ADA banyak murid berkumpul di depan Ruang BK. Memang tidak seperti biasanya. Sebab minggu ini adalah dibukanya pemasukan data nilai rapor untuk seleksi masuk PTN melalui jalur undangan. Satu per satu kelas mendapat giliran dan tentunya diawasi oleh beberapa guru saat input data berjalan.
Kelas Aluna mendapat giliran akhir di hari ini. Dia baru saja keluar dari ruangan setelah menyelesaikan gilirannya dan menemukan teman-teman sekelasnya tampak sibuk memeriksa rapor masing-masing dengan bermacam-macam ekspresi. Ia kemudian menemukan keberadaan Sarah bersama Dilan juga Samuel sedang mengobrol asyik bersama lelaki dari kelas lain.
"Eh, Aluna! Gimana input datanya? Lancar?" Tristan ternyata lebih dulu menyadari kedatangannya. Melambaikan tangan untuknya.
"Eh, gimana, Na? Gampang, nggak masukinnya?" Sarah langsung menggandeng lengan Aluna.
"Gampang kok. Lagian juga ditemenin sama guru. Jadi nggak bakal ada kesulitan ntar."
"Aduh dah gue grogi, euy. Takut salah masukin. Ntar 'kan sekolah juga yang kena, kumaha ieu ntar?"
"Ya jangan sampe salah lah atuh si akang teh kumaha," goda Dilan yang malah mengundang tawa sekaligus tinjuan dari Sarah.
"Sejak kapan lo sok nyunda gini? Nggak pantes sama muka lo!"
"Kegantengan ya, kalo buat nyunda?"
"Sialan, terus maksudnya muka bule macam gue ini nggak ganteng, gitu?!"
"Kalem weh. Dasarnya gue paling kasep mah sadar diri maneh aturan."
"Sambarangan ai maneh! Nih, makan ketek aing!"
Aluna tergelak melihat Samuel langsung menerjang Dilan dengan jepitan ketiaknya. Memiting leher Dilan sampai keduanya berputar-putar mengundang perhatian beberapa murid di sini. Selalu saja, hal kecil dibesar-besarkan oleh mereka dan malah menjadi bahan guyonan seperti sekarang.
"Lo udah?" Aluna beralih bertanya pada Tristan.
"Dari Senin kemarin kelas gue, mah. Udah duluan." Tristan kemudian mengedikkan bahu. "Tapi nggak tau deh si Ken udah atau belum. Waktu giliran kelas kita dianya nggak masuk abisan. Nyusul, kali."
Aluna hanya mengangguk. Senyumnya pun tidak selebar sebelumnya. Ketika yang lain kembali melanjutkan candaan, dia justru mulai tenggelam dalam ketermenungan.
Waktu sudah berjalan cukup lama sejak kejadian itu. Tidak ada gangguan yang menakuti Aluna. Hanya saja, Ken Alvino tampak menghindar darinya. Bukan dalam arti yang sesungguhnya. Namun Aluna merasa bahwa lelaki itu semakin gencar dibuat sibuk dengan urusan di luar status semestinya.
Ini bahkan sudah menuju akhir pekan dan selama itu pula Ken tidak terlihat batang hidungnya. Sarah yang jelas lebih mengetahui keadaan saudara sepupunya itu sudah misuh-misuh atas keprihatinannya melihat kondisi Ken dari kemarin.
"Nggak ngerti lagi sama otak jenius bokapnya. Saking jeniusnya, dia udah nggak bisa bedain mana yang lebih prioritas buat si Ken. Gue rasa kalo warasnya beneran ilang, si Ken malah udah nggak boleh sekolah biar langsung jadi asisten pribadinya aja."
Merupakan kalimat yang sudah terdengar tidak sopan. Sarah bahkan terlihat sekali ingin mencakar orang yang sudah disindir habis-habisan kala itu. Bahkan dia berani mengatakannya di depan Kinan yang notabenenya adalah putri dari orang yang dia bilang jenius itu.
Aluna mengeluarkan ponselnya begitu kembali duduk di dalam kelas. Kondisinya masih agak sepi mengingat yang lain masih sibuk di bawah. Begitu juga teman-temannya. Sambil menunggu, ia memeriksa kolom chat-nya bersama Ken Alvino untuk kesekian kali dan masih belum mendapat balasan apapun dari lelaki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Genius Secret Admirer
Novela Juvenil[Sebagian cerita di-publish di Karyakarsa] Aluna tidak pernah berharap bahwa dirinya akan memiliki seorang penggemar rahasia. Kedatangannya yang tidak terduga ternyata mampu menarik perhatian Aluna untuk mencari wujud si pelaku, memicu debaran jantu...
