Bian berjalan menyusuri halaman rooftop sambil membawa segelas kopi panas ditangannya. Dipandangnya pemandangan kota dari atas gedung perusahaan tempatnya bekerja. Tak lama kemudian mencoba merenggangkan ikatan dasinya lalu kembali menyesap kopinya.
"Nanti malem, meeting. Besok sore, ketemu klien. Aduh, bisa keteteran nanti jadwal istirahat gue." Gumamnya pelan. Lalu meraih hp nya dari dalam saku celananya.
Jupri : Yan ini bawahan baru lo udah dateng. Cakep! Buruan urusin.
Dirinya berdecak kesal setelah membaca pesan yang dikirim Javas secara tiba - tiba itu. Hari ini, tampaknya sudah datang. Setelah jadwal yang padat, kini hari - harinya harus ditambah dengan urusan yang berkaitan dengan bawahan barunya.
"Kena kutukan apa coba gue sampe kaya gini." Dirapikannya dasi yang tadinya melonggar dan kakinya berjalan meninggalkan rooftop. Tangannya sibuk menekan tombol lift dan membuang gelas kopinya ke tempat sampah tanpa tau ada seseorang yang menunggunya didepan pintu ruangan.
"Pak Fabian?" Tanyanya sambil memiringkan kepalanya. Bian cuma mengangguk pelan. Diserahkannya segelas teh hangat dan sebungkus sandwich. "Saya Wanda pak!"
"Kamu.." kalimat Bian tertahan sejenak. "Bawahan baru saya?" Lanjutnya meyakinkan. Gadis itu mengangguk tanda perkiraannya benar. "Yasudah." Timpal Bian datar. Gadis itu kembali memiringkan kepalanya.
"Yasudah?" Tanyanya heran.
"Yasudah, sana kerja." Jawab Bian datar sambil berjalan kearah ruangannya. Tak lama kemudian langkahnya terhenti. "Wanda?"
"I-iya?" Bian mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk ke suatu arah.
"Itu meja kamu yang menghadap ke ruangan saya." Lanjutnya lalu menghilang ditelan pintu ruangannya.
Wanda berjalan lemas kearah mejanya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Rasanya percuma dia bangun di pagi buta, berlarian ke Starbucks terdekat. Membawa semua makanan dan minuman untuk calon mitra kerjanya, dan tidak ada yang menyambutnya dengan riang. Wanda memijat pelipisnya pelan begitu terduduk dikursinya.
"Galak ya?" Tiba - tiba muncul seorang gadis tinggi yang berjalan kearah mejanya.
"Siapa?" Tanya Wanda yang kebingungan.
"Itu si Bian." Jawabnya sambil menunjuk kearah ruangan Bian. Ruangan itu dikelilingi dinding kaca yang pastinya tembus pandang. Tapi disetiap sisi ruangan selalu ada tirai yang menggantung diatasnya. Wanda yang masih kikuk memutuskan untuk hanya memberikan senyum kecil ke gadis itu. Tak lama kemudian gadis itu menarik kursi yang ada didekatnya lalu duduk didekat Wanda. "Gue Tasya!" Sapanya riang. "Baru ya disini?!"
"Wanda. Iya, baru masuk hari ini." Jawab Wanda. Tiba - tiba Tasya menggerakkan kursinya dengan kakinya mendekat ke Wanda dan mendekatkan wajahnya. Wanda yang kebingungan mengambil jarak karena melihat ulah Tasya.
"Cantik!" Ucap Tasya lalu bangkit dari kursinya. "Nanti makan siang sama gue ya?" Tanyanya sambil memegang kedua tangan Wanda. Wanda pun mengangguk tanda setuju.
Jam kerja berlalu begitu saja. Wanda mulai mengenai lingkungan disekitarnya. Sifat riang Tasya selalu membuat ruang kerja terasa bersuara. Tak lupa setiap setengah jam pasti teman Tasya yang namanya Vano akan bangkit dari duduknya dan berjalan kearah ruang percetakan. Lalu disusul Tasya yang berteriak, "VANO AMBILIN GUE MINUM JUGA!"
Saat makan siang. Sesuai janji, Wanda pun menemani Tasya makan siang di pantry kantor. Tak disangka, Tasya ternyata orang yang cinta kebersihan. Gimana enggak, bahkan peralatan makan sudah dia siapkan sendiri dari rumah. Tak lupa dengan gelas warna hijau bergambar monyet berjemur yang selalu dia pakai saat minum di kantor.
"Gimana hari pertama?" Tanya Tasya disela makannya. Wanda mengalihkan pandangannya keatas, mencoba memikirkan kegiatannya haru ini.
"Biasa aja." Jawabnya datar.
"Tunggu aja, Wan." Wanda menaikkan alisnya mendengar sahutan Tasya. "Palingan juga abis ini pak Javas sama si Bian ngajakin makan malem keluar." Lanjutnya sambil meraih sekotak tisu basah dari dalam tasnya.
"Makan keluar? Kan' malem ini ada meeting?" Tanya Wanda memastikan.
"Meeting apa sih yang lebih penting dari penyambutan pegawai baru? Gue kan juga penasaran sama anak baru divisi bawah! Lagian mana berani itu si Bian ngebiarin anak baru cemberut di hari pertama." Timpal Tasya lalu dilanjutkan dengan tawa riangnya.
"Hah masa? By the way, santai banget lo nyebutnya. Yang bener Bian apa Fabian si?" Tanya Wanda sambil mulai meminum jus jeruknya.
"Nama saya Fabian. Masih ada panggilan yang lebih layak dari 'si Bian'." Bagai gentayangan tiba - tiba sosok Bian muncul berdiri di depan meja mereka dengan nampan makan siang ditangannya. Wanda nyaris menyemburkan minumannya ketika mendengar suara Bian.
"Eh pak!" Herannya, Tasya malah melambaikan tangannya dengan riang sambil menyapa atasannya yang terlihat marah didepannya.
"Sst, yang sopan dong, Tas!" Timpal Wanda sambil memelankan suaranya. Tak lama kemudian terdengar suara tawa Bian.
"Dengerin tuh! Masa ga malu diingetin sama Wanda yang anak baru?" Sahut Bian sinis.
"Maaf ya pak." Ucap Wanda tiba - tiba.
"Hah ngapain lo minta maaf? Bapak sih bercandanya keterlaluan!" Tasya melirik kearah Wanda yang tertunduk. Bian yang ikut bingung ikut menundukan wajahnya setelah melihat tingkah Wanda barusan.
"Saya bercanda kok. Nanti, datang ke pesta penyambutan karyawan ya. Dan, makasih buat sarapannya." Ucap Bian dengan senyum kecil di bibirnya sambil menepuk pelan bahu Wanda. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Tuhkan gue bilang apa.. si Bian tuh gitu. Tapi kenapa orang - orang pada heran sih setiap gue tanggepin omongannya? Bingung gue." Keluh Tasya sambil berdecak kesal. Wanda masih terdiam dalam duduknya. Mengingat apa yang terjadi barusan. Pak Fabian, atasannya yang tadi pagi menyambutnya dengan datar. Tiba - tiba menundukan kepalanya sejajar dengan wajah Wanda yang meminta maaf. Tersenyum singkat lalu menepuk bahunya.
"Kita cabut dari sini yuk!" Sahut Wanda yang tiba - tiba bangkit dari duduknya. Tasya pun memandangi Wanda dengan wajah heran.
"Semangat banget lo, mau ngapain?" Tanya Tasya sambil mengemasi barangnya.
"Mau kerja!" Jawab Wanda dengan wajah yang berseri - seri lalu berjalan meninggalkan meja.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dear name | 101
Aktuelle LiteraturAn alternate universe story. Pure berisikan kumpulan cerita penuh kearifan lokal. Cast : yours truly, 101