"Selamat pagi, Krucil. Ayo sarapan dulu ya." Ucap Bian riang sambil berlari menuju kandang kelincinya.
"Dih, gila." Cetus Javas yang terduduk di kursi halaman belakang. "Pindahin dong, bau pesing!"
"Yaelah, yang sayang dikit kek sama makhluk kecil. Nanti kalo gue pindahin, kalo dihamilin sama kucingnya Daniel gimana?"
"Mana gue peduli!" Jawab Javas ketus lalu masuk ke dalam rumah. Lalu terkaget menemukan sosok Kaivan yang bengong di ruang tengah. "Untung ga gue lempar cangkir lu, Kip!" Kaivan menatap Javas yang berjalan ke arah dapur.
"Minggu depan..." gumam Kaivan menatap kosong layar TV yang ada didepannya. Tangannya terlipat rapi memegangi sebuah kalender didepan dadanya. Javas yang heran pun menghampiri Kaivan dan merebut kalender yang ada dalam dekapannya.
"Apaan sih? Gajelas lu.. sini gue lihat! Hah penerimaan mahasiswa baru? Yang bener aja lu Kip?! Gercep amat kampus lu! Ini wisuda Nata aja baru kelar udah mulai festival penerimaan maba aja?" Tanya Javas yang terlonjak dari duduknya. "Eh bentar, terus hubungannya apa sama lu?" Kaivan masih diam tak bergeming ditempatnya.
"Festival bang..." Jawabnya lirih.
"Hah?" Dasarnya memang agak blo'on, Javas malah meninggikan suaranya.
"YA PASTI GUE DITUNJUK TAMPIL BANG!" Jawab Kaivan sambil menendangkan kakinya ke udara, Javas cuma bisa memegangi cangkir minumannya selagi melihat Kaivan yang bangkit dari duduknya. Lalu meninggalkan Javas bengong di ruang tengah.
"Blangsak lu emang Kip! BILANG AJA MALU DILIHAT MABA!" Sahut Javas sambil berteriak ke arah lantai atas.
Berkali - kali gitarnya ia setel ulang. Sudah lebih dari tiga album di playlistnya ia putar. Tapi Kaivan masih terduduk lesu di pinggir kasurnya. Mengacak - acak rambutnya yang sudah berantakan.
Seminggu yang lalu...
Kaivan melangkah yakin menuju kantin kampus sambil membawa tasnya sembarangan. Berjalan dengan langkah ringan tanpa memperhatikan keadaan disekitarnya. Sepasang matanya tiba - tiba menatap segerombolan manusia dengan baju seragam.
"Eh senior senior! Diem!" Kaivan mengerutkan dahinya. Menatap gerombolan manusia didepannya. "Siang kak!" Kaivan masih kehilangan akal. Kepalanya menunduk secara spontan membalas sapaan. Salah satu dari mereka menatap pandangan mata Kaivan, membuat Kaivan mengacungkan jarinya.
"Sini!" Panggil Kaivan. Sosok itu pun mengambil langkah maju mendekati Kaivan.
"Iya kak?"
"Lo temennya Brian ga sih?" Tanya Kaivan sambil membenarkan posisi tas yang menggantung di lengan kanannya.
"Hah kok tau?" Kaivan mengulurkan tangannya.
"Bang Kiplan, lo sapa?" Tangannya membalas uluran tangan Kaivan.
"Bang Kip? Ilham bang! Ini Ilham! Abang mahasiswa sini juga? Angkatan berapa bang?" Hatinya sedikit perih setelah mendengar pertanyaan Ilham.
"Lo kudu cepet ajuin skripsi Kip...." gumamnya dalam hati.
"Yakali gue bukan mahasiswa sini. Lo jurusan apa?" Tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
"Teknik bang!" Jawabnya dengan mantap. "Bang Kiplan udah ketemu sama Aina? Dia keterima disini juga bang!"
"Aina? Siapa?" Tanya Kaivan sambil menaikan salah satu alisnya.
"Ai' bang! Yang sering abang tawarin jambu kalo kerja kelompok dulu! Masa ga inget sih bang! Katanya eneng cantik!" goda Ilham lalu tertawa ringan. Kaivan mencoba mengingat sosok yang baru saja disebut Ilham. Di otaknya terlewat memori dimana ada seseorang berambut pendek, wajah periang dan mata yang mungil yang memanggil namanya dengan semangat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dear name | 101
General FictionAn alternate universe story. Pure berisikan kumpulan cerita penuh kearifan lokal. Cast : yours truly, 101