'Pangeran'

156 15 0
                                    

I have this weird ... attraction I think? gatau kenapa aku suka dengerin suara mesin motor yang keras. Yang suka bikin ibu – ibu protes setiap pemiliknya memanaskan mesin motornya. Bukan, bukan motor Dani yang mulai semua ini...

Setiap pulang sekolah, suara keras mesin motor Arka selalu menyambut setiap penghuni sekolah yang keluar lebih awal. Ayana yang selalu keluar sekolah dengan cepat seringkali menangkap bayangan Arka yang melaju kencang melewati pagar sekolah dengan motor hitamnya. Suaranya yang nyaring selalu membuat pendengarnya berkata, "Aduh berisik banget motor ini orang!". Anehnya di sisi lain, Ayana selalu membuka mulutnya untuk tersenyum lebar setelah mendengar suara itu. Rasanya jantungnya juga ikut berdegup kencang menanggapi suara motor Arka. Tak jarang Ayana berpapasan dengan Arka di perjalanan pulang. Motor Arka selalu melaju kencang lalu berbelok dengan gesitnya melewati kendaraan disekitarnya.

Waktu itu, pesan singkat dari kak Aidan muncul di layar hp begitu Ayana selesai mengemasi barangnya. Sepertinya dia harus pulang naik taksi. Mungkin ini kesempatan langka untuk keluar kelas lebih lama. Diliriknya Dewa yang sudah memakai jaketnya dan bersiap untuk meninggalkan kelas.

"Ay keluar yuk!" ajaknya sambil berjalan menghampiri meja Ayana. Tanpa basa – basi mereka pun berjalan keluar gerbang bersama. Yang tentunya langsung disambut dengan pemandangan lalu lintas yang padat. "Bang Aidan tumben belum nongol?" Ayana menggelengkan kepala.

"Hari ini ga jemput. Aku naik taksi." Tampaknya, belum ada taksi yang muncul karena padatnya jalan yang masih sesak dipenuhi kendaraan antar jemput murid lainnya.

"Yah, sebenernya pengen barengin, sih. Tapi ada kerja kelompok gimana dong?" sahut Dewa dengan nada murung. "Bentar lagi ojeknya nyampe juga. Sorry ya Ay!"

"Gapapa kali, gausa minta maaf. Aku bisa pulang sendiri kok." Tak lama kemudian, ojek online pesanan Dewa pun sampai. Dewa pun pamit dan menghilang dari pandangan Ayana. Lelah berdiri, Ayana pun memilih untuk duduk di halte yang ada tak jauh dari tempatnya berdiri. Menikmati pemandangan yang jarang ia saksikan sehari – hari, pemandangan dimana dia bisa menyaksikan satu persatu temannya pulang ke rumahnya masing – masing.

"Woy! Ngapain lo disini, Ay?" sapa Rangga yang tiba – tiba muncul disebelahnya. Dengan seragam yang tidak dikancing dan kaos dalaman yang sudah basah berlumuran keringat. Tangan kirinya memeluk bola basket.

"Nungguin taksi." Jawab Ayana tanpa menoleh. Membuat Rangga menduduki tempat kosong yang ada disebelahnya. Lalu perlahan mengusap keringatnya yang masih membasahi dahinya. Ayana melirik kearah Rangga yang duduk disebelahnya. Lalu membuka tasnya dan meraih tisu dari dalamnya. "Nih! Bau tau!"

"hehe, makasih Ay! Loh? Bang Aidan kok ga jemput?"

"Ada kelas tambahan dia."

"Yah gue hari ini dijemput si Icha. Tapi kalo lo mau bareng gapapa deh kayanya.."

"Gausa, ngerepotin nanti." Rangga menghembuskan nafasnya panjang setelah mendengar jawaban Ayana. "Kenapa?"

"Lo ga pernah ngerasa ngerepotin gue gitu setiap lo nafas dengan indahnya didepan gue?" tanya Rangga sambil mengembalikan sisa tisu milik Ayana ( asli ini Rangga belajar dari siapa q juga tak tau ). Ayana tertawa singkat mendengar pertanyaan Rangga.

"Maaf deh, maaf." Jawabnya lalu melirik kearah jam ditangannya. "Udah, itu tisunya kamu bawa aja."

Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti didepan mereka. Kaca yang terbuka memperlihatkan Icha yang menampilkan mukanya. "Gue cariin di tukang bakso, taunya disini lo, dek. Hai, Na. Belum pulang?"

