chit chat

51 5 0
                                    

Setelah berhasil melek dan mengabadikan segala ke chaos an yang terjadi selama awal perjalanan, akhirnya mata Ayana terasa berat. Padahal pemandu perjalanan bilang mereka sudah mendekati tempat tujuan pertama. Dengan pasrah, Ayana menyandarkan kepalanya ke kaca jendela di sebelahnya. Berharap bisa mengusir rasa ngantuk dengan melihat pemandangan jalan yang ada.

"Cuy, ngantuk kamu?" tanya Daniel usil sambil menaikkan alisnya, Ayana mengangguk.

"Padahal mereka masih asik dangdutan, kok aku bisa ngantuk ya?" tanya Ayana terheran – heran padahal di depan Raka dan Rama lagi asyik duet nyanyi lagu galau untuk kesekian kali.


"SAYAAANGKUUU OUOUOOOH DENGARKAN LAH ISI HATIKUUUUU, APA RAK?!" lalu disusul dengan suara menggelegar nan luar biasa milik Raka.

"CINTAAAKUUUU OUOUOOOOH..." Daniel cuman bisa geleng – geleng melihat dua manusia yang belum juga kehabisan energi padahal ketuanya sudah molor di kursi paling belakang. Iya, Reno udah ngorok di belakang setelah selesai nyanyi lagu ke empatnya. Dan sekarang posisinya sudah di ambil alih Kiplan yang tiba – tiba dapat nyawa tambahan.


"Pak, masih lama ini perjalanannya?" tanya Kiplan sambil memilih lagu di layar hpnya.

"Sebentar lagi mas, itu pantainya sudah kelihatan! Itu tulisannya, Pantai Pandawa." jawab pemandu perjalanan kita, mas Dika. Selanjutnya bis langsung menuju tempat parkir yang tersedia. Semua penghuni bis langsung siap – siap turun setelah memastikan barang bawaannya. Kalo kalian heran kenapa mereka pakai bis padahal ga banyak peserta, tanya aja ke Javaas ya.


Setelah mengumpulkan semua nyawanya kembali, Nata memakai sandalnya yang tadi berhasil terpencar akibat tendangan dari kaki – kaki tak bertanggung jawab. Berkali – kali dia meregangkan kedua lengannya ke udara begitu berhasil turun dari bis.


"Tarik nafas bang, tarik." Pandu Daniel sambil mengusap punggung abangnya yang tadi terlihat lesu.

"Sejuk banget disini, tapi terik!" jawab Nata sambil mengangkat telapak tangannya di depan mata. Lalu muncul Icha yang menyodorkan topi di tangan kanannya.

"Kalo capek bilang." Perintah Icha datar.

"Ayo semua, ikut saya kesana." Dengan lantang mas Dika memimpin barisan rombongan berjalan menuju pintu masuk pantai. Bukan Raka namanya kalo nggak langsung mencar cari spot foto terdekat. Tak lupa Aina yang selalu ngikut sambil ngejagain tas kamera yang jadi tanggung jawabnya.


Sebelum memasuki area pantai mereka memutuskan untuk duduk di warung kecil untuk sekedar beli camilan. Berbeda lagi dengan Daniel, yang sibuk menggerutu di pojok sambil bolak – balik mengoleskan sunblock ke badannya.

"Udah Dan, lama – lama lo kaya setan deh putih semua!" ejek Bian sambil nyedot teh botol di tangannya. Tapi Daniel cuman geleng – geleng sambil tetap melanjutkan aktivitasnya, sesekali manggil Ayana buat ngeratain sunblock yang belum rata.

"Gak usah banyak – banyak ya, gak baik juga buat kulit." Kata Ayana sambil merebut botol sunblock dari tangan Daniel. Rombongan langsung lanjut jalan menuju pantai, di sambut penduduk asli yang mulai menawarkan beragam jasa.

 Rombongan langsung lanjut jalan menuju pantai, di sambut penduduk asli yang mulai menawarkan beragam jasa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 26, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dear name | 101Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang