[14] Confess To You

15.8K 1.4K 168
                                        

TIGA gadis remaja itu memasuki toilet bebarengan. Bukan untuk urgensi melainkan sebatas mematut diri pada cermin besar di depan wastafel sambil berceloteh.

"Liat nggak sih? Tuh cewek capernya udah keterlaluan. Sampe digotong-gotong sama Kak Ken segala lagi."

"Tuh cewek kayaknya lagi nyari muka ke semua anak-anak sekolah kalau dia deket sama Kak Ken."

Gadis cantik yang berdiri di tengah menghentakkan napas kasar penuh kesal. Menatap tajam dirinya sendiri melalui pantulan cermin dengan bibir terlipat ke dalam.

"Heran deh gue!" gadis itu menyisir rambut panjangnya yang bergelombang dengan kasar. "Gue udah dari kapan tau ya, ngincer Kak Ken sampe nggak pernah absen liatin dia tiap hari dan nggak luput siapa aja cewek yang udah berani deketin dia. Tapi ini? Ujug-ujug nongol cewek sok kalem yang dideketin Kak Ken! Pengen mengumpat di depan tuh cewek rasanya!"

"Sabar, Cit. Nggak cuma lo, kita, bahkan cewek-cewek lain pada kaget liat Kak Ken deketin tuh cewek tiba-tiba."

"Gue makin yakin deh, dia make jampe-jampe biar Kak Ken mau sama dia."

"Atau jangan-jangan dia bikin kesepakatan diam-diam sama Kak Ken. Mungkin aja tuh cewek ternyata nyerahin diri supaya Kak Ken notice dia."

Gadis cantik itu mencebik. "Busuk! Liat aja, gue bakal singkirin tuh cewek biar sadar kalau dia tuh nggak pantes buat Kak Ken!"

"Kak Ken harus liat siapa yang lebih ngagumin dia. Bukan cewek yang sok jual mahal kayak tuh cewek."

Pintu toilet tiba-tiba terbuka, menampakkan seorang gadis melenggang masuk mendekati mereka bertiga.

"Minggir dong," terasa bahwa dia tengah mengusir ketiga gadis itu. Tanpa peduli raut tidak terima mereka, dia membuka keran air lalu membilas kedua tangannya.

"Bisa baik-baik 'kan? Penghuni toilet ini lo, ya?"

"Hebat banget, toilet aja ada penguasanya."

Keduanya tertawa selain Citra yang menyungging senyum mencemooh.

Gadis itu sebatas mendengus sinis. Tidak menggubris mereka yang sudah beralih saling berbisik.

"Dia 'kan anak kelas Sepuluh."

"Mukanya masih baru banget, keliatan."

"Oh, ya? Wah, udah berani sama kakak kelas ceritanya?" Citra meneliti sosok yang masih acuh itu dengan tatapan angkuhnya. "Eh, Dek, hati-hati kalo mau ngapa-ngapain, ya. Jaga sikap. Lo tuh masih baru di sini."

Gadis itu mematikan keran air sebelum menghadap mereka tanpa ada rasa takut. Tersenyum remeh. "Ribet amat jadi kakak kelas. Gue cuma ngomong minggir dan kalian udah kayak emak-emak baperan."

Dia sudah berbalik ketika Citra mencekal bahunya untuk kembali. Gadis cantik itu terpancing.

"Dibilangin baik-baik kok malah nyolot lo?"

Dia menepis kasar cekalan Citra. "Kayak gitu baik-baik, ya? Ngaca dulu, gih. Udah sebagus apa lo buat dibaik-baikin jadi senior emangnya?"

"Elo tuh yang ngaca! Baru jadi cimit-cimit di sini udah pongah begini. Siapa lo emangnya?" teman-teman Citra ikut maju.

Gadis berambut panjang hitam kecoklatan yang dibiarkan tergerai itu memutar mata seraya bersedekap. "Siapa gue? Gue adek kelas yang nggak mungkin mau tunduk sama orang yang udah seenaknya ngelabrak kakak kelas nggak bersalah."

Mereka terdiam. Tampak saling pandang kecuali Citra yang sepertinya langsung mengerti maksud dari gadis di hadapannya.

"Udah inget? Kalau gitu biar gue kasih tau ke kalian yang udah merasa jadi senior di sini," dia menyeringai melihat gadis cantik itu mendelik marah padanya. "Jangan remehin orang lain cuma karena merasa dia nggak setara sama level lo. Lo nggak tau apa-apa sama selera orang yang belum tentu mau ngelirik lo."

My Genius Secret AdmirerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang