"Oh iya Lang, coba lo telepon si Hana dulu, bilang kita udah di jalan, tungguin bentar lagi kita nyampe."
"Oke," dan Gilang dengan cepat mulai mengeluarkan handphonenya dari dalam tas.
"Aih monyet!"
"Heh, ngomong apa lo tadi? Parah amat gue dibilang monyet! Gue gak salah apa-apa juga," ujar Gibran tak terima.
"Bukan elu! Maksud gue, ini hape gue lobet pe'a! Su'udzon aja sih lo."
"Gimana sih lo! Gak guna amat hape lo!"
"Ah! Cacat nih hape!" ujar Gilang kesal.
"Lo ngebacot aja dari tadi, kapan mau nelpon Hana nya?" ujar Gibran sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celana seragamnya, "nih, pake handphone gue."
Gilang dengan cepat menerima handphone milik Gibran dan segera membuka kontak dan mencari nama Hana.
Tiiiiit...
Tiiiiit...
Tiiiiit...
Tiiiiit...
Tiiiiit...
Tiiiiit...
Tiiiit...
Tiiiit...
"Tersambung gak?"
"Iya tersambung. Tapi dari tadi bunyinya tit tit aja."
"Bego, dusun!"
"Ya emang bener gitu kok nadanya. Tit tit. Ga mungkin kan nadanya tet tet."
"Gak lucu lawakan lo Lang."
"Lu tuh suka su'udzon. Gue gak lawak disangka lawak."
Gibran hanya diam tak menanggapi ucapan Gilang yang menurutnya, tak perlu diladenin.
"Gak diangkat-angkat Gib," ujar Gilang yang mulai was-was.
Sedangkan Gibran sudah benar-benar khawatir, karena firasatnya sedari tadi mulai terasa tak enak.
"Coba lagi sampe diangkat."
Tiiiiit...
Tiiiiit...
Tiiiiit...
Tiiiiit...
Tiiiiit...
"Halo? Halo Dek! Woy Na, tunggu bentar lagi ya! Ini gue sama Gibran udah di jalan! Tunggunya jangan di luar sekolah!"
Gibran menghembuskan napasnya lega. Ah, untungnya Hana mengangkat teleponnya, dan firasat-firasat buruk itu sudah tak akan lagi menghantui dirinya.
"Halo? Halo Hana? Na? Lo masih di sekolah kan? Halo? Halo Na? Lo denger gue kan?"
Perasaan Gilang semakin tak karuan ketika Hana tak juga kunjung bicara.
***
"Al? Gak berat gendong aku terus?"
"Berat banget. Lo makan apa sih bisa sampe seberat ini?"
Hana memukul pelan bahu Alfian, sedangkan Alfian sudah terkekeh pelan tanpa ia sadari.
"Ya udah, turunin aja!"
"Emang lo bisa berdiri?"
"Bi-bisa!"
Alfian tertawa pelan. Kakinya sudah terasa pegal sedari tadi, tapi ia tak mau menurunkan Hana dari gendongannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Heart Speaks
Teen Fiction"Mungkin aku salah satu dari ribuan orang di bumi ini yang hanya bisa menikmati senyumannya tanpa harus tahu siapa gerangan yang membuatnya tersenyum, sangat mengenalnya tanpa harus dikenal olehnya, dan mencintainya tanpa harus mengharapkan sebuah b...