"Belum." Jawabnya singkat sambil menggelengkan kepalanya.

"Gaada yang jemput dia, Cha." Sahut Rangga sambil menunjuk tangannya kearah Ayana.

" Sahut Rangga sambil menunjuk tangannya kearah Ayana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Loh? Bareng aja yuk!" ajak Icha dengan tanggap.

"Aku udah pesen taksi kok! Gausa, nanti ngerepotin. Udah kamu cepet masuk mobil!" tolak Ayana lalu mendorong Rangga agar cepat masuk ke mobilnya. Tanpa mengulang tawarannya, Icha pun pamit dan mengendarai mobilnya pergi menjauhi sekolah.

"Jahat banget lo, Cha. Masa Ayana lo biarin nungguin sendirian? Tungguin dulu kek." Icha pun tersenyum setelah mendengar rengekan Rangga begitu mobilnya berjalan meninggalkan sekolah.

"Coba deh ambilin hp gue, dek!" Rangga mengangkat alisnya heran. "Cepetan!" setelah Rangga menyerahkan hpnya ke tangannya. Icha mulai mencari suatu nama di kontaknya.

"Halo, bang?"

"Engga, itu si Ayana gaada yang jemput kasian. Masa mau naik taksi sendirian?"

"Ok, cepetan!" tak lama kemudian telfonnya ditutup. Rangga masih menatap kakaknya dengan penuh pertanyaan. "Tenang aja, udah gue panggilin pangerannya."

Ayana masih terduduk dihalte. Berkali – kali mengurungkan niatnya untuk mencegat taksi yang berlalu – lalang didepannya. Menikmati waktunya menghabiskan sisa sore harinya dihalte sekolah. Sampai satu suara kencang mendekatinya. Ayana memiringkan kepalanya, seakan tak percaya akan apa yang dilihatnya. Arka dengan jaket dan helm hitamnya, berhenti tepat didepan Ayana.

"Belum pulang, Ay?" tanyanya setelah membuka kaca helmnya. Ayana pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Tanpa basa – basi Arka pun melepas helmnya. "Mau bareng nggak?" Ayana merasakan ada sesuatu yang menggelitik dalam dirinya. Entah itu karena tawaran Arka atau perasaannya yang gembira karena tau dia akan naik diatas motor yang suaranya suka dia dengar. "Rumah kita searah kok, gausa sungkan." Lanjut Arka.

"Ay, yuk pulang!" mereka berdua menoleh ke asal suara yang tiba – tiba terdengar diantara percakapan mereka. Menemukan Daniel diatas motornya. Lalu turun dan berjalan ke arah mereka.

"Loh, kok disini bang?" Tanya Ayana yang terkejut setelah melihat kedatangan Daniel.

"Capek ya nunggu? Sorry ya, Ayana mau gue anter pulang. Gapapa kan' bro?" Daniel pun melirik ke arah Arka yang masih memandangi mereka berdua.

"Gapapa, bang. Tadi gue kira Ayana gaada yang jemput. Yaudah, gue duluan ya." Arka pun memakai kembali helmnya dan menyalakan mesin motornya lalu melaju kencang meninggalkan mereka berdua.

"Yuk pulang." Ajak Daniel sembari menarik tangan Ayana menuju ke motornya. Lalu memasangkan helm ke kepala Ayana yang masih terdiam memandanginya. "Udah gausa bengong mulu. Perlu aku jemput tiap hari biar gausa nunggu taksi sampe jam segini? Kamu tuh! Bikin orang khawatir aja!" ucapnya sambil menutup kaca helm Ayana pelan. Tanpa mengetahui, hati Ayana yang tiba – tiba berdegup kencang. Tubuh yang mungil pun berjinjit untuk menaiki motor Daniel yang tinggi. Hatinya terus berdegup kencang setelah mendengar suara mesin motor Daniel yang menyala.

"Sekarang, bunyi ini bukan lagi punya Arka aja.." gumam Ayana dalam hati.

Hai!! Cuman mau ngasih tau kalo ini cerita flashback dari Ayana sebelum move on dari... Tau kan siapa.. hehe. Jangan lupa vote, share dan comment sebanyak banyaknya ya! Next chapter mau cerita malem minggu Nata - Icha / Ayana - Daniel dulu?:)


Love, starlight.

Dear name | 101Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang