Your Game is Over!

11.2K 717 22
                                        

Rachel memasuki restaurant yang sudah disepakati sebelumnya, Rachel berjalan di samping Waiters yang mengantarnya pada meja.

Ada yang aneh pada restaurant ini, keadaanya sepi tetapi ada beberapa orang lelaki berbadan tegap tengah bercakap-cakap. Dengan cepat Rachel jatuh terduduk dan berteriak "Aww" tapi tak ada satupun dari mereka yang menoleh. Rachel bangun dibantu oleh Waiters.

"Phase 3" gumam Rachel. Waiters itu menoleh kearah Rachel seakan bingung tapi Rachel menggeleng dan melanjutkan jalannya.

Rachel terus melihat keadaan sekelilingnya sebelum ia sampai pada meja tujuannya. Ditengah hall terdapat meja yang diduduki seorang wanita paruh baya.

Wanita itu menegak wine yang berada di gelasnya sebelum pandangan matanya bertemu dengan Rachel.

"Ah kau sudah sampai, sayang" ucapnya sembari berdiri dan merentangkan tangan ingin memeluk.

Rachel menatapnya tajam dan langsung duduk di hadapan wanita itu tanpa menerima pelukannya.

Selma mendengus diperlakukan seperti itu, ia ikut duduk dan menatap Rachel lama.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Selma menyelidik.

"Aku ingin kau mundur, aku ingin kau berhenti." Rachel menjawab dengan nada dingin, ia tidak akan ber basa-basi.

"Aku? Tidak bisa sayang. Kau tau? Kakakku yang memiliki perusahaan itu, jadi itu milikku" dengan mudahnya Selma berucap, layaknya itu adalah sebuah permen karet yang ia berikan kepada anak kecil.

"Oh ya? Kakakmu? Kau pintar, tapi tidak cukup cerdik untuk membohongiku Selma." Rachel tersenyum mendapat respon bingung Selma.

"Atau apa perlu aku memanggilmu Vanessa?" Sambung Rachel yang menekan nama Vanessa.

Selma terbelalak terkejut dengan apa yang di dengarnya, ia terlihat, marah(?)

"A... Ap-" Selma membenarkan mimik wajahnya agar tidak kentara terkejut.

"Vanessa Ralph? Kau membunuh suamimu, eh ralat, mantan calon suamimu setelah dia menolak untuk menikahimu. Tapi dengan mudahnya kau terbebas dari tuntutan itu semua." Rachel terus menatap Selma yang tergugup.

Selma lagi-lagi terbelalak kaget dengan kata-kata Rachel. Dengan spontan Selma menggebrak meja dan mencengkram pergelangan tangan Rachel.

"Berani sekali kau berkata seperti itu. Dari mana kau tau?" Teriak Selma marah. Rachel menelisik dari ekor matanya, tak ada satu orangpun yanv menoleh kearahnya meskipun suasana ruangan terdengar sunyi.

"Kau sudah mensetting restaurant ini rupanya, huh?" Sindir Rachel. Selma menatap sekeliling restaurant, tak ada yang melihatnya.

Ia memang menyuruh anak buahnya untuk tidak perlu menoleh apapun yang terjadi kecuali Selma terancam atau memanggil mereka.

Rachel menepis cengkraman tangan Selma. "Dengarkan dengan baik kata-kataku. Aku memberimu waktu hingga besok malam. Kalau kau belum mengundurkan diri dan mengadakan konfrensi pers. aku tidak akan segan menyebarkan berita ini. Dan aku juga tau kau yang mensabotase mobil disaat aku dan ayah akan pergi. Aku tidak akan segan untuk menjatuhkanmu. Tapi jika kau menuruti kata-kataku aku akan memberikanmu tempat tinggal dan kebutuhanmu. Dan yang pasti itu lebih layak dibandingkan kau harus berada di balik jeruji besi." Rachel dengan mantap berkata seperti itu. Ia tidak akan takut lagi.

Kali ini biarkan orang yang mendengarkanya. Biarkan ia yang menjadi pemimpinnya.

Dan Selma tertunduk dibuatnya. Selma dengan sejuta pikirannya sedang bergelumung untuk menyatakan perang atau menyerah. Rachel berdiri dari kursi.

"Aku akan pergi sekarang" ucapnya. Selma menatap Rachel yang sudah membelakanginnya.

Rachel berbalik lagi menatap Selma "Anakmu, aku akui ia memiliki bakat akting yang cukup hebat. Kau harus mendaftarkannya menjadi artis" Rachel mengedipkan sebelah matanya dan beranjak pergi dari sana.

Meninggalkan Selma yang kembali dibuat terkejut olehnya.


Gak ada kata-kata lain selain Makasih untuk kalian yang selalu semangatin aku dan nungguin aku update. Terima kasih banyak atas dukungan kalian...

Happy Reading

The Cold Ones Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang