Reno untuk Reyna

205 25 4
                                    

Reyna menatap kosong hamparan taman yang ada didepannya. Sambil sekali-dua kali memakan biskuit coklat yang dia bawa dari rumah.

"Heiiiii Reynaaaaaaaaaaa!" mungkin itu yang akan dia dengar dari mulut Reno kalau saja keadaan berubah.

Tapi sekarang, semua berubah. Meski dirinya sudah memberanikan diri untuk mengutarakan semuanya, tidak ada perkembangan yang terlihat dikehidupan Reyna. Reno belum juga muncul dihadapannya.

Reyna kangen, kangen sama suara cempreng yang biasa dia dengar. Bau rokok yang biasa dia cium meskipun pelakunya sering kali mengelak, "gue udah pake parfum kok!" Dan kursi belakang vespanya, tempat ternyaman bagi Reyna untuk sekedar mengamati punggung Reno dari belakang.

"Ngelamun mulu, lo. Kesurupan ntar!" Celetuk Brian yang tiba - tiba muncul dihadapannya.

"Eh Brian." Sambut Reyna datar.

"Ngapain lo jam segini nongkrong disini? Gaada kelas?" Tanya Brian sambil mulai minum sekotak susu yang dia bawa.

"Udah selesai dari tadi kali kelas gue." Brian cuma mengangguk mengiyakan. "Bri?"

"Hah?"

"Keadaan bang Reno gimana?" Tanya Reyna sambil meregangkan tangannya lalu menggerakkan kepalanya untuk sekedar melesmaskan lehernya.

"Baik. Udah jarang ketemu lo?" Reyna menggangguk pelan. "Ya ga heran sih gue. Kan dari awal emang jarang ketemu, gedung kalian kan jauh." Lanjutnya. "Coba deh, lo samperin ke gazebo deket parkiran. Biasanya dia suka nongkrong disitu."

"Okelah.." jawab Reyna pasrah. Gazebo adalah salah satu tempat yang paling Reyna hindari. Keadaan senior yang suka memadati tempat itu berhasil membuat gazebo sebagai tempat yang harus dihindari. Apalagi kalo sampai Reyna ketahuan pergi kesana sambil mencari - cari sosok Reno Afkar, bisa kacau urusannya.

Tak lama kemudian, Brian berpamitan karena ada kelas yang harus dihadiri. Tersisa Reyna yang kembali terduduk sendiri. Sambil mengayunkan kedua kakinya lalu memainkan dedaunan yang saling bergesekan dibawah sepatunya.

Mungkin dari awal semuanya sudah salah. Sifat naif Reyna lah yang menuntunnya ke semua perkara yang dihadapinya. Mulai dari obrolannya dengan Tavisha, Nata, Brian sampai dengan Reno Afkar. Berbeda dari yang lainnya. Nama Reno Afkar terdengar sempurna ditelinga Reyna. Setiap ada kesempatan...

"Cie Reyna dianter siapa tuh? Cakep!" Reyna membalas dengan senyuman kecil di bibirnya.

"Bang Reno. Reno Afkar!"

Kini kampus mulai terasa sepi. Sudah sekitar 3 jam Reyna menghabiskan waktunya untuk memandangi taman didepannya. Dibereskannya isi tas yang tadi dia keluarkan. Lalu berjalan menjauh dari taman. Mencari - cari apa yang harus dia lakukan selanjutnya.

Langkah kakinya berjalan mendekat ke arah parkiran. Mengangkat kepalanya untuk melihat keadaan sekitar. Rambutnya yang terurai tertiup angin. Diliriknya gazebo yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Mencari seseorang didalamnya. Berharap akan menemukan sosok yang dicarinya.

TINNN

Suara klakson motor dari belakang mengejutkan Reyna. Dilihatnya sosok dibalik suara itu. Tak lama kemudian, sosok itu membuka kaca helmnya. Memperlihatkan sepasang mata yang dikenalinya.

"Bang Daniel?"

"Kalo bengong jangan ditengah jalan." Timpalnya datar. Reyna melangkahkan kakinya menepi dari tengah jalan. Diikuti dengan Daniel yang mendorong motornya mendekat. "Ngapain lo?"

"Hm? Nggak, cuma lewat aja. Mau pulang."

"Nyariin Reno?" Tampaknya alasan Reyna masih terdengar tak masuk akal di telinga Daniel. "Itu lagi nyebat di gazebo." Timpalnya sambil menunjuk ke arah seseorang yang bersandar di pilar dengan rokok yang terjepit ditangannya. Seorang Reno Afkar, terlihat kembali. Reyna terus memandangi sosok Reno dari kejauhan. "Mau gue panggilin?"

Dear name | 101Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang