KELUAR dari kediaman Ken, Aluna bagai pasrah digandeng lelaki itu menuju mobil yang akan mengantarnya pulang. Setelah Ken mengabari adiknya yang berjaga di rumah Sarah agar mengantarkan tas sekolah Aluna, Kinan menyusul muncul dengan barang pesanan.
"Jadi, udah selesai beduaannya? Cepet banget perasaan," goda Kinan disertai raut sumringahnya. Tidak ada sinar curiga. Gadis itu tentu percaya dengan kakaknya sendiri yang tinggal berdua saja dengan Aluna di dalam sana.
"Kalau mau makan, minta aja sama Bi Eka. Jangan boros." Adalah yang Ken katakan setelah menerima tas dari adiknya. Sebelum kemudian merasakan barang tersebut segera berpindah ke tangan pemiliknya.
Aluna memilih menjauh, menuju mobil yang terparkir di depan pekarangan rumah Ken yang tentu sudah dihapalnya. Menunggu kunci otomatisnya terbuka yang ternyata di waktu bersamaan datanglah sedan hitam metalik berhenti tepat di depan mobil abu-abu milik Ken.
Jika sebelumnya Aluna tidak peduli seseorang muncul dari dalamnya lalu melangkah penuh wibawa melewatinya, kini Aluna tak berkedip melihat pria setengah baya itu berdiri tepat di hadapan kedua bersaudara yang sudah memasang raut tegang.
"Papa kok udah pulang? Kinan kira urusan di Semarang baru selesai besok," ada nada gugup di suara sambutan Kinan setelah mencium tangan pria itu bagai sebatas formalitas.
"Ada yang tertinggal dan harus Papa bawa sendiri dari sini." Anwar, papa dari Ken dan Kinan memiliki suara berat yang bisa mengintimidasi siapa saja yang beliau mau. "Nanti Papa kembali lagi ke sana dengan Vino."
Tetapi Ken Alvino dengan berani membalas lirikan pria berusia kisaran akhir 40 tahun itu kemudian berkata, "Ada yang harus Vino selesaikan terlebih dulu. Jadi Vino akan menyusul nanti."
"Urusan apa memangnya?" sesaat setelah Anwar bertanya demikian, sudut matanya menyadari adanya sosok lain hingga begitu saja beliau menoleh.
Aluna bisa merasakan sinar ketegasan di mata pria itu amat kuat sampai-sampai ia menahan napas.
"Vino harus antar dia pulang lebih dulu. Nggak akan lama dan itu cukup sebelum Vino menyusul."
"Memangnya siapa dia?"
"Teman Kak Sarah, Pa, teman Kinan juga. Sebagai bentuk terima kasih karena udah merawat Kak Sarah, Kinan minta Kak Vino buat antar dia pulang. Ini udah sore banget soalnya." Kinan menjawab cepat yang berhasil menarik atensi Anwar kepadanya. Barulah ia mendorong Ken memberi kesempatan, "Sana, Kak. Nanti dia keburu dicariin mamanya. Udah mau maghrib soalnya."
Ken pun pamit undur diri dari hadapan Anwar. Sementara Kinan terus mengalihkan perhatian papa mereka dengan menawarkan santapan sebelum pergi. Ditariknya Aluna yang tampak kebingungan menuju mobilnya dan segera membukakan pintu.
"Vino."
Namun panggilan lugas dari Anwar tak hanya menghentikan Ken, pun Aluna yang hampir masuk terpaksa berhenti seolah dirinya ikut terpanggil.
"Sebelum jam tujuh, kamu harus sudah ada di bandara. Papa sudah pesankan tiket pesawat untuk kamu juga."
Jika Ken mengiyakan tanpa adanya nada keberatan, Aluna justru tidak bisa lagi menyembunyikan rasa terperangahnya mendengarkan kalimat mutlak pria yang tak lain adalah ayah dari Ken Alvino.
Di sela itu, tubuh Aluna segera tersentak masuk ke dalam mobil berkat dorongan Ken yang berusaha menghindarkan gadis itu dari mata menilai milik Anwar.
****
Jika biasanya Aluna merasa nyaman dengan keheningan yang tercipta selama ia duduk manis di dalam mobil Ken, kini Aluna justru merasakan atmosfir kecanggungan memenuhi ruang sempit itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Genius Secret Admirer
Ficção Adolescente[Sebagian cerita di-publish di Karyakarsa] Aluna tidak pernah berharap bahwa dirinya akan memiliki seorang penggemar rahasia. Kedatangannya yang tidak terduga ternyata mampu menarik perhatian Aluna untuk mencari wujud si pelaku, memicu debaran jantu...
