Sekarang gue terduduk di teras didepan rumah. Entah sudah berapa batang rokok yang gue habiskan. Tapi pikiran yang daritadi memenuhi kepala gue belum juga hilang. Apakah gue bakal ngelupain Ayana?
Masih teringat jelas pertemuan pertama gue dan Ayana waktu dulu. Saat dimana gue menyebut dia dengan sebutan "malaikat".
Tepatnya saat gue lagi nyebat didepan minimarket seberang gang. Menunggu Daniel, Nata dan Kiplan yang belanja di dalam. Perut gue yang kosong memutuskan untuk terus bersuara. Pucuk dicinta ulam pun tiba, aroma yang berasal dari gerobak Batagor di sebelah gue mulai menggugah selera. Kaki gue dengan otomatis melangkah mendekati gerobak Batagor itu. Laper sumpah.
Setelah memasang senyum penuh pesona. Gue pun akhirnya mengeluarkan selembar uang dari saku jaket gue dan mulai bertransaksi dengan abang batagornya. Karena menurut gue mereka bertiga pasti masih asik tamasya didalem minimarket, jadi ada waktu buat gue makan bentar. Dengan riang gue menyambut piring Batagor yang disajikan diatas pangkuan gue. Nikmat Tuhan tuh emang gini ya rasanya.
"Pak mau beli pulsanya dong!" Gue menoleh ke asal suara yang baru gue denger barusan. Terlihat seorang cewe dengan riangnya mendekati tukang jual pulsa disabilitas yang terduduk di becaknya. Rambutnya terurai panjang, ditutupi topi merah muda diatasnya. Lengan kaos panjang garis - garisnya dibiarkan keluar dari lengan jaket jeansnya. Tangannya sibuk menggenggam hp. Bapak - bapak itu memandanginya dengan senyum sumringah.
"Berapa mbak?"
"50 ribu ya, pak." Bapak itu tampak kurang jelas mendengar perkataannya. Dengan sigap, dia mengangkat telapak tangannya lalu mengulangi perkataannya. "Lima puluh yaa."
Tanpa sadar gue mulai memperhatikan dia dari bangku milik tukang Batagor yang gue duduki. Cantik banget, serius. Manis banget, apalagi cara dia ngomong ke tukang pulsa barusan. Pengen gue nikahin sekarang juga kalo bisa.
"Udah masuk ya, pak. Terima kasih." Ucapnya sambil tersenyum lalu berlari ke arah mobil yang parkir didekatnya. Langkahnya terhenti begitu kaca mobilnya terbuka. Kayaknya ada sesuatu yang kurang. Tak lama kemudian, dia kembali berlari kecil ke arah tukang pulsa. Lalu menundukan badannya lagi dan tersenyum sambil berkata, "Saya mau beli pulsa lagi, pak."
Belum juga habis lima suapan, rasanya udah kenyang ngeliatin dia senyum daritadi. Kenapa ya gue harus ketemu makhluk se manis dia di momen kaya gini?
Sambil menunggu tukang pulsa mengirimkan pulsanya. Dia mengedarkan pandangan ke lingkungan disekitarnya. Dan gatau ini gue apes atau untung. Matanya menangkap basah gue yang lagi bengong ngelihatin dia.
Tapi, anehnya. Gue ga kenal dia. Apalagi dianya. Dan dia senyum ke arah gue dengan anggunnya. Lalu kembali fokus ke layar hpnya. Gue yang gelagapan bahkan nggak sempat nge check apakah senyum balasan gue udah cukup ganteng apa enggak...
"Baru aja ditinggal bentar. Udah makan aja lo, bang!" Rengek Daniel begitu datang dan duduk didepan gue. Gue yang kenyang, akhirnya menyalurkan makanan gue ke tangan Daniel yang menerimanya dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Pas banget lo datangnya pas gue udah kenyang." Ucap gue pelan sambil menatap Daniel yang makan dengan lahap.
"Hah? Masih banyak gini? Kok udah kenyang?"
"Kayanya habis ini gue bakal dipanggil Tuhan." Daniel melotot dengan lebarnya sambil membiarkan mulutnya terbuka.
"Bang.. lo kenapa ya?"
"Gue? Gue habis lihat malaikat." Dengan cepat Daniel tersedak lalu menendangkan kakinya di udara. Sementara tangannya menepuk dadanya berulang - ulang.
"Sinting lo, bang." Timpalnya dengan cepat begitu batuk - batuknya menghilang.
"Dih, ga percaya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Dear name | 101
Fiksi UmumAn alternate universe story. Pure berisikan kumpulan cerita penuh kearifan lokal. Cast : yours truly, 101