PRIA itu tampak serius dengan ponsel pintar di telinganya. Mata tajamnya terfokus pada layar komputer di depan meja besarnya, satu tangan lainnya menggerakkan kursor di layar untuk membuka sebuah file hasil kiriman.
"Akan saya hubungi lagi jika dibutuhkan. Untuk saat ini, kamu sudah bekerja dengan baik." Tutup Anwar sebelum memutus sambungan teleponnya.
Pandangannya terus meneliti layar datar di depannya, sesekali muncul kerutan samar di dahi tanda ada yang melintas di pikirannya. Dalam hitungan menit, ia akhirnya meraih kembali ponselnya, membuka nama kontak Alvino untuk melakukan panggilan, namun segera diurungnya. Seperti ada yang bersinggungan di dalam pikirannya sebelum kemudian ia letakkan kembali benda pintar itu di atas meja.
Lalu kembali menatap layar komputernya, yang tengah menerterakan tampilan sebuah identitas seorang perempuan.
****
Aluna tersentak kaget berkat meja miliknya bergeser keras akibat dari senggolan seseorang. Spontan ia menoleh dengan kernyitan di dahi menemukan gadis itu sudah memandang tak bersahabat dirinya.
"Maaf ya, nggak sengaja." Citra hampir mengibas rambut panjangnya ketika pekikan kaget keluar dari mulutnya. Nyaris terjatuh jika kakinya yang sempat tersandung tidak terantuk meja di dekatnya.
"Ups, sori ya, lo nggak keliatan sih." Dilan memamerkan senyum manisnya seraya melewati gadis cantik itu tanpa beban.
Aluna memandang tidak percaya temannya yang sudah duduk tepat di depannya. "Nggak keliatan? Kalo dia jatoh beneran gara-gara kaki jail lo itu, masih mau bilang nggak keliatan?"
"Gue pake perhitungan kali, Lun. Abisan ngeliat dia nongol dari luar aja udah keliatan niat jeleknya ke elo. Masa iya gue diem aja?" Dilan melirik tak suka gadis yang sudah duduk di tempatnya, sudah tertunduk tidak nyaman. "Itu pun karena gue masih inget dia cewek. Kalo Ken yang dihadepin, bisa abis lagi dia."
"Udah lah. Orang tuh nggak bisa langsung berubah cepet. Mungkin dia bakalan berhenti anggap gue saingannya kalo kita udah lulus."
"Dan lo mau dimusuhin dengan alasan nggak jelas sampe kita lulus, gitu?"
Aluna mengedikkan bahu. "Gue nggak mau mikirin hal-hal kayak gitu."
Dilan mendengus cepat. Bertopang dagu di meja Aluna sekaligus mengamati bagaimana gadis itu kembali berkutat dengan buku-bukunya. Dia amat menyayangkan bahwa masih ada saja yang tidak suka dengan gadis seperti temannya ini. Seperti pepatah, sebaik-baik apapun seseorang, pasti ada saja yang tidak menyukainya.
"Lun."
"Hm?"
"Lo udah jadian beneran sama Ken, 'kan?"
Tangannya yang sedari tadi menggores pena di buku coretan terhenti. Aluna melirik lelaki di hadapannya melalui balik bulu mata, lalu kembali ke semula dan melanjutkan kegiatannya. Tanpa berkata apapun.
"Sarah udah cerita, ya. Soal insiden lo kecebur di kolam renangnya, terus lo dibawa ke kamar Ken dan begitu keluar kalian udah gandengan mesra kayak pengantin baru."
Sontak saja Aluna memukul Dilan dengan pena di tangan. Wajahnya mendadak memanas disertai rona merah yang mulai timbul. Mereka berhasil menarik atensi beberapa penghuni ruangan ini berkat rintihan keras Dilan.
"Sembarangan kalo ngomong!" sembur Aluna.
"Itu bukan gue yang ngomong. Sarah yang cerita ke gue kayak gitu!" sergah Dilan di sela mengusap-usap keningnya. "Dan gara-gara itu, gue sama Sarah curiga kalo sebenernya kalian jadian karena udah...,"
Wajah Aluna semakin padam melihat Dilan memeragakan dua paruh angsa saling bertemu dengan dua tangannya. Sekali lagi ia menjatuhkan pukulan di kening Dilan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Genius Secret Admirer
Novela Juvenil[Sebagian cerita di-publish di Karyakarsa] Aluna tidak pernah berharap bahwa dirinya akan memiliki seorang penggemar rahasia. Kedatangannya yang tidak terduga ternyata mampu menarik perhatian Aluna untuk mencari wujud si pelaku, memicu debaran jantu...
