[32] Pressure

11.4K 1.1K 141
                                        

KEN memasuki ruang kerja khusus di rumahnya. Menghampiri seorang pria yang sudah menunggu di balik meja kebesarannya dengan tatapan lurus padanya. Tidak ada sapaan berarti begitu mereka saling berhadapan.

"Kenapa kamu mengabaikan telepon dari Papa?" adalah kalimat tanya Anwar yang membuka percakapan ini.

"Vino masih di sekolah dan baru menyelesaikan ujian, Pa."

Seolah sudah cukup menerima jawaban Ken, Anwar tidak mengungkit lagi dan beralih menyerahkan serangkap data untuk Ken. Tentunya dengan sigap Ken menerimanya.

"Pelajari itu. Semester depan kamu sudah harus putuskan untuk mengikut ujian masuk yang mana."

Hanya dengan memelajari paragraf pertama di halaman awal, Ken sudah bisa menebak bahwa ayahnya baru saja memberikan pilihan universitas ternama untuk di bidang marketing bisnis.

"Papa nggak ada niatan untuk tanya apa yang Vino mau?"

Anwar melirik putranya yang sudah kembali menatap dirinya. "Papa sudah tau apa yang terbaik untuk kamu. Lagipula, Papa memberikan kebebasan kamu untuk memilih di mana saja kamu ingin berkuliah sekalipun di luar negeri. Papa bisa sanggupi itu semua."

"Bagaimana kalau Vino ingin belajar di luar dari semua ini?"

Anwar mengangkat dagu demi menatap penuh putranya. "Maksud kamu?"

"Sepertinya Papa sudah tau apa maksud Vino." Ken menurunkan pandangan, berpamitan secara nonverbal sebelum berbalik hendak keluar dari ruangan tersebut.

"Kamu juga sudah tau bahwa Papa amat sangat mengandalkan kamu, Vino."

Langkahnya terhenti. Tanpa menoleh pun Ken tahu bahwa Anwar menatap intens dirinya. Tapi setidaknya Anwar tidak tahu bahwa satu tangan yang menggenggam gagang pintu ruangan itu sudah mengetat. Dan berharap tidak menghancurkan kemulusan rangkapan data di tangan lainnya.

****

Saat Aluna tengah fokus belajar, pintu kamarnya terbuka. Papa Farrell yang masih mengenakan kemeja kerja tampak tersenyum menghampiri putrinya yang sepertinya belum mengetahui kedatangannya.

Maka Aluna sedikit terhenyak dan segera melepas earphon yang menyumpal dua telinganya demi menyambut Papa Farrell yang baru saja memberi kecupan hangat di ubun-ubunnya.

"Papa kapan pulang?"

"Belum lama. Mama bilang anak Papa satu-satunya ini lagi sibuk belajar jadi nggak bisa nyambut papanya di depan."

Aluna meringis tidak enak. Tapi senyumnya tetap merekah karena Papa Farrell terus merangkulnya. "Besok mata pelajarannya susah-susah, Pa. Jadi Luna terus ngulangin kisi-kisi materinya biar beneran paham."

"Terus kamu jadi mengabaikan waktu makan malam." Papa Farrell mencubit pipi Aluna perlahan. "Mama bilang kamu langsung ngurung diri di kamar dari pulang sampai sekarang. Kebiasaan kamu kalau lagi musim ujian nggak pernah sembuh, ya."

"Ujian itu 'kan musim penentuan, Pa. Percuma kalau udah belajar lama tapi di ujian malah nggak ada hasil. Luna harus maksimalin hasil belajar Luna biar nggak ngecewain. Luna juga harus pertahanin peringkat di kelas sama seangkatan. Kalau perlu ya naik peringkat."

Papa Farrell terkekeh pelan mendengar penjelasan Aluna. "Papa sama Mama tentu bangga kalau kamu semangat belajar seperti ini. Tapi jangan sampai kamu lupa sama kebutuhan tubuh kamu sendiri. Ayo, makan dulu sama-sama."

"Iya, Pa." Aluna pun merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja belajarnya. Sementara Papa Farrell tampaknya merogoh sesuatu dari dalam tasnya yang sempat diletakkan di atas tempat tidur putrinya.

My Genius Secret AdmirerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang