Hai
Pernah lihat makhluk menggemaskan nggak?
Yang kalo setiap dilihat rasanya pengen peluk selama - lamanya?
Kalo dihidup gue ada, namanya Rama.
Dia pendiam, tapi ada satu hal yang bisa bikin gue tertarik sama dia.
Kalo dia ketawa, senyum, fokus dengerin materi dari dosen, gigitin bulpennya, bahkan kalo dia kedipin matanya gue masih bisa ditemukan bengong dibelakang kelas sambil merhatiin dia. Segemes itu gue sama dia!
Gue terdengar creepy ya?
Tapi percaya deh! Rama dimata gue itu bagaikan karakter khayalan!
Waktu itu, hari terakhir ospek dikampus. Rama sedang asyik menikmati es teh dibawa pohon rindang didekat parkiran gedung fakultas kedokteran.
"Heleh, udah gue cariin muter - muter, taunya lo disini!" Ujar Raka yang tiba - tiba datang dan duduk disebelahnya.
"Ngapain nyariin gue lo, Rak?" Tanya Rama sambil tetap memfokuskan pandangannya mengamati keadaan didepannya yang ramai akan manusia berlalu-lalang.
"Ya barangkali lo mau nemenin gue beli batagor dibelakang gitu nanti pas pulang. Sama nyari baso aci bentar, gue lagi pengen, Ram." Lalu Rama memalingkan kepalanya ke arah Raka yang mulai sibuk dengan hpnya.
"Woi"
"Hah?"
"Tapi gue ga lo suruh bayarin kan?" Raka menatap Rama dengan tatapan tak percaya.
"Pelit amat lo, Ram." Lalu memasang tampang melas di wajahnya.
"Kebiasaan sih lo!"
"Iya iya, kali ini gue bayar!"
"Awas lo sampe minta duit ke gue." Timpal Rama lalu kembali memalingkan kepalanya kedepan.
Matanya mencoba memperhatikan gedung yang ada didepannya. Fakultas kedokteran, tempat yang paling ia dambakan sejak dulu. Dia pikir, masuk fakultas psikologi akan membuatnya menghadiri kelas di gedung kedokteran. Tapi ternyata, salah besar. Dia ingin jadi psikolog bukan dokter spesialis jiwa.
Beberapa hari setelah pengumuman, rasanya Rama pengen berhenti kuliah. Padahal hari pertama belum juga dihadapinya. Rasanya agak kecewa kalo namanya tidak tercantum dibawa daftar mahasiswa program spesialis ilmu kedokteran jiwa. Tapi disisi lain, hatinya lega. Akhirnya dia bisa memenuhi keinginan orang tuanya untuk masuk ke jurusan psikologi.
"Rama Raka, permisi." Satu suara memecah lamunannya. Terlihat seorang perempuan berambut panjang berdiri didepannya. Raka ikut melirik kearah perempuan yang ada didepan Rama. Memperhatikan penampilannya, rambut panjangnya terurai bebas. Atasan polos, jeans hitam dan tas selempang menghiasi penampilannya.
"Gue Reyna, kalian dipanggil panitia. Disuruh ambil jadwal kelas dilantai atas." Diam - diam Raka hampir melongo memperhatikan Reyna yang menyelipkan rambut dibelakang telinganya.
"Oh ok, makasih ya, Reyna." Jawab Rama dengan santai lalu mulai mengemasi barangnya. "Rak, yuk!" Raka masih terdiam ditempatnya, diam - diam mengamati Reyna yang berjalan menjauh.
"Buset seger amat kek manisan." Gumam Raka tanpa mengalihkan pandangannya dari punggung Reyna.
"Aelah mata keranjang lo, mau ikut gue nggak?!" Saat dilirik, Rama sudah memasang tampang galaknya yang siap menerkam Raka.
"Eh iya iya, sabar dong!" Dengan cepat Raka ikut mengangkut tasnya lalu berjalan mengikuti Rama.
Setelah sampai dilantai atas, mereka berdua disambut dengan kerumunan mahasiswa yang tersebar dimana - mana. Pandangan mereka sama - sama menangkap penampakan panitia yang sudah berkumpul dimeja yang ada diujung lorong lantai atas. Mereka berdua memberanikan diri untuk berjalan mendekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear name | 101
General FictionAn alternate universe story. Pure berisikan kumpulan cerita penuh kearifan lokal. Cast : yours truly, 101
