Reno melangkah kembali ke ruangan setelah mencuci tangannya di kamar mandi. Hingga suatu suara dering mengalihkan perhatiannya.
"Bang Reno?"
"Ada apa, Dan?"
"Mama masuk rumah sakit. Bisa bawa Ayana kesini?" Suara Aidan terdengar sedikit bergetar diseberang telfon.
"Oke tunggu gue disana."
Reno memasuki ruangan dengan langkah yang tergesa - gesa. Mengambil jaket dan dompetnya lalu berjalan ke arah Ayana dan Daniel yang asik berbincang di sisi lain meja. Tanpa basa - basi, tangannya menarik lengan Ayana dan menariknya dengan paksa.
"Eh? Ada apa bang?" Ayana terdengar panik begitu melihat tingkah Reno.
"Ayo ikut gue sekarang." Tangannya kembali menarik Ayana menjauh dari Daniel.
"Ada hak apa lo narik dia paksa kaya gitu?" Suaranya terdengar biasa saja, tapi langkah Reno langsung terhenti dibuatnya.
"Karena gue udah dipercaya buat nge bawa dia, sedangkan lo engga, Dan." Semua orang di ruangan itu dibuat membeku begitu melihat apa yang terjadi diantara mereka bertiga.
"Santai On. Kan' bisa di omongin baik - baik.." lerai Javas.
"Maaf bang, ini urusan mendadak. Gue sama Ayana duluan." Reno pun melanjutkan langkahnya.
"Bang Reno!" Sayangnya, panggilan Reyna tidak sanggup menahan Reno yang sudah menghilang dibalik pintu.
Langkahnya masih tergesa - gesa sampai akhirnya mereka sampai didepan Vespa Reno. Tanpa berkata apapun, Reno memasangkan helm dikepala Ayana lalu menyalakan mesin.
"Ay, ayo naik." Tiba - tiba suara Brian muncul entah dari mana. Disusul dengan suara motor yang mendekati mereka. Reno melihat Brian dengan penuh tanya. "Maaf bang, gue gamau lihat kalian bertengkar lagi. Gue bakal bawa Ayana sampe ke rumah sakit. Ay, ayo naik." Tanpa perlu menjelaskan apa yang terjadi, dengan dua kata perintah, Ayana langsung menaiki motor Brian dan pergi menjauh dari lapangan parkir.
Tidak seperti biasanya, Brian sering menambah kecepatan dijalan. Tangannya meraih tangan Ayana agar berpegangan ke pinggangnya. Ayana percaya sama Brian, dia juga berdoa semoga semua hal yang terjadi barusan bukan pertanda buruk buat dia.
"Mama masuk rumah sakit, sebentar lagi kita nyampe. Jangan banyak tanya, kamu langsung masuk, cari bang Aidan."
"Kenapa gaada yang mau terus terang tadi?" The fact bahwa Ayana malah menanyakan tentang orang lain bukannya mamanya, membuat Brian membisu. "Kenapa Bri?"
"Sst! Mama sakit, Ay! Mama kamu masuk rumah sakit."
"Lain kali jangan bikin aku bingung ya. Jangan main tarik main oper kaya tadi. Aku ga mau keadaan mama disembunyiin kaya tadi." Brian merasa terpukul.
Motor Brian berhenti didepan pintu UGD. Sesuai perintah, Ayana berlari menghambur memasuki UGD. Meninggalkan Brian yang akhirnya mencari tempat parkir untuk motornya.
"Maafin gue ya."
Masih terdiam, Reno masih diam. Sekarang motornya sudah terparkir di taman diujung perumahan. Kakinya beberapa kali diayunkan sambil memainkan batu kerikil yang ada di dekat sepatunya.
"Segampang itu ya? Segampang itu bikin gue berhasil peduli sepenuhnya lagi sama lo, Ay? Gue tuh capek!" Omel Reno pada dirinya sendiri. "Ya Tuhan, kenapa sih ciptain makhluk kaya saya? Bisa lihat gimana tadi saya ngelupain semua usaha saya buat ngelupain dia? Dan langsung ingin jadi orang yang melindungi dia hanya dalam sekejap mata?!" Kakinya berkali - kali dihentakan. "KENAPA ORANG KAYA GUE HARUS ADA DI DUNIA INI?!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Dear name | 101
General FictionAn alternate universe story. Pure berisikan kumpulan cerita penuh kearifan lokal. Cast : yours truly, 101