“Ki, mau pulang bareng nggak?”
Kiara melirik ke arah Tania yang menawarkan itu ketika bel pulang baru saja berbunyi. Tania memang sering mengajaknya pulang bersama. Kadang Kiara ikut karena nggak enak juga terus-terusan menolak. Walau kelihatannya Tania tidak keberatan. Bahkan cewek itu juga sering pulang bareng Willi.
“Sorry Tan, kali ini gue nggak bisa pulang bareng lo. Ada hal yang harus gue urus di sekretariat basket. Lagian Virgo juga bakal jemput gue. Bentar lagi juga datang” tolaknya halus.
“Ya udah. Gue duluan ya. Yuk Wil”
“Bye Ki”
“Kalian hati-hati”
Kiara juga ikut keluar dari kelas kemudian. Dia menyusuri koridor sekolah menuju ruang sekretariat basket yang terletak di lantai dua. Di sudut pula. Koridor itu masih ramai. Ya nggak heran, soalnya anak-anak klub lainnya juga memiliki sekretariat di lantai ini. Kebanyakan murid-murid juga sering ke sekretariat masing-masing ketika pulang sekolah. Jadi nggak heran hal itu bisa terjadi. Kiara aja yang jarang ke sekretariat. Dia ke sini kalau ada keperluan aja. Seperti saat ini. Kemaren waktu latihan dia meninggalkan komiknya dan lupa. Jadi kali ini dia ingin mengambilnya. Tapi langkah kaki Kiara terhenti di depan pintu. Dia mendengar namanya di sebut-sebut.
“Sumpah, Kiara tuh susah banget ditaklukinnya. Masa iya dia nggak tersentuh sama sekali gue modusin. Cewek-cewek lain pasti bakal merona dan salting. Apalagi ini gue yang modusin dia. Cewek-cewek lain aja banyak yang ngincar gue. Eh dia malah nggak tertarik sama sekali” suara yang terdengar kesal itu Kiara kenal sebagai suara Mikko.
“Ya dia tau kali kalau lo nggak serius. Lagian lo kurang kerjaan amat sih, udah punya pacar, masih aja nyanggupin taruhan itu”
“Ya abis taruhannya gede, Coi. Lagian yang lain aja yang pada nggak berani. Gue sebagai cowok paling keren dan mempesona di SMA Harmoni harus turun tangan dong. Membuktikan kegantengan gue ini” ucap cowok itu pongah. Sedangkan lawan bicaranya hanya tertawa kecil menanggapi ocehan Mikko yang terdengar sangat memuakan ditelinga Kiara. Brengsek banget cowok satu ini. Untung saja selama ini dia tidak menanggapi cowok brengsek ini. Tapi walau nggak punya perasaan semacam itu tetap saja Kiara sakit hati.
“Lo tunggu aja gue pasti bakal bisa naklukin...”
Ucapan Mikko terhenti ketika mendengar suara pintu sekretariat dibuka dengan kasar dan menampilkan Kiara di sana. Tanpa menunjukan sikap sopan santun, Kiara langsung menampar cowok itu.
“Dasar cowok brengsek. Gue nggak nyangka kalau lo sebusuk itu”
Mikko hanya bisa terkejut dan refleks memegang pipinya yang ditampar Kiara. Sedangkan temannya yang Kiara kenal dengan nama Verdy hanya bisa diam membeku. Dia nggak menyangka Kiara bisa ada di saat seperti ini. Mendengar obrolan mereka.
“Asal lo tau, gue nggak pernah tertarik sama cowok busuk macam lo. Untung banget ya gue ke sini dan mengetahui kebusukan lo itu. Dasar cowok nggak tau diri. Lo pikir lo keren banget gitu sampe-sampe jadiin gue taruhan lo? Lo nggak sekeren itu dan di mata gue lo itu cuma sampah nggak ada artinya” ucapnya tajam. Kemudian meninju cowok itu tepat di ulu hatinya. “Dasar brengsek” makinya sekali lagi.
Setelah berkata itu Kiara langsung keluar dari sana. Kiara tak peduli dengan orang – orang yang memandanginya heran. Secepatnya dia harus pergi dari sini. Rasanya dadanya menggelegak karena emosi. Kiara menuruni tangga terburu-buru. Kemudian berlari melintasi lapangan.
Begitu sampai di gerbang, Kiara melihat sekeliling. Berusaha mencari Virgo. Namun sepertinya kakaknya itu belum muncul. Kiara sedikit tersentak ketika seseorang berjalan mendekatinya. Seorang cowok. Kenapa cowok itu bisa ada di sini? Kiara ingin kembali masuk ke lingkungan sekolah, tapi rasanya kakinya terpaku di tempat. Dan rasanya hati Kiara berdenyut sakit.
“Verry” ucapnya sambil menelan ludah.
“Kiara, akhirnya aku bisa nemuin kamu lagi” suara cowok itu terdengar ceria. Dia memandang Kiara dengan tatapan teduh. Namun hati Kiara makin sakit saja. Melihat cowok ini di sini membangkitkan semua emosi yang ada di dalam dirinya. Enak banget cowok ini masih berani muncul dihadapannya setelah apa yang dia perbuat.
“Apa lagi yang lo mau? Apa nggak cukup semua yang udah lo lakuin?” suara Kiara terdengar dingin menusuk. Cowok itu langsung kelagapan mendengar nada bicara Kiara.
“Aku mau minta maaf sama kamu, Ki. Aku nggak bisa kita kayak gini. Aku ingin kita kayak dulu lagi” ucapnya penuh permohonan. Mungkin kalau kesalahan cowok ini bukan kesalahan fatal, Kiara akan luluh dengan tatapan memohon itu. Namun cowok itu sudah menghancurkan kepercayaannya, menghancurkan hatinya, menghancurkan hidupnya.
“Lo pikir segampang itu untuk memaafkan lo? Lo mikir nggak sih apa yang udah lo lakuin?” ucap Kiara histeris. Dia berusaha menahan tangisnya tapi tidak bisa. Padahal gerbang sedang ramai-ramainya karena jam pulang sekolah. Mau tak mau mereka menjadi pusat perhatian. Rata-rata yang memperhatikan mereka adalah rombongan cewek-cewek yang sepertinya terpesona dengan kehadiran Verry. Apalagi bisa dibilang cowok itu punya tampang nggak biasa. Kulit putih, rambut hitam yang di potong cepak dan rapi, tubuh jangkung dan badan atletis. Kalau diperhatikan dengan seksama, jelas kalau cowok ini bukan orang pribumi.
“Gue tau. Karena itu gue mau minta maaf sama lo. Walau gue tau nggak gampang buat lo memaafkan gue. Seenggaknya kasih gue kesempatan untuk menebus semuanya. Buat menjelaskan”
“Gue nggak butuh penjelasan apa-apa dari pengecut dan pecundang menjijikan seperti lo. Nggak! Gue nggak akan pernah mau ngasih kesempatan apapun sama lo. Gue nggak akan pernah bisa maafin lo sekuat apapun lo berusaha. Jangan pernah muncul lagi di kehidupan gue!”
“Kiara, Plis. Kita nggak bisa terus kayak gini. Gue nggak bisa jauh dari lo”
“Setelah semua yang lo lakuin, lo masih bisa bilang kayak gitu? Seharusnya lo mikir dulu sebelum...”
Belum selesai ucapan Kiara, sebuah tinju melayang ke wajah cowok itu. Cewek-cewek yang melihat mereka kontan menjerit. Kiara nggak kalah shock. Rata-rata yang memperhatikan mereka saat ini tengah berbisik-bisik, menebak apa yang terjadi.
“Berhenti ganggguin adek gue!”
Suara Virgo terdengar marah. Dan Kiara hanya bisa diam dengan amarah Virgo. Dia sendiri saja tidak bisa menahan amarahnya. Virgo menarik kerah baju Verry, kemudian melayangkan tinju sekali lagi.
“Kalau gue lihat lo masih berani gangguin Kiara, gue nggak segan-segan berbuat lebih dari ini”
Setelah berkata begitu, Virgo merangkul Kiara. Mereka meninggalkan Verry yang tergeletak di sana. Tidak terlalu peduli.
“Maaf, gara-gara gue telat lo harus ketemu sama si brengsek itu”
Virgo merangkul Kiara protektif. Menuntun adiknya yang terlihat kacau itu ke dalam mobil. Sedangkan Kiara masih dengan tangisnya. Hatinya rasanya benar-benar terasa sakit. Kiara nggak pernah tau kenapa hidupnya bisa sekacau ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hopeless
Teen FictionKiara tidak tau hidupnya akan serumit ini. Dia sudah berusaha menjalani semuanya dengan normal. Bahkan keputusan yang membuatnya pindah sekolah dan pindah tempat tinggal tidak berarti apa-apa. Sepertinya takdir tidak mengijinkannya bahagia. Semua m...
