[18] Surprising Time

15K 1.4K 136
                                        

PAGI hari menjelang, Aluna keluar dari gerbang rumahnya setelah memastikan tidak ada yang menunggu di depannya. Tidak ada kendaraan yang membuat jantungnya berolahraga di pagi hari ini, jadi sudah semestinya Aluna tidak kembali mengingat ucapan kosong lelaki itu kemarin.

Baru saja membuka tiga langkah menjauh dari gerbang, Aluna mematung seketika begitu menemukan lelaki itu sudah berdiri di dekat motor abu-abu, terparkir tak jauh dari gerbang rumahnya, sudah memandang lurus dirinya dengan sinar penuh arti di mata hitamnya.

"Kenapa kelihatan kaget begitu? Nggak nyangka aku dateng pakai motor?"

Aluna menggeleng cepat. "Gue hampir seneng karena ngira lo cuma asal ngomong kemarin."

"Aku nggak pernah ingkar sama omongan sendiri. Kamu harusnya ingat itu." Ken memberikan helm yang memang dia bawakan untuk Aluna.

"Ya, itu lebih baik daripada lo bawa mobil," deham Aluna mulai salah tingkah. Memakai helmnya sambil melangkah kaku mendekati motor Ken Alvino yang sebenarnya sudah familiar pula di mata.

Aluna hampir lupa bahwa sebenarnya inilah rutinitas Ken Alvino. Datang ke sekolah menggunakan motor matic abu-abu. Bukan mobil abu-abu yang beberapa kali sudah Aluna tumpangi. Tentu saja Aluna tidak menyesal. Dia justru bersyukur Ken menjemputnya dengan ini.

"Jadi kamu memang udah terima bakal aku jemput kayak gini."

Delikan spontan Aluna berikan pada Ken yang tengah mengulum senyum di atas motornya. "Gue berharap lo nggak nyamperin gue terus-terusan!"

"Tergantung," balas Ken acuh, menyalakan mesinnya lalu memberi isyarat pada Aluna untuk naik.

Detik berikutnya Aluna menelan saliva. Ini akan menjadi kali pertama baginya berada tepat di balik punggung lelaki itu dalam menempuh perjalanan hitungan kilometer menuju sekolah.

...

Jika kemarin Aluna berhasil menghindari serangan publik di sekolah, kali ini Aluna tidak bisa ke mana-mana. Merupakan kali pertama baginya bahwa memasuki arena sekolah bagai memasuki panggung opera. Semua mata tertuju padanya. Hingga pekikan yang jelas meneriakkan kedatangannya bersama Ken Alvino membuat dirinya ingin kembali pulang ke rumah saja.

Berita soal kemarin sepertinya memang sudah menyebar luas. Mereka yang tahu siapa Ken Alvino pasti mengetahui juga siapa Aluna. Mungkin, ini salah satu alasan mengapa Ken menjemputnya dan datang ke sekolah bersama.

Begitu saja Aluna melompat turun dari motor setelah Ken berhasil menemukan celah parkir. Aluna hanya berpikir, ada baiknya dia pergi ke kelas seorang diri daripada harus beriringan dengan lelaki itu demi menghindari perhatian banyak massa.

"Kamu mau ke kelas kayak gitu?"

Tapi interupsi Ken Alvino menyadarkan Aluna bahwa dia sudah bertindak bodoh saat ini. Tangan-tangannya dengan agak gemetar melepas kait helmnya sambil berbalik menghampiri Ken. Wajahnya makin tertekuk karena rasa gugupnya membuat ia kesulitan sehingga Ken turun tangan.

Membantu melepaskan helm Aluna yang kemudian dimanfaatkannya untuk menahan gadis itu selama dirinya mencabut kunci motor untuk disimpannya ke dalam saku. Beralih merapikan surai panjang yang seempat diikat asal kemudian dilepasnya ikatan tersebut.

"Kamu tau kalau menghindar adalah pilihan yang salah, Aluna," memberikan tatapan teduhnya, Ken menunjukkan senyum yang bisa membuat siapa saja menahan napas jika melihatnya, "Tapi dengan begitu juga, kamu bikin semua orang ngeliat gimana aku makin gencar ngejar kamu."

Aluna menahan napas, menyeret mundur tubuhnya dari jangkauan lelaki itu. Jantungnya semakin berpacu begitu tangan besar itu beralih mengusak pelan poninya sebelum.

My Genius Secret AdmirerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang