Kiplan panggilannya. Moodmaker paling juara. Kesayangan semua orang disekitarnya. Pipi gembulnya selalu jadi sasaran cubitan gemas dari teman temannya yang jail.
Kaivan yang merantau memilih untuk tinggal di kos an karena uang bulanannya yang pas pas an dan persediaan nyalinya yang minus.
"Takut bang kalo gue hidup sendirian entar digoda setan gimana?" - Kaivan, mahasiswa.
Berangkat pulang kuliah ditemani motor maticnya yang sering minta dicucikan Nata setiap kali ada kesempatan. Kaos polos dan celana longgar andalan tak lupa menghiasi penampilannya.
Bukan Kaivan namanya kalo dateng kampus ga nelat. Meski terkenal bandel, Kaivan selalu jadi nomor satu di hati para dosen kalo sudah menyangkut suaranya. Tak jarang beberapa dosen rela menghabiskan waktunya untuk sekedar ikut duduk menyaksikan Kaivan yang sering tampil di festival kampus.
"Kaivan, nanti kalo kamu bikinin lagu buat anak saya. Saya kasih nilai plus terus. Kalo bisa nikahin juga ya." Celetuk salah satu dosen setelah bertepuk tangan.
Berbeda dari Reno yang eksis sebagai anak band dan punya banyak penggemar, Kaivan sudah lama ( terlalu lama tepatnya ) menjomblo.
"Mau sampe kapan itu gitar lo pake buat nge hibur orang lain? Gamau gitu lo pake buat nyanyiin pacar?" Tanya Reno sambil mengepulkan asap rokoknya di udara. Sambil memandang ke atas langit dari kursi halaman belakang.
"Cariin dong, bang On. Ngatain mulu lo, bantuin kagak." Reno melirik kearah Kaivan. Lalu kembali menghisap rokoknya.
"Lah lo sendiri? Masa ga perna gitu naksir sama orang? Masa mau langsung gue kasih calon tanpa tau selera lo yang kaya gimana.." Kaivan memutar bola matanya lalu mulai berpikir. "Yaela ditanya gituan aja sampe mikir lama Kip!" Timpal Reno.
"Gue sih maunya yang manis, baik, terus kalo bisa, jago nyanyi!" Dengan cepat Reno menjentikkan jarinya.
"Ya jadian sama Aina aja lo sono!" Cetus Reno dengan nada mengejek.
"Lah kok tiba - tiba Aina?! Serius dong bang! Yakali gue pacaran sama anak SMA?!" Timpal Kaivan yang kaget karena nama Aina tiba - tiba muncul.
"Apa salahnya? Umur lo sama dia ga terpaut jauh juga kan?"
"Eh?"
"Sekarang..." Reno mulai membenarkan posisi duduknya. "Lo coba sana cari tau tipenya dia kaya gimana! Gue mau boker bentar." Reno pun bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah.
"Jorok banget lo bang."
Terpikirkan sejenak di otak Kaivan. Pikiran tentang Aina. Mulai terbayang - bayang sosok Aina di kepalanya. Suaranya yang nyaring menyapanya setiap kali bertemu, senyumannya yang cerah dan tentunya suaranya yang selalu menjadikan apapun yang dinyanyikan berubah menjadi lagu favorit Kaivan.
"Apaan sih lo Kip? Yakali naksir sama bocah. Inget! Lo tuh mahasiswa!"
"Lah itu si Daniel?" Tiba - tiba muncul sosok Javas yang bersandar didekat pintu. Lalu berjalan mendekat dan menduduki tempat kosong disebelah Kaivan. "Naksir sama sapa lu?" Tanyanya penasaran.
"Hah? Engga kok bang! Ga naksir sapa - sapa!" Bantah Kaivan dengan cepat. Lalu mencoba tertawa seakan mendengar pertanyaan Javas sebagai candaan semata.
"Ih jangan bohong lo sama gue! Awas aja sampe gue ga tau namanya dari mulut lo sendiri!" Ancam Javas sambil menunjukkan telunjuknya kearah wajah Kaivan. "Anak SMA ya? Wah diem - diem lo ternyata pemburu handal. Ya gue cuma mau bilang aja, mau dia anak SMA mau dia anak dosen lo, selagi perbedaan umur masih fine fine aja, kenapa engga? Tuh liat temen lo, si Daniel. Sama si Ayana, meskipun gitu, mereka tetep adem aja tuh."

KAMU SEDANG MEMBACA
Dear name | 101
General FictionAn alternate universe story. Pure berisikan kumpulan cerita penuh kearifan lokal. Cast : yours truly, 101