Keping 1

75 5 2
                                        

Kiara meletakan koper – kopernya di sudut kamar. Dia lelah banget seharian dalam perjalanan. Tulang – tulangnya serasa copot dari persendian. Dia melihat ke arah jendela, memandang ke taman bunga yang terletak disamping kamarnya. Jendela itu tanpa teralis dan tidak terlalu tinggi dan lumayan lebar. Dia bisa duduk di sana menikmati pemandangan bunga – bunga jika sedang mekar. Pasti bagus banget. Matahari juga sepertinya mau tenggelam. Kiara melihat semburat – semburat jingga di langit. Mau tak mau dia harus membereskan koper – koper dan barang – barangnya yang lumayan banyak itu sebelum makan malam. Besok dia tidak akan punya waktu untuk membereskannya. Dia membuka satu persatu dan menyusun pakaian, sepatu, aksesoris dan lain – lainnya di tempat seharusnya dengan rapi. Lemari besar terletak di samping meja belajar. Sedangkan tempat tidurnya menghadap ke jendela. Dikamarnya juga terdapat kamar mandi sendiri. Jadi dia tak perlu keluar kamar untuk ke kamar mandi.

Tubuhnya terasa capek dua kali lipat selesai membereskan semua ini. Dia mengambil handuk. Kemudian menuju kamar mandi. Sepertinya berendam air panas saat ini dapat mengurangi rasa lelahnya. Disaat tengah asik berendam, dia mendengar pintu kamarnya di ketuk, kemudian diikuti oleh suara seorang wanita.

“Kiara, ayo keluar. Bunda sudah siapin makan malam”

Suara itu terdengar lembut di telinga Kiara. Namun karena dia lagi di kamar mandi dia terpaksa membalas dengan suara yang sedikit berteriak. Takutnya nanti bundanya yang bernama Arin itu nggak denger.

“Iya, Bunda. Sebentar lagi Kiara keluar”

Kiara mempercepat mandinya karena nggak mau membuat bundanya menunggu. Dia memakai pakaian rumah dan menyisir rambutnya biar nggak berantakan. Rambutnya yang sudah mulai panjang lewat sebahu itu diikat sembarangan ke belakang, namun dia terlihat manis karenanya. Kiara juga memperbaiki balutan kain elastis di kakinya. Sudah hampir sebulan ini kakinya dibalut seperti itu. Walau sudah tidak terlalu sakit, tapi dokter belum memperbolehkan Kiara untuk melepasnya. Bahkan Kiara sudah bisa berjalan normal. Tidak seperti sebelumnya yang membuat Kiara bahkan tidak bisa memijakkan kakinya itu di lantai.

Kiara keluar sambil menutup pintu kamarnya. Di meja makan dia melihat sudah ada beberapa orang di sana. Kiara mengambil tempat di samping seorang cowok yang menyambutnya dengan senyum lebar. Senyum cowok itu terlihat manis. Apalagi matanya yang sipit jadi makin kecil. Kiara membalas dengan senyum simpul di wajahnya yang menampilkan lesung pipi di kedua pipinya yang tirus. Cowok itu Virgo Xandres.

“Gimana perjalanannya?”

Kiara langsung mengalihkan perhatiannya pada seorang pria yang sudah cukup berumur yang baru saja datang. Pria itu mengacak rambutnya penuh sayang. Namun hal itu malah membuat Kiara cemberut. Virgo terkikik melihat ekspresi Kiara, namun Pria yang dikenal Kiara dari kecil sebagai ayahnya itu hanya tersenyum mendapati cemberutan anak gadisnya.

“Ayah, Kiara kan bukan anak kecil lagi” rengeknya sambil merapikan helaian rambutnya.

“Bagi ayah, kamu tetap gadis kecil ayah”

Kiara makin cemberut saja karenanya. Namun tak berkata apa – apa lagi.

“Gimana perjalanannya tadi?”

Pria yang bernama Pram itu mengulangi pertanyaannya yang sebelumnya tak dijawab Kiara. Sedangkan Bunda sibuk mengisi nasi kepiring Pram dan Kiara.

“Bikin capek. Bikin badan Kiara pegal selama diperjalanan” ucapnya sambil menyuapkan nasi dan lauk ke dalam mulutnya.

“Kaki kamu gimana?” tanya Arin selanjutnya.

“Kiara udah bisa jalan normal. Tapi dokter belum ngijinin buka balutannya. Masih seminggu lagi” balas Kiara. Suasana makan malam terasa ceria dan menyenangkan. Banyak topik yang mereka bicarakan. Kadang terdengar tawa dan cekikikan dari anggota keluarga. Bahkan saat makanan mereka sudah habis mereka masih duduk dan mengobrol di sana.

“Besok kamu sudah mulai sekolah lagi. Ayah sama Bunda udah daftarin kamu, pokoknya kamu tinggal terima beres. Virgo akan nganterin kamu besok” jelas ayahnya lagi. Kiara mengangguk sebelum akhirnya ayah Kiara beranjak dari tempat duduknya. Namun berhenti sejenak untuk menyampaikan pesannya pada Virgo.

“Dan kamu Virgo, kamu bertugas mengantar jemput adik kamu. Ayah tidak akan memaafkan kamu kalau adik kamu kenapa-napa” suara Pram terdengar mengancam.

“Eh emang Virgo sopir? Mending sopir masih dapat gaji, lah ini Virgo cuma dapet capeknya doang” protes Virgo.

“Kalau kamu tidak mau, ayah akan narik semua fasilitas kamu” Virgo memberengut sebal. Dasar ayah diktator. Masa karena itu saja semua fasilitasnya ditarik. Sedangkan Kiara terkikik geli melihat kejadian itu.

“Iya deh iya. Virgo bakal jalanin titah ayah, tapi berarti uang bensinnya nambah ya Yah. Kan jarak kampus Virgo sama sekolah Kiara itu lumayan”

“Terserah kamu” balas Pram. Kemudian benar-benar pergi. Sedangkan Virgo berteriak kegirangan.

“Yes!!! Yes!!! Yes!!!”

Setelah itu Kiara membantu Bunda membereskan meja makan. Kan nggak mungkin dia nyuruh Virgo. Lagian kakaknya itu sudah kabur setelah berteriak kesenangan tadi. Dasar kakak tidak berguna. Eh berguna deng. Kan dia bakalan jadi sopir Kiara. Kiara meletakan piring kotor di dapur. Selagi Bunda mencuci piring Kiara membereskan meja makan. Walau sebenarnya Arin sudah melarang karena keadaan kakinya itu.

Kiara langsung masuk kamar setelah semua itu selesai. Dia ingin istirahat saja. Kiara merebahkan badannya kemudian pandangannya mengarah pada langit – langit kamar. Air mata Kiara mengalir begitu saja, namun dia tidak berniat untuk menghapusnya. Biarlah untuk kali ini dia menangis. Setidaknya akan mengurangi gundah hatinya. Dia berjanji ini kali terakhir dia melakukan semua ini.

HopelessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang