Part 3

11K 797 10
                                    

Happy Reading, maaf kalo ada typo👑

Melvin tampak tengah mengerutu karena melihat bagaimana bentuk design kamarnya yang sangat amat diluar nalar ekspetasinya. Bagaimana bisa kamar untuk putra mahkota seperti ini bentuknya. Hanya berisikan satu ranjang single size, yang ia yakin bahkan untuk ia tiduri itu bisa membuatnya tak dapat bergerak.

Dan juga hanya terdapat satu buah lemari dua pintu yang ia yakin juga satu pintu untuknya dan satu pintu lagi untuk teman sekamarnya.

Ia bingung kenapa teman sekamarnya belum juga memunculkan dirinya, Melvin akui ia sedikit penasaran dengan wujud teman sekamarnya itu. Apakah orang itu culun, atau justru sangat rapih, atau bahkan memiliki bau badan yang tak sedap.

Suara pintu terbuka dan derap langkah yang mendekat ke arahnya tak membuat Melvin menoleh untuk mengetahui siapa orang yang sudah dengan lancangnya tak mengetuk pintu karena tanpa menoleh Melvin sudah tau siapa orang itu.

"Bagaimana kamarnya? Kau suka?" Tanya suara bass itu pada Melvin seraya menepuk pundak lebar Melvin.

Melvin mendengus kesal, suka apanya bahkan menurutnua kamar pelayan di kastil milik keluarga nya jauh lebih bagus dari pada kamar ini.

Aidan terkekeh melihat raut wajah anaknya yang menurutnya sudah seperti batu, sama sekali tak ada ekspresi disana. Bahkan Aidan kadang sudah berpikir apakah anaknya itu mengerti atau paham arti sosialisasi.

"Tak ingin berkomentar?" Pancing Aidan.

"Komentar apa? Tak ada yang perlu dikomentari disini" jawab Melvin sekenanya.

Aidan mengibaskan tangannya di udara, sampai saat ini jujur saja ia masih bingung akan sikap dingin nan cuek milik anaknya. Mengikuti siapa sebenarnya sifat aneh putranya itu, walaupun Briana sering mengatakan kalau Melvin itu adalah cerminannya tapi Aidan tak merasa seperti itu.

"Yasudah terserah kau! Ku harap kau betah disini ya nak" ucap Aidan seraya melangkah meninggalkan kamar putranya.

***

Gracia nampak sibuk menyusun pakaiannya kedalam lemari yang ada di kamar asramanya. Sesekali ia melirik dan mencibir kelakuan teman sekamarnya itu, ia heran harus mulai dari mana untuk membuat gadis bernama Vanessa Vanessa itu agar tidak betak tinggal bersamanya.

"Permisi" Gracia menoleh ke arah sumber suara, ternyata Vanessa itu yang membuka suara, Gracia mengangkat sebelah alisnya untuk meminta Vanessa melanjutkan kata-katanya. "Boleh aku memakai sebagian ruang yang ada dilemari ini? Aku butuh tempat untuk meletakan pakaian ku"

Mata Gracia tampak meneliti beberapa pakaian yang ada dikasur Vanessa, sepertinya tadi gadis itu menata bajunya dulu barulah ia masukan kedalam lemari, tidak seperti Gracia yang langsung memasukan baju-bajunya dari koper kedalam lemari.

"Silahkan, lemari ini memili dua pintu yang aku yakin satu pintu untuk ku dan satunya lagi untuk mu." Jawab Gracia sekenanya.

"Terimakasih" jawab Vanessa.

Setelah Vanessa rasa sudah mendapatkan izin dari Gracia ia pun duduk disamping Gracia yang masih sibuk berkutat dengan pakaian-pakaiannya. Vanessa mulai memasukan satu persatu bajunya kedama lemari.

Vanessa berdeham pelan untuk mendapatkan perhatian dari gadis disampingnya, ia rasa perlu berkenalan dengan gadis itu karena bagaimana pun gadis itu adalah teman sekamarnya.

"Ada apa?" Tanya Gracia tanpa menoleh ke arah Vanessa.

"Kita belum berkenalan"

"Apa itu perlu?"

The Devil Prince and MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang