Ceritanya Epilog

3.4K 418 57
                                        

Di suatu sore yang cerah.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

“Hai. Kabarmu baik, kan?”

“Alhamduillah. Sehat. Kamu?”

“Ya, baik. Alhamdulillah. Emm …. , terima kasih, sudah mau bersedia membantu. Ini ada sedikit hadiah untukmu.”

“Maaf, aku tidak terbiasa menerima amplop.”

“Oh, aku minta maaf.”

“Kecuali yang ada isinya.”

“Duh. Kamu masih suka bercanda, ya. Ini, deh.”

“Tidak. Aku tetap menolak. Ini serius. Aku tahu, kalian panitia kekurangan dana. Aku tidak mungkin bisa menerimanya. Sebaiknya disimpan saja.”

“Oh …. ,  makasih, deh. Kamu memang pengertian.”

“Tentu saja. Tapi ngomong-ngomong, kau mengundangku sebagai qari di acara itu, rasanya …. , agak tidak tepat. Gengsiku jadi turun, tahu. Harusnya kan aku diundang jadi juri.”

“Ya ampun, sepupuku ini narsisnya masih tinggi, toh.”

“Iya. Dan ingat, karena kita sepupu, berarti aku halal menikahimu. Tunggu saja. Kau masih masuk daftar kandidat calon istriku.”

“Apaan, sih. Aku mana pantas dengan kamu. Kamu itu cocoknya dengan Akhawat hafidzhah. Bukannya mereka banyak di pesantrenmu??”

“Memang, sih. Tapi yah, kau kan bisa jadi alternatif.”

“Aku tidak mau jadi pilihan kedua.”

“Terserah. Oh, iya. Sudah, kan? Kau tidak ada perlu lagi denganku, kan? Aku sibuk, tahu. Lagipula terlalu banyak bicara dengan bukan mahram, rasanya …. , agak canggung. Aku tidak terbiasa. Aku pergi, ya.”

“Oh, iya. Maaf.”

Bye, Firhani.”

Pria itu melangkah pergi.

“Eh, Nandar!”

Pria itu menoleh,

“Apa?”

“Emm …. , aku boleh tanya sesuatu, nggak?”

“Oh, apa itu?”

“Emm …. , kira-kira, Nino lanjut kuliah di mana, ya?”

[30] Hari Untuk CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang