Keping 2

62 4 0
                                        

Kiara  baru saja selesai siap – siap ketika mendengar teriakan Virgo dari luar. Hari ini dia akan masuk sekolah. Lebih tepatnya lagi sekolah baru karena Kiara baru sampai kemaren ke sini dan untuk itu dia diantar Virgo seperti kata ayahnya. Sebenarnya pas SD dia juga sekolah di sini. Namun ketika kelas 5 SD neneknya memutuskan untuk membawa Kiara. Kini dia memutuskan untuk kembali sekolah di sini. Sayangnya dia nggak masuk pas hari pertama sekolah. Kiara masih harus mendekam di rumah sakit sejak empat bulan lalu. Baru semingu kemaren dia diperbolehkan keluar. Jadi karena hal itu, setelah dua minggu masa sekolah berjalan dia baru masuk. Tepatnya hari ini. Sepertinya dia bakal jadi alien nanti di kelas.

“Iya sebentar” balasnya berteriak ketika Virgo terus saja berteriak memanggil namanya. Diakan masih siap – siap. Dia nggak mau di hari pertama sekolah dia malah nggak siap. Dasar Virgo, nggak ngerti sama sekali. Lagiankan dia memang belum bisa buru-buru. Walaupun kakinya sudah bisa berjalan normal, bukan berarti dia sudah bisa membawa kakinya itu berlari. Bahkan hal itu bisa saja membuat kakinya kembali sakit.

“Hobi banget sih teriak-teriak. Budek nih telinga” cerocos Kiara ketika akhirnya menghampiri kakaknya itu yang sudah menunggu di garasi depan rumah.

“Ya abis lo lama banget. Nanti gue bisa telat ngampus nih. Kampus gue sama sekolah lo kan dari utara ke selatan” balas Virgo enteng. Walau penjelasan Virgo masuk akal, namun hal itu tidak membuat Kiara senang. Dia membuka pintu mobil dan menghempaskan pantatnya di bangku depan sebelah Virgo. Setelah itu dia tidak menghiraukan Virgo lagi. Matanya menyusuri setiap jalan yang mereka lewati. Semua jalanan yang mereka lewati nggak terlalu banyak berubah, kecuali pohon-pohon disekitarnya aja yang makin berkurang dan makin gersang.

Kiara memikirkan sekolah barunya. Semoga saja, dia betah di sana. Semoga semuanya berjalan baik-baik saja. Sehingga Kiara tidak perlu akan merasa nelangsa. Atau mungkin dia bersikap antisosial saja? Tapi itukan tidak mungkin. Dia pasti tidak bisa melakukannya. Walau dia emang bukan orang yang terlalu periang juga, tapi dia tidak bisa bersikap abai kalau ada yang mengajaknya berbicara. Ah dia jadi merasa serba salah.

“Hmm... lo udah nggak apa – apa?” tanya Virgo hati – hati.

“Maksud lo?” tanya Kiara tidak terlalu peduli.

“Soal... soal semua yang udah terjadi”

Virgo nggak mau langsung menyebut masalah yang sebenarnya baru saja menimpa adiknya itu. Walau dia menyebutkan semua yang sudah terjadi, tapi Virgo yakin Kiara mengerti masalah apa yang dia maksud. Karena Virgo tau, hal itu salah satu hal tersulit yang pernah dialami Kiara dalam hidupnya. Adiknya itu memang jarang ngomong kalo ada masalah. Kalau ada masalah dia suka simpan sendiri. Kemudian berlagak seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan dia lebih suka melarikan diri tanpa ada seorangpun yang tau, hanya agar tak menjadi pelampiasan emosinya.

Raut wajah Kiara langsung berubah ketika mendengar kata – kata Virgo barusan. Dia sangat paham kemana arah pembicaraan Virgo. Kiara tidak suka hal itu diungkit-ungkit. Melupakan? Bagaimana dia bisa melupakan semua yang sudah terjadi? Nggak mungkin dia bisa baik-baik saja dalam waktu singkat. Bahkan belum lewat dari dua bulan. Kiara menghembuskan napasnya kasar, kemudian berucap dengan nada nelangsa.

“Nggak usah diomongin! Gue nggak mau ingat – ingat lagi!”

Virgo menjadi merasa bersalah atas ucapan Kiara barusan. Jadi sebenarnya Kiara belum bisa melupakan hal itu. Virgo nggak tau sebesar apa dan sedalam apa perasaan Kiara hingga hal satu itu sangat melukainya. Hal yang Virgo yakin menjadi alasan Kiara menerima keputusan bunda untuk balik ke sini. Keputusan yang diterima anak itu hampir sebulan yang lalu. Mereka tak bicara lagi sepanjang jalan menuju sekolah Kiara. Virgo nggak mau nanti tanpa sengaja dia malah menyinggung perasaan Kiara lagi. Lagian Kiara juga kalau udah sayang sama orang gitu banget. Virgo aja sampe khawatir banget waktu mendapat kabar dari neneknya yang bilang Kiara sampai kecelakaan. Mereka sekeluarga sampai menuju ke sana.

HopelessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang