gemes kayak pengen nyomblangin kalian cepet-cepet."
Aluna mendesis sebal. Wajahnya memerah kembali mengingat kejadian di pagi hari tadi yang sungguh merupakan ketidaksengajaan.
Lagipula, bagaimana bisa dirinya sampai ikut tertidur di saat tengah menemani lelaki itu beristirahat sejenak? Dan berakhir dirinya terbangun sudah dalam posisi di pangkuan Ken yang sudah kembali sibuk dengan laptopnya. Bahkan sudah ditonton teman-temannya dan menjadi bahan aduan untuk kedua orangtuanya yang malah direspon tawa.
Itu sungguh memalukan!
"Lagian, bisa-bisanya lo tidur ditemenin Ken gitu. Pasti lo berdua janjian nyelinep keluar kamar tengah malem. Terus ena-ena di ruang tamu."
"Uhuk!"
Sontak saja seluruh penghuni meja makan ini berpaling pada Aluna. Gadis itu sudah membekap mulutnya lantaran satu tangan lainnya memukul dadanya yang sesak. Sarah sudah gelagapan sementara Mama Anna dengan sigap membantu putrinya meneguk segelas air minum.
"Pelan-pelan dong makannya, Sayang."
Sarah mengikuti Mama Anna mengusap-usap punggung Aluna sebelum kemudian memekik kesakitan karena berikutnya Aluna mencubit keras lengannya.
"Kalo ngomong tuh disaring dulu!" sembur Aluna di sela napas terengahnya. Kesal bukan main temannya itu mengatakan hal yang sudah membuatnya nyaris pingsan kehabisan napas.
"Makanya kalo ngobrol teh jangan sembunyi-sembunyi. Pasti ngomongin kita-kita itu mah, kualat jadinya, 'kan?"
"Yeu, ge'er pisan si akang teh!"
"Itu namanya percaya diri biar makin kasep!"
"Cocok ya kalian, jadian gih." Dilan tergelak bersama Samuel tak peduli dengan pelototan Sarah.
"Yang ada gue sengsara jadi pacarnya, Sob. Mending sama Alun yang kalem. Adem gitu rasanya. Boleh 'kan, Om-Tan?"
Hanya dalam hitungan detik Samuel segera mendapat toyoran keras di kepala. Ken yang kebetulan berdiri setelah meminta izin pada Papa Farrell merupakan pelakunya sambil berlalu untuk menerima panggilan di ponselnya.
Sudah cukup mengundang gelak tawa dari Dilan juga Sarah melihat bule berdarah desa itu meringis menahan sakit.
Aluna sudah tak peduli dengan keributan di meja makannya. Seolah atensinya ikut terbawa ke mana perginya Ken sembari menjawab panggilan yang sempat Aluna dengar, bahwa lelaki itu tengah berbicara dengan papanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Genius Secret Admirer
Teen Fiction[Sebagian cerita di-publish di Karyakarsa] Aluna tidak pernah berharap bahwa dirinya akan memiliki seorang penggemar rahasia. Kedatangannya yang tidak terduga ternyata mampu menarik perhatian Aluna untuk mencari wujud si pelaku, memicu debaran jantu...
