Bola mata dengan iris merah darah itu bergerak-gerak mengawasi. Nadinya berdenyut tak wajar, kulitnya pucat dan sedingin es, tak sinkron dengan pikiran dan perasaannya yang panas. Penciumannya yang tajam mengendus aroma menyengat yang tak sedap di udara. "Penyihir..." bisiknya pada diri sendiri. Ia masih mengawasi dibalik rimbunan daun pada dahan. Sesekali ia menyeka darah yang menetes keluar mulutnya.
"Dave!" Laki-laki jangkung yang selalu diselimuti aura kelam itu menyalak, ia tak lain adalah Count Dracula yang berlari dengan cepat hinggap dari pohon ke pohon. Ia memerintahkan anak laki-laki seusia 16 tahun itu bergerak. "Cepatlah Dave! Kita harus membunuh panglima kerajaan itu."
"Apa yang sudah dia lakukan?" Tanya Dave dingin.
Drac mengerutkan dahinya heran, lebih tepatnya ia jengkel, tidak biasanya Dave menanyakan alasan. "Dia sudah membuat sumpah denganku dan dia melanggar janjinya," jawabnya akhirnya.
"Itu sudah cukup," balasnya tak beralasan kuat. Entah kenapa rasanya Dave ingin mengakhiri semuanya malam itu. Ia terus berlari hingga sampai di kerjaan. Dave menghela nafas dalam-dalam, aroma darah manusia yang manis yang selalu membuatnya kecanduan menyeruak masuk ke dalam paru-parunya. Ia mendesah diiringi geraman lemah.
"Hey, sweetie," Dave mendarat di lubang jendela, ia menyapa panglima yang ditemuinya dengan kalimat bodoh. Ia bermaksut mencemooh, tapi yang terdengar seperti ia menggodanya--ya, karena panglima itu adalah mangsanya. Dave selalu bersikap seolah ia berkuasa didepan manusia. "Darahmu...tidak, tidak," ia menggeleng dan terkekeh, "dosa-dosamu bertumpuk, hingga mengalir disetiap pembuluh darahmu. Aku akan menghapus setiap dosamu dengan menghisap darahmu sampai kering." Dave duduk diambang jendela dengan menyilangkan kakinya.
Panglima itu ganti tertawa sinis, "apa yang kau katakan, bocah terkutuk?" Ia bergeming sejenak kemudian melanjutkan, "kau tidak akan bisa!" Ia berbalik menatap Dave dengan berapi-api.
"Cih!" Dave kembali terkekeh mencibir. Ia melompat turun dari sana. Dan berjalan dengan santai mendekati panglima yang tegang. "Yaaa...kecuali kau mau membayarnya," Dave menelengkan kepala ke bahu panglima dan menatapnya dengan pandangan mengerikan dan senyuman mengancam, "dengan nyawamu"--ia kembali bersikap normal--"begitulah isi perjanjiannya..." Dave tertawa seperti anak kecil.
"Kau tidak akan bisa membunuhku," ucap panglima itu geram.
Dave semakin tak sabar, ia mengayunkan tangannya berusaha mencabik leher panglima itu. Namun, sebuah anak panah melesat memutuskan pergelangan tangannya. Dave menggeram dalam, ia menunjukan taringnya, darah yang masih melumuri bibirnya membuatnya tampak semakin buas. Darah berwarna merah pekat yang mendekati warna hitam tampak mengucur deras dari lukanya. Dave bersikap tenang, seolah tak merasakan sakit. Ia melompat menjauh sembari mencengkeram tangannya yang terluka.
Dave merasa tak asing dengan bentuk kepala anak panah yang menikamnya. Senjata milik para penyihir, ia telah menduga panglima itu memerintahkan para penyihir untuk melindunginya. Tapi sebelumnya ia tak menyadari kehadiran mereka, kecuali ketika aroma itu datang bersama lesatan anak panah itu seperti kilat.
Beberapa penyihir menyerbu masuk ke dalam bilik sepi yang cukup luas itu. Mereka menenteng senjata yang terlihat cukup berat dan mengerikan yang mereka arahkan pada Dave.
"Sial!" Ucap Dave lemah dengan tawa masam.
Sebuah anak panah kembali melesat entah dari mana, radarnya segera menafsirkan. Dave berhasil menghindar. Matanya bergulir dalam liangnya, mencari-cari arah datangnya anak panah itu.
"Aku tidak memperkirakan hal ini," batin Dave dirundung sesal. Ia mencari celah untuk melindungi diri, namun nihil. Tak ada pilihan lain selain menyelesaikan tugasnya dengan nekat. Ia berlari dan menerkam panglima itu, namun sebelum ia sampai sesuatu telah merobek punggungnya, sebuah meriam melebur setelah menghancurkan kakinya, dan beberapa senjata tajam penusuk perutnya. Hingga akhirnya Dave jatuh karena sebuah anak panah menusuk jantungnya. Waktunya tak cukup untuk menyembuhkan diri karena lukanya yang terlalu parah.
Drac baru saja terlihat ketika Dave menggelepar sekarat disana. Ia datang dan pergi seperti hantu, membawa Dave pergi.
***
Didalam kastilnya, ia meletakan Dave di sebuah meja dari batu. Ia membersihkan lukanya dan mencabut senjata-senjata itu dari tubuhnya. Drac memanggil pelayannya, Maleficus, ia berusaha membuat Dave kembali hidup melalui ritual 'meracuni' dengan bantuan pelayan setianya yang seorang penyihir.
Terakhir, Drac menggigit leher makhluk malang itu. Tak ada reaksi apapun, ia tahu itu tidak berhasil dan Dave telah mati.
Matanya yang merah semakin membara, aura kelam itu semakin terasa jelas, geraman yang mengerikan itu terdengar. Ia bersumpah akan membalas dendam.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Cursed Half-blood
Fantasy[COMPLETED] Dave bukanlah vampir berdarah murni. Kutukan itu telah mendarah daging dalam dirinya. Ia telah menghisap banyak darah manusia, dan mengalahkan kaum penyihir, para pemburu vampir. Hingga suatu malam ia mendapati hal yang sangat tidak disa...
