Derap langkah yang tegas dan mantap melangkah dengan cekatan, menyusup diantara kerumunan lalu lalang orang-orang yang sibuk melintas lorong. Ia meraih jubahnya dan menyematkannya melingkar di lehernya, kemudian menarik boots-nya, dan menenteng tabung yang penuh dengan anak panah.
"Berhati-hatilah, Roland," terdengar ucapan lembut penuh kasih.
"Tentu saja, ibu. Aku akan pulang sebelum malam ketiga. Ibu tidak perlu khawatir," Roland tersenyum girang, meyakinkan.
"Dengar, Roland! Lembah itu sudah menjadi sarang vampir yang terinfeksi. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, ambil kembali tempat itu! Prajuritku akan turun untuk menjaga tempat itu setelah kau selesai."
"Baiklah, ayah."
Roland segera beranjak menaiki kudanya. Ia sempat berjalan sesaat kemudian ia kembali, dengan lagak seolah melupakan sesuatu, "Ayah, aku tidak perlu membawa kepala pemimpin koloni vampir-vampir itu kan?" Kelakarnya sumbang.
Redmond mendekati putranya yang sudah dewasa yang kini menduduki jabatan sebagai panglima prajurit penyihir. Ia menepuk dengan keras punggung anaknya, "pergilah", ia merendahkan suaranya.
"Ah yah, kau terlalu serius. Lihat guratan diwajahmu itu. Tertawalah sedikit," goda Rolland seraya menaiki kudanya. Ia pun segera berpamitan dan pergi.
Seiring berlalunya langkah Rollan, "Eleanor," ucapnya pada istrinya yang berdiri disebelahnya.
"Ya?"
"Apa benar wajahku penuh guratan?"
Eleanor hanya tersenyum kemudian berlalu.
"Eleanor?"
***
Serat-serat kabut menyelimuti, tampak lembut seolah kain sutera yang dibentangkan di udara. Hanya sunyi yang singgah di lembah, dan suasana ngeri di setiap sudut desa.
Rolland menarik tali kekang kudanya. Ia mengangkat tangan kanannya, memerintahkan pasukannya berhenti.
Mereka telah sampai didepan sarang vampir, sebuah goa yang dihuni penduduk desa yang telah diinfeksi.
Rolland segera melakukan serangan pertama dengan melemparkan dinamit super yang dapat memusnahkan para vampir.
Segera mereka menyingkir dan memepercayakan serangan pertama pada ledakan dinamit tersebut.
Tak lama vampir-vampir yang memiliki tingkat kesadaran rendah, tidak memiliki fungsi indra, dan hanya nafsu memangsa yang menguasai tubuh--para penyihir menyebutnya level 1--mereka terbakar dan terlempar keluar.
Rolland memerintahkan pasukannya untuk melancarkan serangan sesuai strategi. Mereka segera menarik kekang kuda dan siap pada posisinya.
Suara deru langkah yang berat terdengar dari dalam goa. Sesosok makhluk-makhluk besar penghisap darah seukuran troll mengamuk keluar dari sarangnya.
Para penyihir sempat terkesiap melihat vampir level 3, yang lebih sering disebut monster itu menyerang diiringi vampir-vampir level 1.
Nampaknya cahaya matahari tak sampai menyentuh lembah untuk mendukung kekuatan para penyihir.
Pasukan jarak jauh pun menembakan meriam di mulut goa, memusnahkan setiap vampir yang melangkah keluar. Pasukan pemanah melesatkan serangan ke arah vampir level monster itu bertubi-tubi, hingga membakarnya habis.
Para penyihir berhasil merebut kembali lembah. Kini mereka hanya perlu menunggu pasukan penjaga.
***
Matahari jatuh ke barat. Gelap mulai merayah langit. Kabut semakin tebal, dan pasukan penjaga baru saja menginjakan kakinya di lembah. Mereka segera bertukar posisi.
Ratusan pasukan penjaga menyebar di seluruh desa, mereka menjaga perbatasan, berpatroli mengelilingi desa, dan sebagian besar menjaga bekas pertempuran.
"Ini dia..." bisik suara misterius terdengar dihembus angin.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Cursed Half-blood
Fantasi[COMPLETED] Dave bukanlah vampir berdarah murni. Kutukan itu telah mendarah daging dalam dirinya. Ia telah menghisap banyak darah manusia, dan mengalahkan kaum penyihir, para pemburu vampir. Hingga suatu malam ia mendapati hal yang sangat tidak disa...
