chapter 26

3.1K 180 21
                                        

Mulmed: Gianina

Buat kali ini, aku mohon kamu percaya kalo aku masih baik-baik aja.

Madness of brothers

Selamat membaca^

Lagi, lagi pikirnya malas. Ya, ampun! Kapan sih gian bisa bebas pergi tanpa kena omel! mustahil.

Gian duduk dengan tampang kesal di sofa depan tv sambil menaruh bantal di pangkuannya Ia menatap satu persatu wajah garang kakaknya. Gian memutar bola mata tanda ia benar-benar malas berhadapan dengan mereka.

"Kamu ke mana? Kenapa bisa sama si barbar itu?!" kata Gion begitu sangar, wajah Gionino terlihat begitu menyeram.

Bastian berdiri di dekat sofa menatap adiknya.

"Gian kan udah bilang! Gian mau pergi, karena gian ingat sesuatu!" kesalnya.

"Mulai sekarang, kakak nggak kasih izin kamu, keluar kemana pun!" Tegas Bastian. Keputusan final yang tidak bisa di ganggu gugat. Cewek ity langsung berdiri.

"Aku bukan anak kecil!!"

"YA! KAMU ANAK KECIL!!!" balas Bastian langsung membentak.

Keduanya saling menatap tajam. Dada Gian naik turun karena emosi.

"Cukup Alea ini yang terakhir!" kata Aldrian dingin.

Ia ingin menangis, tapi juga sangat marah. Ia muak, sangat. Gian berjalan meninggalkan mereka. Tapi kemudian berhenti setelah tiga langkah. Berbalik, lalu tanpa berkedip air matanya jatuh. menatap satu persatu kakaknya. Bicara, kata terakhir yang menyakitkan.

"Kalian bukan papa! Dan aku tidak pernah punya papa!"

**

Ini adalah hari pertama sekolah tanpa Aulia. Menatap bangku kosong di sampingnya, Gian berpikir andai saja ia punya teman selain Aulia, pasti rasanya tidak akan terlalu merasa kehilangan, seperti saat ini, cewek itu rasakan.

Gian mungkin bisa mendapat teman selain Aulia jika saja ia mau, karena berkat kepopuleran kakaknya itu ia bisa saja mendapat banyak teman, ya teman- you know-lah teman seperti apa, jika yang di lihat adalah kakanya.

Tapi, meskipun begitu Gian masih punya Graceline di sisinya saat di rumah atau di luar selain sekolah. Namun itu tetap saja tidak sama saat ketika bersama Aulia di sekolah.

Gian merogoh tas-nya, mengambil kotak bekal yang selalu ia siapkan setiap pagi. Sepertinya, Ia mulai terbiasa dengan kegiatan barunya. Setelah beberapa hari sebelumnya ia merasa terpaksa bangun lebih pagi dari biasanya. sampai sekarang semua kakaknya tidak menaruh curiga sama sekali tentang alasan Gian membawa bekal makan ke sekolah, di saat cewek itu bisa membeli apapun.

Gian berdiri, melangkah keluar kelas, mencari Bara. Saat di koridor ia melihat Bara, langsung saja cewek itu percepat langkahnya. Tapi kemudian langkah kakinya perlahan melambat, dahinya berkerut bingung. Penasaran gian mendekat, saat melihat seorang cewek bersama dengan Bara dan mereka terlihat sedang berbicara atau lebih tepatnya hanya cewek itu yang terlihat sedang bicara, sedangkan Bara hanya berdiri dengan tampang datar dan dingin menatap cewek itu.

Dari jarak tiga langkah Gian berhenti, mendengarkan apa yang mereka bicara kan.

"... Bara, gue suka sama lo! Gue mau jadi pacar lo!" kata cewek itu percaya diri.

Gian bengong, mendengar pengakuan cinta dari seorang cewek. Atau lebih tepatnya seorang cewek nembak cowok dengan begitu pd-nya. Gian melihat Bara, ingin tau respon cowok itu.

Madness of brothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang