Pagi itu Kaivan sedang asik memainkan gitarnya di teras halaman belakang. Menemani Bian yang sibuk memberi makan peliharaan barunya.
"Bang" panggil Kaivan. Bian menolehkan pandangannya sambil masih berjongkok didepan kandang.
"Apaan?"
"Kucing Daniel aja udah pengen gue buang. Ini lo pake bawa pulang kelinci dua biji, gue tuh trauma sama yang berbulu gitu bang." Rengek Kaivan sambil mengelus elus badan gitarnya. Bian pun bangkit dari posisinya lalu duduk disebelah Kaivan.
"Heh Kip!" Kaivan menaikkan alisnya. Perlahan tangan Bian meraba paha Kaivan yang bersila didepannya.
"Bang.. apaan sih..." tak lama kemudian tangannya menarik tali kolor Kaivan.
"PERIKSA TUH BADAN LO BERBULU APA GAK!" Ucap Bian lalu berlari kembali masuk kerumah. Meninggalkan Kaivan dengan posisi masih terdiam di duduknya, dengan kolor yang sudah melorot setengah.
Reno bersiul riang sambil menggosok bodi vespanya yang baru saja selesai dicuci. Ditemani lantunan lagu yang berbunyi keras dari speaker wireless yang dia nyalakan di kursi taman.
"Bang On!" Panggil Dewa dari balkon atas.
"HAHH?" Sahut Reno dengan suara cemprengnya lalu mematikan speaker yang menyala keras.
"Ini kolor abang bukan?" Reno mengangkat kepalanya untuk melihat kearah Dewa yang mengacungkan tangannya yang digantungi kolor berwarna hitam dengan lubang ditengah.
"Pagi bang." Tak lama kemudian sosok Ayana muncul dari balik pagar sambil membawa tas belanjaannya.
"Ngaco lo! Bukan! Bukan kolor gue." Sahut Reno dengan cepat sambil mengalihkan pandangannya. Berharap Ayana tidak melihat apa yang ada di tangan Dewa.
"Pagi Wa." Sapa Ayana sambil melambaikan tangannya ke arah balkon atas. "Ngapain pegang celana gitu?" Reno merapatkan kakinya guna berdoa semoga Dewa tidak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Ayana.
"Oh ini?" Diliriknya singkat Reno yang terdiam di bawah. "Kolor bolong tapi gatau punya siapa!" Jawabnya tegas lalu mengangkat kedua bahunya dan berbalik memasuki rumah.
"Ngapain Ay pagi - pagi kesini? Minggu lalu kayanya lo udah masak sarapan 2 hari deh!" Kata Reno mengalihkan pembicaraan.
"Eh? Gapapa, tadi disuruh mama ngirim belanjaan. Sekalian dianter kak Aidan." Reno meletakkan lap basah yang ia pegang lalu berjalan menuju Ayana dan menarik tas belanjaan yang dibawanya. "Eh gausa, bang." Tolak Ayana.
"Udah gapapa, sini." Sahut Reno. Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam rumah.
"Aya?" Sosok Daniel yang baru selesai mandi keluar dari kamar dengan handuk menggantung di kepalanya. Reno menatap Daniel heran.
"Sejak kapan dia manggil Ayana pake sebutan Aya?" Gumam Reno dalam hati.
"Mau nganter belanjaan, Dan."
"Hah, kok lo manggil dia Dan?" Tanya Reno yang tadinya terdiam ketika mendengar Daniel memanggil Ayana. Ayana cuma meringis lalu tertawa kecil kearah Reno.
"Disuruh manggil gitu!" Sahut Ayana lalu berjalan mendekati kulkas. "Bang, kayanya minggu lalu Ayana kasih telor kok sekarang udah tinggal dikit?"
"Eh Ay!" Sapa Kaivan yang memasuki ruang tengah sambil membawa gitarnya dari halaman belakang. "Yah, jam sarapannya udah lewat. Tapi gapapa! Abang tetep laper! Masakin ya Ay!" Sahut Kaivan lalu mulai menaiki tangga menuju lantai atas. "Woy ada Ayana nih!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Dear name | 101
General FictionAn alternate universe story. Pure berisikan kumpulan cerita penuh kearifan lokal. Cast : yours truly, 101