[47] Apologize

10.5K 1K 149
                                        

HELAAN napas panjang menjadi awal mula Aluna memberanikan diri mengikuti instruksi. Menggerakkan kakinya berbelok keluar dari keramaian menuju gerbang di balik Gedung Olahraga Sekolah. Berusaha menampilkan senyum pada Mang Darman si satpam yang langsung membukakan pintu besar itu dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.

Di sana, sudah terlihat pria yang akan menjadi supirnya menyambutnya dengan bungkukan singkat. Membukakan pintu mobil hitam metalik yang hendak Aluna tumpangi setelah mendapat panggilan tiba-tiba saat ia baru menyelesaikan pendalaman materi kelas tadi.

Namun hal tak terduga membuat Aluna terpaksa berhenti. Lima langkah sebelum ia sampai di pintu mobil tersebut. Keterkejutan terpancar di manik jernihnya lantaran melihat pria itu berada di sana. Menunggu bahkan mendapati kedatangannya dengan tatapan tajam.

Aluna tidak pernah mengira bahwa Anwar akan ikut menjemputnya. Dia mengira bahwa pria itu akan menunggunya di tempat janji temu mereka.

"Nona Aluna."

Panggilan tegas milik Chandra menghenyakkan Aluna. Asisten Anwar itu ternyata ikut menjemput dan keluar dari bangku depan demi menyambutnya. Memberikan senyum ramah di sela langkahnya menghampiri.

"Mari masuk. Kebetulan kami baru saja berkunjung di kantor dekat sini, jadi sekalian menjemput Nona dan kita berangkat bersama."

Aluna akhirnya mengangguk. Mendesah lega mendapatkan jawaban masuk akal itu lalu melangkah dengan kaku sesuai iringan Chandra.

Tidak ada sapaan langsung setelahnya. Sebisa mungkin Aluna menjaga jarak dari Anwar di sebelahnya. Membiarkan keheningan yang begitu canggung menjadi teman mereka. Di sepanjang perjalanan.

...

"Beneran nggak perlu dikejar, nih?"

Dilan menengok ke belakang, melihat Sarah mengangguk di sebelah Samuel yang ikut mengintip. Setelah melihat gelagat Aluna selesai menerima panggilan, mereka langsung menebak bahwa Anwar lah penyebabnya. Cara Aluna pamit untuk pulang lebih dulu pun sama seperti terakhir kali hal ini terjadi.

"Tapi, itu bokapnya si Ken nyamperin langsung, loh. Yakin nggak apa-apa? Kalo sebenernya dia mau bawa Alun langsung ke tempat penyekapan, gimana?" Samuel mendesis gusar.

"Kalo dia emang jahat, nggak akan lakuin hal sekonyol ini. Dia itu tipikal yang maunya disamperin walaupun dia sendiri yang butuh. Tapi kalo sekarang malah jadi kebalikan, menurut lo apa?" Sarah menjungkitkan alis. "Gue yakin, untuk yang ini, Om Anwar nggak akan ngancem Aluna lagi."

"Gimana lo bisa seyakin itu? Kemarin-kemarin elo yang paling panik ngeliat Aluna diculik bokap sepupu lo itu." Dilan bertanya skeptis, yang malah dibalas senyum oleh Sarah.

"Gue udah lihat kalo Om Anwar itu udah berubah, kok."

Di saat Dilan dan Samuel saling melempar pandangan tak paham, Sarah segera keluar dari persembunyian, merapikan seragamnya yang agak kusut juga ditempeli dedaunan sebelum melenggang pergi dengan santai.

"HEH! Ngapain itu berdua ngumpet di semak-semak situ? Mau mesuman, ya?!"

Keduanya sontak melompat keluar. Menemukan Mang Darman sudah berkacak pinggang memergoki mereka.

"Sambarang wae kalo ngomong si Mamang teh! Dikira urang homo apa?! Geleuh ih! Masih normal saya!"

"Tau dih! Orang cuma mau nyebat biar adem. Ganggu aja si Mamang. Cabut, yuk!" Dilan langsung menepuk pundak Samuel agar mereka segera lari. Membiarkan satpam itu memanggil-manggil mereka dan tertinggal di belakang.

****

Lima belas menit terasa lama berlalu. Sepanjang perjalanan hingga dia akhirnya keluar dari mobil, tidak ada ketenangan yang menyelimuti. Ini memang bukan restoran yang terakhir kali dia datangi untuk bertemu dengan Anwar. Namun tetap saja kemewahan dan keputusan Anwar untuk menyewa meja yang lebih privat menjadi hal yang malah menciutkan nyali Aluna sedikit demi sedikit.

My Genius Secret AdmirerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang