Flashback On
Hana tak ingat betul jalan mana yang kini ia tapaki.
Ia hanya terus berjalan di bawah deraian air mata dan hujan.
Dinginnya seolah-olah tak berasa, tergantikan rasa yang kini meremas kuat hatinya.
Ia mati rasa.
Kepalanya kembali berdenyut. Membuat ia reflek menutup matanya dalam-dalam.
Ucapan ayah dan ibunya kembali berputar-putar di kepalanya, terngiang-ngiang di telinganya, dan sebanyak itu pula rasa sakit itu hadir, menjumpai hatinya yang sudah koyak akan luka.
Tubuhnya seolah melayang, langkah kakinya sudah mati, lantas ia berhenti.
Sakit itu semakin menjadi, membuat tubuhnya roboh begitu saja di aspal yang dingin.
Bayangan keluarganya kembali terlintas, bersamaan dengan senyum hangat akan sosok anak kecil yang kini melambaikan tangan padanya, membuat ia berfikir sejenak; itu teman masa kecilnya.
Tapi siapa?
Namun tak lama kemudian, mata sayu itu terpejam rapat.
Ia tak sanggup.
Namun satu nama untuk sosok itu berhasil mengelabuinya sebelum kesadarannya tandas.
Farhan.
***
Hana tak yakin sudah berapa lama ia tertidur.
Namun kedua matanya seolah tetap menghitam, kala ia merasa sudah membukanya sedari tadi.
Dan kini ia tersadar, matanya tertutup kain tebal.
"Ini di mana?" gumamnya lirih.
"Hallo! Apa ada orang?!" teriaknya.
Namun yang ia dapatkan hanya keheningan, lantas membuat air mata itu kembali merebak jatuh.
"Aku di mana?!"
"Ini di mana?!"
"Kenapa mataku ditutup?!"
"Siapa kalian?!"
Derap langkah seseorang terdengar mendekat, sontak membuat Hana dengan cepat kembali berteriak.
"Siapa kamu?!"
"Aku? Siapa?" tanyanya sarkastik.
Nada dingin itu mencekik tenggorokannya, membuat hormon adrenalinnya seketika meningkat.
"Si-siapa kamu?!"
Tarikan pada kain itu membuat Hana tersentak kaget, dengan cepat matanya menyipit, cahaya yang datang secara tiba-tiba itu membuat sakit matanya.
"Buka matamu!"
Teriakan itu kembali membuat Hana tergelak, dengan perlahan ia menyesuaikan keadaan matanya dengan cahaya di sekitar. Dengan rasa takut, ia mencoba mendongakkan wajahnya.
Plak!!!
Suara itu terdengar sangat keras, sekeras rasa sakit yang kini menjalar di pipi kanannya.
"A-apa yang ka-kamu laku-"
Plak!!!

KAMU SEDANG MEMBACA
My Heart Speaks
Teen Fiction"Mungkin aku salah satu dari ribuan orang di bumi ini yang hanya bisa menikmati senyumannya tanpa harus tahu siapa gerangan yang membuatnya tersenyum, sangat mengenalnya tanpa harus dikenal olehnya, dan mencintainya tanpa harus mengharapkan sebuah b...