Hujan, Raka dan Reyna

138 10 0
                                    

Menginginkan seseorang yang tak pernah ingin dimiliki itu

Seperti mencintai bulan yang cuma bisa kita lihat dari kaca jendela

Mencintai seseorang yang tak ingin dicintai itu

Selayaknya berusaha menggapai matahari dari dasar bumi

Dan semesta

Maafkan aku yang menyayanginya terlalu dalam

Maafkan hatiku yang sudah tidak lagi bisa terlepas darinya

Maafkan perasaanku yang terlalu terikat padanya

Karena aku tidak punya daya apa – apa untuk merubah itu

Aku terlalu mencintainya semesta

Padahal aku tahu

Aku mencintai seseorang yang mencintai seorang yang lain

Yang bukan aku

-       Rintik sedu


Reyna menatap kosong tetesan air hujan yang berjatuhan didepannya. Sesekali mengulurkan tangannya untuk menangkap setetes, dua tetes air hujan yang akhirnya membasahi telapak tangannya. Hari ini, gazebo terasa sepi. Reyna memberanikan diri untuk berdiam diri disitu. Berharap seseorang yang dirindukannya akan datang lalu menawarkan sebuah pelukan atau sebuah jaket untuk menghangatkan badannya.

"Bodoh banget si lo Reyna." Tak lama kemudian dia menertawakan ocehannya sendiri. Hujan turun makin deras, mulai muncul beberapa titik di permukaan bajunya. Tawanya makin menjadi. Hingga akhirnya, tas yang tadinya tergantung dilengannya sudah tergeletak di lantai gazebo. Reyna berlari menghambur menyambut hujan. Matanya terpejam, kepalanya tertunduk lesu.

"Gue capek nungguin bang Reno." Tak lama kemudian kedua pipinya terasa hangat, rasa air hujan yang menyentuh lidahnya mulai tercampur dengan air matanya yang mulai mengalir.

Gatau kenapa hari ini kampus terasa sepi. Dan Reyna sama sekali nggak peduli dengan tatapan yang diberikan oleh beberapa manusia yang jalan melewatinya.

"Gue ga bisa kaya gini terus. Lo ga boleh gini terus, Reyna." Beberapa kali terdengar suara petir, tapi Reyna tetap berada di posisinya dan terus menangis.

Bruk

Badan Reyna berpindah tempat begitu merasakan seseorang menabraknya tiba – tiba. Air hujan membuyarkan pandangan Reyna. Yang terlihat hanya, seseorang yang mencoba melepaskan jaketnya. Sampai akhirnya, pandangan Reyna terlihat semakin jelas. Air hujan sudah tidak lagi mengguyur kepalanya. Dan wajah orang itu sudah ada didepan wajahnya.

"Gue tau lo suka main hujan. Tapi, lo ga gila kan, Na?" sosok yang ada didepannya itu bukan Reno. Lidah Reyna masih terasa kelu. Matanya masih menatap tatapan mata Raka yang terlihat cemas.

"Lo ngapain disini?" Raka cuman melengos, tak percaya dengan pertanyaan yang diajukan Reyna ditengah hujan yang lebat ini. "Siapa nyuruh lo nyamperin gue kesini?" lanjutnya. Giliran Raka yang diam. Mata Reyna menatap Raka sinis. Tanpa ragu, Raka menatap pandangan sinis Reyna.

"Lo mau jalan sendiri atau gue gendong buat pergi dari sini?" tangan Raka masih memegangi jaket yang terbuka diatas kepala mereka.

"Gue gamau pergi dari sini."

"Gue gamau lo sakit."

...

"Gue udah sakit. Sekarang pergi dari sini." Reyna melangkah keluar dari bawah lindungan jaket Raka. Kembali membiarkan tubuhnya terguyur air hujan yang lebat. Tanpa berpikir jernih, Raka memakai kembali jaketnya. Lalu melangkah mendekat dan berdiri disamping Reyna.

"Gue ga mau pergi." Kata Raka begitu berdiri disamping Reyna. Reyna mengambil beberapa langkah menjauhi Raka. Beberapa detik kemudian, Raka sudah ada disampingnya lagi.

"Gue mohon lo tinggalin gue sendiri." He raised his arms and start to holds her shoulder tightly.


"Harus gue bilang berapa kali? Gue gamau lo sakit." Dan lagi...


"Gue udah sakit."


"Oke, buat gue sakit juga." Reyna terdiam sejenak setelah mendengar jawaban Raka.


"Mau lo tuh apa sih?! Lo mau ngeledek gue? Iya gue tau, Rak. Gue tau kalo lo bakal nganggep gue bodoh nangisin orang itu lagi disini. Gue tau. Jadi tolong tinggalin gue." Raka melepas genggaman tangannya dari pundak Reyna.

"Jadi tentang bang Reno lagi." Ucapnya datar lalu melihat ke arah langit diatasnya. Membiarkan ratusan atau bahkan ribuan air hujan membasahi wajahnya. Lalu menikmati garis – garis kilat yang menghiasi langit mendung. "Gue harus ngapain lagi sih, Na? gue harus ngapain lagi biar lo nyadar kalo ada gue disini?"

"Rak please gue gamau lo bahas itu lagi." Suara Reyna masih terdengar jelas disela – sela suara hujan yang turun membasahi bumi.

"Kenapa sih Na? Lo selalu ngebohongin diri sendiri? Bang Reno udah pergi, Na. Dia udah pergi buat cewe lain! Dan lo tau itu!" cara bicaranya berubah seketika. "Dan kenapa lo ga kasih kesempatan buat gue?!" Reyna pun berjalan mendekat.

"Karena gue tau lo bakal pergi. Jadi stop bahas itu lagi, Rak. Gue mau lo selamanya pergi, dan gausa balik. Gue capek selalu ketemu lo disaat gue lagi sedih dan hancur gini. Gue ga berhak buat jadi orang yang lo sayangi. Pergi, gue mohon pergi." Raka menghentakkan kakinya ke genangan air.

"Jangan pernah cari gue lagi." Ucapnya lalu pergi menerobos guyuran air hujan.

Singkat, memang singkat. Tapi akhirnya Raka tidak menyesali semua perkataan yang ia katakan barusan. Langkah kakinya terasa ringan begitu dia meninggalkan Reyna lalu mengambil tasnya yang tergeletak di tengah gazebo.

Dengan tubuhnya yang basah kuyup, Raka masuk ke dalam mobil. Melepas jaketnya yang basah kuyup lalu meraih handuk yang ada di kursi belakang.

"Tolong, biarkan kali ini jadi yang terakhir kali. Gue capek nungguin seseorang yang gamau gue perjuangin." Tak lama kemudian, mobil itu melaju menjauhi kampus.


Reyna masih berdiam diri di tempat yang sama. Masih terus membiarkan air hujan itu membasahi tubuhnya yang sudah basah kuyup. Bukan, ini bukan menari dengan hujan, apalagi menikmati hujan. Tapi Reyna berlindung, dia berlindung dengan hujan.

Pikirannya semakin kacau setelah mengusir Raka. Reyna tau, Raka adalah orang yang baik. Bahkan berpuluh – puluh kali lebih baik dari orang yang sekarang ia tangisi. Reyna pun juga bingung. Semanis apapun, sebaik apapun seorang Raka Jendra, Reyna pasti akan kembali ke suatu rumah kesayangannya yaitu, Reno Afkar.

Sayangnya, saat ini, orang itu malah menghilang. Dan membuat Reyna kehilangan harta berharga yang ia sebut rumah itu menghilang.

Dear name | 101Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang