[33] Something She Doesn't Know

11.1K 1.1K 138
                                        

ALUNA segera melompat turun dari motor Ken begitu kendaraan itu berhenti tak jauh dari rumahnya. Melepas helm tanpa segera mengembalikannya pada si pemilik dan memilih untuk menatap heran lelaki itu.

"Tadi itu kenapa? Kok kayak lagi dikejar-kejar gitu?"

Ken ikut melepas helmnya. Menatap lurus Aluna sebelum menggeleng pelan. Tetapi Aluna tahu bahwa lelaki itu berbohong.

"Kalo nggak kenapa-kenapa, nggak mungkin kamu segitu buru-burunya bahkan sampe ngebut kayak tadi. Itu bikin aku sempet takut, tau."

Senyum kecil tersemat di bibir Ken. Direngkuhnya sisi kepala Aluna melihat gadis itu cemberut sekaligus bingung terhadap dirinya. "Maaf. Aku nggak bermaksud nakutin kamu."

"Terus apa? Lagi ngerjain aku? Perasaan ini bukan hari ultah aku apalagi April Mop." Mata Aluna menyipit. "Ada yang ngejar kamu? Atau ada yang lagi ngintai kamu?"

Usapan pelan di kepala Aluna terhenti. Sepintas Aluna melihat adanya kilat tak biasa di mata tajam Ken. Seolah tebakan asalnya sempat dibenarkan oleh lelaki itu. Sontak saja Aluna mencekal tangan Ken yang nyaris jatuh dari kepalanya, menelisik lebih dalam ekspresi yang sulit sekali untuk ditebak saat ini.

"Siapa yang lagi ngejar kamu?"

"Nggak ada."

"Bohong." Bibir Aluna terlipat ke dalam. "Oke, nggak apa-apa kalo kamu nggak mau cerita. Palingan nanti aku bisa tau sendiri."

Gadis itu pun melepas pegangannya di tangan Ken, meletakkan helmnya di spion motor Ken lalu melangkah mundur. Dia berusaha untuk tidak membuat lelaki itu terpojok karena dia tahu bahwa Ken Alvino memang sedang menyembunyikan sesuatu.

"Makasih udah dianterin. Hati-hati di jalan. Jangan kebut-kebutan kayak tadi, ya."

Aluna menyematkan senyum sekali lagi sebelum berbalik menuju pintu pagar rumahnya. Jika memang Ken tidak mau bercerita, mungkin memang karena lelaki itu butuh saat yang tepat untuk mengungkapkan padanya.

"Aluna."

Hampir saja Aluna membuka pintu pagar, ia lebih dulu mendapati Ken sudah turun dari motornya, melangkah mendekat dan tanpa berkata lagi menarik Aluna masuk ke dalam pelukannya.

Jika diingat-ingat lagi, rasanya baru kali pertama ini Aluna dipeluk begitu erat oleh Ken Alvino. Bagaimana lengan-lengan lelaki itu menenggelamkan dirinya, menyanggah belakang kepalanya hanya agar Aluna merasa nyaman bersandar di dadanya. Dari situ Aluna mampu mendengar detak jantung Ken yang berdegup cepat. Sama seperti miliknya.

"K-Kenal?" setidaknya akal sehat Aluna masih tersisa. Mencoba mendorong meski tenaga miliknya tidak ada yang terkerahkan. Seolah raganya berkata lain merelakan dirinya diikat kuat oleh lelaki itu.

"Cuma sebentar. Aku butuh kamu sebentar."

Hingga suara parau Ken melunturkan penolakan Aluna, meluluhkan hati Aluna untuk membiarkan Ken semakin melingkupinya. Merasakan hembusan napas berat itu di dekat telinganya, juga merasakan bagaimana Ken menghirup aroma di balik surainya.

Karena sepertinya Aluna mulai mengerti bahwa Ken Alvino tengah dalam keadaan tertekan saat ini.

****

Sarah menarik Kinan masuk ke dalam rumahnya tepat setelah mereka turun dari mobil pribadi Sarah. Gadis berambut ponytail itu sudah was-was sejak melihat adik dari sepupunya terus tampak khawatir sejak mengantar kepergian Ken bersama Aluna dari sekolah tadi.

"Lo salah liat kali. Mana mungkin antek-anteknya bisa sampe masuk ke sekolah? Jangan ngarang, ah!"

Kinan menggeleng cepat. "Aku nggak mungkin salah liat, Kak. Aku tuh udah hapal kayak apa anak-anak buah Papa. Mereka mau sembunyi di mana, di mata aku mereka tuh udah mencolok."

My Genius Secret AdmirerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang