ALUNA membasuh wajahnya beberapa kali sebelum mematut diri pada cermin. Hitungan detik dirinya melamun membiarkan sisa-sia air menetes. Matanya masih terlihat sembab dan merah tetapi setidaknya sudah sedikit lebih baik. Untuk kesekian kalinya dia menarik napas panjang demi menguatkan diri. Barulah mengeringkan wajahnya dengan handuk yang diberikan Kinan.
Ketukan pintu mengumpulkan sepenuhnya kesadaran Aluna. Mendengar Sarah memanggilnya dari luar yang segera dibalasnya.
“Na, gue sama yang lain mau makan. Lo mau ikut, nggak?”
“Nggak usah ya, Alun. Lo 'kan udah makan tadi sama Tuan Besar. Biar lo di sini aja nemenin si Akang.”
Lalu suara rintihan Samuel terdengar dibarengi decakan dari Dilan. Aluna mendengkus geli sebelum akhirnya menjawab, “Iya. Gue masih kenyang kok. Gih, sana!”
Tak lama suasana di luar berubah hening. Aluna pun keluar dari kamar mandi, menemukan ternyata masih ada suster yang tengah menggantikan kantung infus Ken bersama seorang dokter.
“Hanya butuh beberapa minggu. Untuk selama itu, pastikan kamu tidak melakukan banyak aktivitas yang berat menggunakan sebelah tangan kamu.”
“Baik, Dok.”
“Sebuah keberuntungan buat kamu. Kecelakaan yang menimpa beberapa hari lalu termasuk parah. Tapi cidera yang menyerang kamu tidak tergolong berat. Jadi kemungkinan masa perawatan kamu di sini bisa lebih cepat dari biasanya.”
Aluna tersenyum melihat Ken malah mengalihkan perhatian padanya. Mata tajamnya seketika melembut seakan berbicara sesuatu. Dia sekadar mengucapkan terima kasih dan dokter tersebut akhirnya undur diri bersama sang suster. Menyisakan Aluna yang segera mendekat pada lelaki itu.
“Dokter bilang apa soal tangan kamu?”
“Seperti yang kamu dengar, aku baru bisa leluasa pakai beberapa minggu lagi.” Ken mengangkat sedikit tangan kanannya yang masih diperban total. “Tapi itu nggak masalah buatku. Kan aku kidal.”
“Tapi tetap aja, pakai satu tangan itu bakalan susah buat ngapa-ngapain.”
“Nggak juga.” Ken meraih tangan Aluna, menariknya hingga gadis itu semakin dekat. “Aku masih bisa gandeng kamu.” Lalu mencubit pelan pipinya. “Masih bisa sentuh kamu.” Dan bibirnya menyeringai jahil. “Meluk sampai cium kamu juga bisa.”
“Mulai kumat deh mesumnya!”
Gelak tawa Ken pun terdengar. Membuat Aluna yang sempat tersipu malu akhirnya ikut tertawa. Hatinya berdesir hangat menyaksikan lelaki itu sudah seceria ini pasca tak sadarkan diri.
“Kalau aku kesulitan, kamu bakalan bantuin aku 'kan?” Ken mengangkat kembali tangan kanannya. “Mau jadi tangan kanan aku, nggak?”
Bibir Aluna melengkung manis. Matanya berkata lebih dari itu kala anggukan pasti ia lakukan. Tanpa diminta dua kali, Aluna menuruti Ken yang menepuk sisi bangsalnya agar duduk di sana. Membiarkan tangan mereka saling menggenggam, bertautan.
“Aku mau kasih tahu kamu suatu hal.”
“Apa?”
“Ingat waktu aku sempat telepon kamu sebelum kecelakaan itu?” Ken terdiam sejenak, mengamati perubahan ekspresi di wajah Aluna. “Sebenarnya aku mau kasih tahu kalau aku lagi dalam perjalanan ke rumah kamu.”
Aluna tertegun. Kaki-kakinya yang sempat berayun-ayun ringan sertamerta berhenti.
“Ada banyak hal yang mau aku ungkapin setelah dengar omelan Sarah waktu itu. Aku nggak bisa nahan diri dan maksain badan aku buat pergi. Aku berpikir kalau memilih tetap diam di kamar cuma akan bikin aku terus merasa bersalah sama kamu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
My Genius Secret Admirer
Roman pour Adolescents[Sebagian cerita di-publish di Karyakarsa] Aluna tidak pernah berharap bahwa dirinya akan memiliki seorang penggemar rahasia. Kedatangannya yang tidak terduga ternyata mampu menarik perhatian Aluna untuk mencari wujud si pelaku, memicu debaran jantu...
