MOBIL sedan abu-abu itu berhenti tepat di depan gerbang rumah Aluna. Gadis itu segera turun dari sana dan nyaris membuka masuk ke dalam pekarangan kala lelaki itu memanggilnya.
"Kamu lupain ini."
Aluna merutuki kecerobohannya. Melupakan ransel sekolahnya yang sudah dijinjing Ken dan lelaki itu mengantarkannya ke hadapan. Buru-buru Aluna merebut ranselnya, memeluknya begitu saja dan sebatas menggumam tak jelas sebelum berbalik.
"Aluna."
Aluna sungguh benci dengan reaksi tubuhnya kali ini. Hanya mendengar panggilan halus yang sudah terasa khas dibarengi cekalan lembut di lengannya sudah cukup membuat tubuh Aluna berubah kaku dan begitu saja mengikuti tarikan Ken Alvino.
Wajah tertunduk Aluna sudah cukup menjadi jawaban untuk Ken bahwa gadis itu sedang amat menghindarinya.
"Jangan banyak pikiran. Kamu harus istirahat habis ini." Ken menepuk puncak kepala Aluna sebelum menuntun gadis itu melewati gerbang rumah, berinisiatif menguncinya yang justru dimanfaatkan Aluna untuk berlari masuk ke dalam rumah.
Gadis itu menyandarkan punggungnya ke balik pintu, terdiam beberapa saat hingga indera pendengarannya fokus pada suara di luar sana. Pintu mobil yang ditutup, deru mesin yang menyala, lalu suara melaju mobil yang mulai menjauh. Di mana semua itu ternyata membuat Aluna menahan napas hingga kini ia tampak menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya panjang.
Dari balik ranselnya yang masih dipeluk, Aluna masih bisa merasakan debaran jantungnya yang menggila. Tidak seperti biasanya, kali ini debaran itu tidak kunjung mereda semenjak Ken Alvino menyatakan perasaan padanya di taman kota tadi.
"I think I'm not just interested to you, but I've fallen in love with you, Aluna,"
"...I've fallen in love with you..."
"...fallen in love with you..."
Mengacaukan kinerja otaknya hingga kalimat itu terus saja terputar berulang-ulang bagai kaset kusut yang semakin membuat Aluna tak mampu menemukan ketenangan.
Aluna tidak pernah menyangka bahwa mendapat pernyataan rasa akan membuatnya kehilangan akal sehat seperti ini.
Jadi begini rasanya ditembak sama Ken Alvino?
Sepertinya Aluna makin kehilangan nyali untuk bertatap muka dengan Ken Alvino setelah ini.
****
Awal pekan datang begitu cepat bagi Aluna. Rasanya baru kali ini Aluna memiliki niat untuk tidak masuk sekolah saja. Tapi Mama Anna sedari pagi tadi sudah mengoceh aneh melihat dirinya bermalas-malasan.
"Kamu ini, nggak biasanya males-malesan begini. Mau Mama telponin Nak Alvin biar jemput kamu, apa?"
Aluna sungguh tidak habis pikir sudah sejauh mana mamanya mengenal lelaki itu. Anehnya lagi, sejak dirinya pulang sekolah kala itu, Mama Anna terus saja menyebut nama yang sebenarnya sedang dihindarinya.
"Mama dapat kabar dari Nak Alvin kalau kamu sempet drop di sekolah. Kamu jaga kesehatan, dong."
"Untung aja Nak Alvin mau ngurusin kamu. Mama sempet khawatir, lho. Tapi kalau udah ada Nak Alvin, Mama bisa sedikit lega."
"Oh ya, kamu pulang sama Nak Alvin, 'kan? Kok Mama nggak liat dia, ya? Kamu nggak suruh dia mampir dulu emangnya?"
"Kamu bisa anterin brownies ini ke rumah Nak Alvin? Mama mau kasih ini sebagai tanda terima kasih buat dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Genius Secret Admirer
Jugendliteratur[Sebagian cerita di-publish di Karyakarsa] Aluna tidak pernah berharap bahwa dirinya akan memiliki seorang penggemar rahasia. Kedatangannya yang tidak terduga ternyata mampu menarik perhatian Aluna untuk mencari wujud si pelaku, memicu debaran jantu...
