Zona Nyaman

3.7K 396 34
                                        

Aku berteman dengan Barto sejak kecil. Rumah kami bertetangga. Barto tidak tinggi, dia sedang-sedang saja. Dan tubuhnya agak gempal. Wajahnya pun biasa-biasa saja, bahkan pasaran. Sederhananya, dia terlihat mirip karakter Ned dalam film Spiderman Homecoming, tapi dengan berat badan yang lebih proporsional.

Dan karena Barto sangat akrab denganku, tentu saja dia juga menyandang predikat "kutu buku". Barto pengagum berat Android 17.

Satu hal yang istimewa dari Barto adalah, dia sosok yang optimis. Dia selalu yakin dengan potensi dirinya. Dia selalu mencoba menembus batas-batas yang kuanggap tidak mungkin untuk dilakukan. Aku bahkan sering mengejeknya untuk hal itu, tapi kemudian akhirnya aku yang harus meringis malu karena Barto adalah makhluk paling ulet yang pernah kukenal.

Misalnya ketika dia mencoba belajar bermain gitar untuk mengisi waktu liburan. Waktu itu aku hanya tertawa dan berkomentar bahwa mereka yang menjadi gitaris harus punya jari tangan yang kurus dan panjang-panjang. Lagipula suaranya fals minta ampun. Tapi Barto tidak menggubrisku. Selang dua pekan kemudian, dia datang padaku dengan sebuah gitar, dan langsung membawakan lagu Patience dengan teknik akustik yang tidak bisa dibilang jelek. Aku terpana.

"Pikiranmu terlalu sempit, No. Kalau memang tidak ada gitaris yang bertubuh gendut, maka aku akan jadi yang pertama untuk itu." Ujarnya.

"Suara dan jari tangan adalah dua hal yang berbeda. Makanya ada vokalis, ada gitaris." Sambungnya.

Aku terdiam. Sejak saat itu, aku tidak lagi banyak berkomentar setiap kali Barto mencoba hal baru.

Selain bersikap optimis, Barto selalu adaptif di saat-saat kritis. Jika aku sedang dirundung masalah, Barto akan datang dengan komentar-komentar bara api yang siap membakar semangat. Dan sekarang, dia sedang mencoba memanas-manasiku untuk menembak Firhani.

"Ini kesempatan terakhirmu."

"Take it."

"Apakah ada jaminan kalian bertemu lagi setelah kelulusan? Tidak. Kalian akan sibuk dengan dunia masing-masing. Kau akan kuliah, dia juga akan kuliah, entah di mana. Jangan sampai kau menyesal seumur hidup. Mungkin saja kalian akan bertemu kembali, tapi saat reuni nanti, sambil membawa pasangan masing-masing."

Satu kenyataan yang pahit.

"Kau dengan istrimu, Firhani dengan suaminya. Dan saat itu kau hanya bisa meratap dalam hati, seandainya saja dulu aku berani mengatakannya .... , "

"Entahlah. Tapi rasanya sangat berat. Aku .... , "

Barto berdecak,

"Ayolah. Jangan jadi pengecut."

Aku mencoba membela diri, "Kutu buku menembak bintang sekolah. Coba sebutkan satu alasan mengapa hal ini bisa berjalan dengan baik?"

Barto mendekatiku sambil berbisik,

"Kau harus berani keluar dari zona nyaman. Ambil resiko. Terkadang kita harus melawan arus. Bukankah akhirnya Bill Gates memilih meninggalkan Harvard untuk fokus membangun Microsoft? That's it, Man. Seandainya saja Bill Gates waktu itu lebih sibuk dengan kuliah normalnya, mungkin sampai saat ini kita belum mengenal game Battle Realms dan hidup primitif."

Motovasi Barto hebat juga. Tapi apa hubungannya Bill Gates dengan masalahku?

"Kau akan dikenang. Pria kutu buku yang  berhasil memenangkan hati gadis idaman satu sekolah."

"Itu kalau sukses. Kalau gagal?"

"Aku belum kepikiran sampai di situ."

"Ini kompetisi, To. Sainganku sangat banyak. Dan mereka hebat-hebat. Aku? Aku bukan siapa-siapa. Aku mencoba realistis."

Barto berdehem, "Oke, oke. Kalau kau tidak mau, biar aku saja."

"Maksudmu?"

"Jangan berpikir hanya kau yang suka Firhani. Aku juga mengaguminya. Dan rasa-rasanya, aku punya peluang untuk memenangkannya. Karena aku punya sederet strategi untuk--"

"Oke, oke! Akan kulakukan!" Cepat-cepat aku memotong kalimat Barto.

Barto tersenyum. "Yes. Jadi kapan kau akan melakukannya? Besok pagi?"

"Kau bercanda? Butuh persiapan mental yang matang untuk hal-hal semacam ini."

"Baiklah. Bagaimana kalau hari Rabu?"

"Itu jadwal piketku. Aku tidak ingin terlihat buruk di depan Firhani."

"Kamis?"

"Aku agak tidak sreg dengan hari itu."

"Jum'at mungkin?"

"Yang bertugas hari itu Pak Angkata. Aku tidak ingin membuat masalah dengan  beliau."

"Berarti Senin."

"Berarti waktuku satu pekan."

"Ya."

"Untuk persiapan."

[30] Hari Untuk CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang